12/30/2014

Sils Maria

Seperti yang sudah saya janjikan sebelumnya, inilah resensi film Sils Maria yang saya tonton saat Festival Sinema Prancis 2014 di Beachwalk XXI.

Film ini mengisahkan aktris kawakan Maria Enders yang mendapatkan peran dalam sebuah pementasan teater - kisah yang sama yang mengangkat namanya dulu, hanya saja kini dia mendapatkan peran yang berbeda. Film ini juga mengisahkan bumbu-bumbu dalam kehidupannya - perceraian, hubungannya dengan sang asisten Valentine, perkumpulan antara sesama kaum seniman, dll. - berlatarbelakangkan pegunungan Swiss.

Anehnya, walaupun film ini mendapatkan pendanaan dari lembaga-lembaga di Swiss frankofon (alias Swiss barat) tidak satu pun lokasi di Swiss frankofon digunakan untuk pengambilan gambar. Justru kita diajak bertualang melihat Graubünden yang terletak di ujung timur negeri dengan 26 kanton itu. Mungkin kenihilan itu disubstitusi dengan dialog minim dalam bahasa Prancis?

Dialog-dialog dalam film ini juga kebanyakannya menggunakan bahasa Inggris. Ini dan keikutsertaan bintang-bintang tenar* macam Kristen Stewart dan Chloe Grace Moretz sebenarnya adalah taktik perfilman Eropa dalam membendung pengaruh Hollywood di benua tersebut. Dengan menggunakan bahasa Inggris, terjadi pemburaman identitas kebangsaan oleh para pemerannya. Hal serupa juga dilakukan oleh Night Train to Lisbon dan La migliore offerta yang dua-duanya juga sudah pernah saya tonton. Saya sendiri kecewa bahwa perfilman Eropa harus menggunakan siasat-siasat seperti ini.

Saya merasa bahwa para seniman dalam film ini seolah-olah hidup dalam gelembung mereka sendiri. Seolah-olah tak ada dunia lain selain dunia mereka. Mereka membuat sensasi hanya untuk kaum mereka sendiri. Seolah-olah publik dilupakan, tidak ada dinding keempat.

Saya juga merasa adegan dalam kereta dalam film ini (dan juga dalam Night Train to Lisbon) terasa janggal. Saya tidak mengatakan bahwa naskah yang ditulis buruk, hanya saja detil keretanya terasa janggal. Gerbong siapa yang digunakan dalam film ini? Jelas bukan SBB, SNCF atau Trenitalia. Lalu DB ataukah ÖBB? Dari stasiun manakah mereka melakukan perjalanan? Liberalisasi perkeretaapian masih dua tahun lagi, bukan? Begitu pula dengan adegan dalam taksi di Zurich. Kota-kota besar Swiss relatif kecil jika dibandingkan dengan kota-kota besar Eropa lainnya tapi perjalanan dalam taksi terasa lama.

Mungkin pengalaman tinggal di Swiss membuat saya lebih waspada akan hal-hal kecil seperti ini. Jujur, berjalan kaki menyusuri kota-kota utama Swiss terkadang bisa lebih cepat daripada menggunakan kendaraan umum atau kendaraan pribadi.

Film yang sangat kontemporer Eropa. Saya kurang tahu apakah ada penempatan produk dalam film ini, namun yang pasti produk-produk Migros dan Co-op, dua pasar swalayan utama Swiss, dapat saya lihat dengan sangat jelas.

Saya memberikan film ini 7 bintang di IMDb.

*Status para pemeran yang saya masukkan dalam kategori ini dapat diperdebatkan

Perkotaan dan Pejalan Kaki (1)

Pengerjaan trotoar di Surabaya
Negeri ini bukanlah negeri yang ramah terhadap pejalan kaki. Trotoar yang ada di kebanyakan kota-kota di Indonesia adalah sisa-sisa pembangunan Orde Baru. Banyak yang rusak dan tak diperbarui. Mungkin ada pemikiran untuk apa diperbaiki toh penggunanya nyaris tidak ada?

Jika Anda membaca blog ini dengan saksama, Anda mungkin tahu bahwa beberapa saat yang lalu saya menghabiskan waktu di Surabaya. Selama di kota tersebut saya memperhatikan pengerjaan trotoar, baik itu perbaikan trotoar yang sudah rusak maupun pembuatan trotoar baru (alias penutupan selokan).

Masyarakat urban Indonesia bukanlah masyarakat pejalan kaki. Mereka adalah masyarakat pengguna kendaraan pribadi. Trotoar rusak hanya diangkat melalui surat pembaca di surat kabar. Tidak ada demonstrasi menuntut perbaikan trotoar dan mungkin pemanusiawian trotoar (dalam artian dibuat ramah terhadap kaum difabel, mereka yang memiliki kesulitan berjalan akibat faktor penyakit maupun usia, dsb.). Trotoar selama ini hanya dianggap sebagai hiasan tanpa kegunaan.

Pernah saya berjalan di atas trotoar Jalan Hang Tuah, Denpasar. Trotoar tersebut sudah tak layak pakai dan rawan jebol. Sering saya berjalan di atas batu pembatas yang fondasinya lebih kokoh. Di jalan yang sama pula, ada penyalahgunaan trotoar oleh perajin kayu (yang saya sangat yakin usahanya tak terdaftar di Perpajakan dan pemiliknya tak punya NPWP) untuk pengerjaan pesanannya sehingga menghalangi trotoar. Tolonglah, ketidakmampuan Anda untuk mencari lokasi bengkel yang lebih layak lalu pejalan kaki dijadikan tumbal?

Masih di jalan yang sama, pernah seorang bule berjalan keluar dari sebuah gang. Sepeda motor dengan seorang penumpang berhenti. Mereka hendak menawarkan jasa ojek terhadap si bule. Apakah berjalan kaki adalah tindakan yang salah sehingga ianya dianggap sebagai kegiatan yang aneh dan pelakunya perlu diusik? Hal ini juga pernah saya alami sebelumnya saat meninggalkan Bentara Budaya Bali menuju By Pass Ngurah Rai dengan berjalan kaki (dan tidak hanya terjadi sekali).

Persimpangan antara Jalan Hang Tuah dan By Pass Ngurah Rai juga kerap dilewati wisatawan mancanegara dengan berjalan kaki. Saya yakin banyak dari mereka yang terkesima melihat betapa bobroknya trotoar di kawasan wisata utama negeri ini dan di saat bersamaan negeri ini mengalami pertumbuhan ekonomi. Negeri yang kelimpahan uang tak mampu memberikan trotoar yang layak? Di mana logikanya? Jelaskan pada saya.

Pengerjaan trotoar yang sudah selesai di Surabaya
Jika Anda perhatikan tata kota Anda (tentunya jika Anda berdomisili di Indonesia), Anda pasti sadar bahwa kebanyakan bangunan-bangunan di Indonesia sebenarnya sangat mempedulikan tempat parkir bagi pengunjungnya namun mengabaikan pintu masuk yang layak bagi pejalan kaki. Kalau ada trotoar, biasanya hanya sebagai hiasan tanpa ada pintu masuk khusus pejalan kaki untuk masuk bangunan tersebut (contohnya pusat perbelanjaan). Bangunan-bangunan yang mengutamakan pejalan kaki biasanya dibangun pada masa kolonial.

Mungkin tidak berkaitan langsung tapi apakah Anda merasa puas dengan kinerja para atlet kita dalam pentas-pentas semacam SEA Games, Asian Games, dan Olimpiade? Trotoar yang layak mengizinkan penggunanya untuk lebih leluasa berolahraga (terutama jogging dan lari). Sayangnya fasilitas yang layak saja tak ada. Olahraga pun terpaksa harus dilakukan di lapangan kota dan fasilitas-fasilitas olahraga (yang saya yakin berbayar). Ketika berolahraga saja harus dipaksa untuk membayar, bagaimana kita bisa mencetak atlet-atlet yang dapat mengharumkan nama bangsa?

Lalu jika suatu senja Anda tersadar bahwa makanan di rumah Anda habis atau camilan untuk waktu keluarga kosong dan Anda hendak pergi ke pasar swalayan mini terdekat yang mungkin saja jaraknya hanya 200 meter, apakah Anda ke sana dengan a) berjalan kaki, b) naik sepeda atau c) naik sepeda motor? Paling-paling jawaban Anda adalah c). Dua ribu rupiah melayang untuk membayar tukang parkir yang pastinya tidak memberikan karcis parkir. Jangan anggap dua ribu rupiah sepele. Akumulasikan! Jika dalam seminggu Anda pergi ke pasar swalayan di dekat rumah Anda 2-3 kali, kalikan 52 (dengan asumsi Anda tidak pergi keluar kota sama sekali dalam setahun). Belum lagi kemungkinan uang Anda tidak masuk kas daerah. Bagaimana dengan uang bensin? Masih mau protes atas kenaikan harga BBM jika gaya hidup Anda sendiri yang amburadul? Dengan berjalan kaki, Anda justru melatih otot kaki Anda, berpeluh, dan mungkin menghilangkan lemak dalam tubuh. Ataukah Anda tinggal di daerah dengan tingkat kriminalitas yang sangat tinggi sehingga Anda akan dirampok saat berjalan kaki? Itu berarti sistem ronda di daerah Anda yang buruk.

Tulisan ini belum selesai ...

12/22/2014

Bioskop

Beachwalk XXI bermenit-menit sebelum pemutaran Sils Maria
Jika Anda membaca blog ini secara keseluruhan, Anda mungkin tahu bahwa saya pernah menjadi sukarelawan pada Brisbane International Film Festival (BIFF) saat saya masih tinggal di sana. Tugas saya hanyalah memeriksa karcis dan mengantar penonton ke ruang teater yang tepat, memberikan formulir penilaian penonton (atas film yang hendak ditonton), menonton film saat film sudah dimulai, mengambil kembali formulir dan menghitung skor yang diberikan, serta membersihkan ruangan yang baru saja dipakai untuk menonton. Sesekali para sukarelawan akan terlibat bincang-bincang kecil (yang terkadang diharapkan bisa berubah menjadi perbincangan besar yang dapat mengubah alur kehidupan si sukarelawan). Terkadang pula menawarkan segelas sampanye kepada tetamu pemutaran film khusus. Saya tidak menuangkan sampanye ke dalam gelas si tetamu karena pemberian alkohol di tempat-tempat umum di Australia sangat diregulasi. Kelihatannya banyak tugas tapi sebetulnya sangat santai dan saya sangat menikmati kegiatan-kegiatan tersebut (walaupun hanya dibayar karcis untuk pemutaran film lain).

Jika Anda membaca blog ini secara keseluruhan, Anda mungkin juga tahu bahwa saya mendapatkan karcis gratis untuk menonton pemutaran film Sils Maria sebagai rangkaian dari Festival Sinema Prancis 2014 di Beachwalk XXI. Bioskop di Bali tergolong kecil dan sedikit. Hanya ada dua bioskop utama yakni Galeria dan Beachwalk yang mana keduanya dikelola oleh XXI. Masing-masing tempat hanya memiliki dua teater. Alhasil, pilihan film untuk ditonton oleh masyarakat Bali (selatan) pun terbatas mengingat terbatasnya tempat dan waktu. Oleh karena itulah jika ada kesempatan menonton film-film yang agak non-mainstream di Bali, saya selalu berusaha untuk hadir.

Saya pecinta world movies. Saya sudah pernah menonton film-film yang dilahirkan oleh para sineas yang berasal dari lebih dari 60 negara dan terus bertambah. Mengapa saya mencintainya? Karena saya haus akan cerita dan sudut pandang. Cinta saya mengalami masa keemasan saat saya masih berada di Brisbane dan saat ini mengalami pasang surut akibat keterbatasan yang ada. Sumber-sumber tak resmi semacam Torrent bisa saja saya gunakan namun kepuasan menonton itu tak sama. Saya justru membuat dosa akibat mengunduh secara haram - kecuali tiba-tiba ada pembentukan Partai Pembajakan yang mendukung kelonggaran penggunaan hak cipta di negeri ini (frase ini tidak serta-merta menyatakan bahwa saya mendukung aliran politik tersebut).

Kembali ke akar pembahasan, bioskop. Saat saya hendak masuk ke dalam ruang teater untuk menonton film Sils Maria, saya memperhatikan ada tiga orang mengawasi pintu masuk ruangan. Hanya seorang yang memeriksa karcis. Usai pemutaran pun, saya perhatikan tiga orang tadi mengucapkan terima kasih kepada para hadirin. Lima orang pegawai lain yang belum pernah saya lihat sebelumnya berada di dalam ruangan bersiap-siap membersihkan. Yang menjadi pertanyaan saya, apakah multitasking begitu susah untuk dilakukan sehingga perlu pegawai yang berbeda untuk memeriksa karcis dan membersihkan ruang teater usai pemutaran. Saya masih hidup dan tidak mati walaupun sudah pernah menjadi sukarelawan BIFF yang saya yakin tugasnya lebih banyak dalam satu jam kerja dibandingkan pegawai bioskop di tempat saya menonton Sils Maria malam itu.

Sungguh ajaib (orang-orang) negeri ini.

Resensi film menyusul.

12/15/2014

Hiatus

Selama sepekan terakhir saya berada di Surabaya karena urusan keluarga. Sebenarnya saya punya akses internet terbatas selama di sana sehingga saya tak menulis pos baru. Saya baru saja kembali di Denpasar dan besok saya akan pergi untuk liburan akhir tahun selama seminggu. Dengan ini saya ingin mengumumkan bahwa blog ini akan berada dalam hiatus selama beberapa waktu ke depan.

Saya pastikan saya akan kembali sesegera mungkin dan menulis resensi film Sils Maria serta beberapa pos lain yang saya harap dapat memutar otak Anda sehingga Anda benar-benar berpikir (dan bukan berpikir secara dangkal).

Selain itu, ...


























... saya telah resmi menyelesaikan empat MOOC - Film & Televisi Skandinavia (pasca-revisi), Perencanaan & Perancangan Sistem & Teknologi Sanitasi (dari EPFL - kampus mereka hanya bersebelahan dengan UNIL, universitas di mana saya mengikuti program pertukaran selama satu semester), Buku Komik & Novel Grafik (dari Universitas Colorado - Boulder dan System), dan Membayangkan Tokyo Pasca Perang Bagian I (dari Universitas Tokyo) - dengan nilai memuaskan dalam beberapa pekan terakhir. MOOC dari Universitas Tokyo ini adalah MOOC pertama yang berhasil saya selesaikan melalui platform edX.

Saat ini saya juga tengah bingung bagaimana saya bisa menyelesaikan MOOC lainnya dengan keterbatasan internet dan waktu selama beberapa hari ke depan. Ya, internet di kediaman saya rusak lagi.

Jujur saja, saya rasa saya tidak berhak mendapatkan liburan yang terlalu banyak selama 2014 - it's been a staycation year for me. Terlalu banyak berlibur tidaklah bagus untuk kesehatan saya. Semua kesempatan berpelesir selama tahun ini hanyalah aji mumpung (tapi saya tidak akan menjelaskan konteksnya lebih dalam lagi).

Nevertheless, ... bonne vacance.

12/04/2014

Tenggat: 14 Oktober

Courtesy: VTM
Saat ini saya sedang menyaksikan seri televisi Belgia Deadline 14/10 yang saya dapatkan melalui sumber tak resmi akibat buruknya pilihan hiburan yang tersedia di negeri ini.

Deadline 14/10 terdiri atas delapan episode x 45 menit dan disiarkan secara perdana pada tahun 2012. Seri ini mengisahkan seorang wartawan yang baru saja memulai karier barunya di Antwerp. Pada hari pertamanya bekerja, seorang gadis berusia 14 tahun hilang dan pihak kepolisian tak serius menangani kasus tersebut. Di saat yang bersamaan, kota Antwerp sedang berada dalam masa kampanye pemilu. Isu hilangnya gadis tersebut pun menjadi komoditas politik. Entah mengapa jalan cerita ini mengingatkan saya pada musim pertama dari seri televisi Denmark Forbrydelsen.

Deadline 14/10 juga menggambarkan kehidupan modern dengan sangat realistis - perceraian, kriminalitas kota besar, pengaturan waktu antara kehidupan pribadi dan kerja, persaingan kerja, fanatisme remaja, jurnalisme sensasional, dll.

Seri ini diproduksi atas kerja sama antara stasiun TV kabel Belgia VTM dan stasiun TV lokal Antwerp ATV beserta koran Gazet van Antwerpen. Lihatlah betapa stasiun TV lokal sukses membuat seri televisi sekaliber begini dan kita di Indonesia gagal akibat pola siaran yang terlalu sentris pada apa yang ada di Jakarta.

Deadline 25/5 adalah kesinambungan dari Deadline 14/10 namun berhubung saya belum selesai menonton 14/10, 25/5 masih jauh api dari panggang.

Utara

Pagi ini saya membaca sebuah artikel opini yang dimuat oleh harian Straits Times Singapura melalui PressDisplay. Artikel ini membahas potensi pertumbuhan ekonomi Asia Tenggara dan bagaimana mengakalinya.

Sayangnya, saya kurang suka dengan pemilihan kata si penulis.

north of 7 per cent next year

Sekilas tidak ada yang kelihatan salah? Saya benci penggunaan kata utara untuk mengkonotasikan hal positif dan selatan untuk hal negatif. Ini semua tergantung perspektif. Kebanyakan orang dibesarkan dengan melihat sisi utara pada peta di bagian atas sehingga kita terbuai bahwa utara adalah kebaikan. Pernahkah kita diajari bahwa Pulau Rote berada di bagian atas peta sementara Pulau Sebatik di bagian bawah walaupun sebenarnya tidak ada yang salah jika peta itu dibalik?

11/30/2014

Kilas Balik: Bunga dari Angkasa

Sehubungan dengan perhelatan Brisbane Asia Pacific Film Festival (BAPFF) yang pertama saat ini, saya akan membawa Anda dalam sebuah kilas balik pemutaran-pemutaran film Asia Pasifik yang ditayangkan di Australian Cinémathèque akhir tahun lalu sebagai bagian dari rangkaian pemutaran film nominasi Asia Pacific Screen Awards - cikal bakal matinya Brisbane International Film Festival (BIFF)? Sebagai mantan sukarelawan BIFF (yang kini telah almarhum) selama tiga tahun dan walaupun sudah tak lagi menetap di sana, saya merasa agak kecewa dengan penggantian BIFF yang cakupannya lebih luas menjadi BAPFF.

Dr Malani Fonseka di podium memberikan pidato pembukaan (01/12/2013)
Akasa Kusum (Flowers of the Sky) mengisahkan seorang mantan bintang film papan atas Sri Lanka, Rani (Malani Fonseka), yang sudah tak lagi terkenal. Dia tinggal jauh dari kawasan perkotaan dan menyewakan kamar di kediamannya untuk seorang artis muda yang sedang naik daun bercumbu. Berkat hubungannya dengan si artis muda, Rani berkesempatan untuk diwawancarai oleh sebuah stasiun TV mengenai kariernya. Tayangan tersebut ditonton oleh seorang wanita muda yang kemudian mengaku sebagai putri Rani.

Awalnya Rani menafikan pengakuan wanita muda tersebut. Di saat yang sama berkat paparannya di televisi, dia berkesempatan untuk kembali ke dunia pemeranan. Rani bermain di sinetron yang sama dengan si artis muda yang naik daun itu. Namun pada akhirnya Rani tak bisa memungkiri kenyataan akan masa lalu yang disembunyikannya. Dia memutuskan untuk menghentikan karier barunya dan menjalin hubungan dengan putri kandungnya, seorang ODHA. Sayang, nasib berkata lain.

Film ini adalah film arthouse dengan twist sub-benua India. Saat menonton ada kesan-kesan yang akan mengingatkan film arthouse Eropa. Dr Malani Fonseka, yang juga merupakan anggota DPR Sri Lanka, mengatakan bahwa genre film ini masih cukup langka di negerinya yang masih memuja-muja Bollywood (tidak dalam artian menggilai tapi sangat dipengaruhi). Penutup dalam film ini juga memiliki open ending yang mana bisa saja ada banyak kemungkinan bagaimana Rani berhadapan dengan putri kandung yang dia jauhi selama ini akibat paksaan ekonomi. Putri kandungnya mati akibat penyakit yang dideritanya? Ataukah putri kandungnya sebetulnya masih hidup dan masih marah akibat ditelantarkan oleh Rani? Tidak ada yang tahu.

Saya masih ingat saat saya keluar dari ruang pemutaran usai sesi pemutaran dan diskusi dua orang pria dari Kadin Queensland mendekati Dr Fonseka untuk menyatakan niat mereka melakukan bisnis di Sri Lanka. Pemutaran film sesudahnya, Oba Nathuwa, Oba Ekka (With You, Without You), saya rasa memiliki jalan cerita yang lebih berat.

Penghapusan

Dengan ini saya mengumumkan bahwa beberapa pos dari masa lampau blog ini akan saya hapus. Tujuannya adalah untuk mengurangi tulisan-tulisan yang terkesan tidak sejalan dengan arah ke mana blog ini akan saya bawa. Tenang saja, saya tidak sedang mengubah opini saya.

11/29/2014

Selamatkan Riverdale

Riverdale Rescue adalah sebuah permainan dari Archie Comics yang tersedia di platform iOS, Android, dan Windows. Permainan ini mengisahkan wali kota Riverdale melarikan diri dengan kas kota. Riverdale pun berubah menjadi kota yang bangkrut dan hancur. Segenap anggota masyarakat (yang tampil di Archie Comics) pun berniat untuk membangun kembali kota mereka.

Terdapat 25 level dalam permainan ini. Sebetulnya saya sudah mencapai level 17 sebelumnya namun karena proses pembaruan peranti lunak membuat saya mengulang kembali dari awal. Tidak apa-apa karena kota yang saya rancang sebelumnya tidak lebih baik dari saat Riverdale masih porak-poranda.

Saya menggunakan Windows untuk bermain dalam mode luring. Permainan ini mengandung unsur ekologi mengingat beberapa inventory merupakan panel surya, beragam macam pepohonan, dsj. Sebetulnya permainan ini juga mengajarkan kita tentang urban planning. Banyak bangunan yang saya pindahkan dari posisi asalnya karena saya kurang suka lokasi awalnya. Begitu pula dengan jalanan - beberapa jalanan saya ubah menjadi kawasan hijau sementara ada beberapa jalan yang seharusnya tidak ada tapi saya bangun untuk memudahkan mobilitas namun dengan mengedepankan privacy penghuni rumah (bedakan antara bangunan untuk fungsi umum dan fungsi pribadi!).

Saya ingin membangun sistem kanal untuk transportasi air namun keterbatasan permainan ini menghalangi niat saya. Bangunan-bangunan yang diharuskan menghadap arah tertentu serta ketiadaan opsi pembangunan jalur khusus pedestrian semakin membatasi kreativitas saya dalam membangun kembali kota ini.

Permainan ini dapat diunduh secara gratis di sini dan hanya versi Windows (untuk PC, kurang yakin dengan ponsel) dapat dimainkan secara luring.

11/27/2014

Festival Sinema Prancis

Kemarin saya memenangkan karcis untuk pemutaran film Sils Maria dari AF Bali melalui sebuah lomba di twitter. Film ini adalah bagian dari rangkaian Festival Sinema Prancis 2014. Tadi sore saya mengunjungi AF Bali untuk mengambil hadiahnya et voila!

Ça, c'est mon billet. J'ai obtenu juste un mais c'est suffisant pour maintenant. Et ouai ... il y a longtemps depuis la dernière fois que j'ai utilisé cette langue.

Et si vous aurez venir à cette événement (pas nécessairement à Bali, peut-être dans votre ville), vous pourrez y visiter pour l'info. Et je vais écrire une revue de ce film (en indonesien, bien sûr).

Ya, sangat mengesalkan menggunakan ortografi Prancis tanpa keyboard AZERTY.

11/21/2014

Siaran Lokal? - November 2014











Sebelumnya saya telah mengangkat isu krisis tayangan lokal di televisi nasional. Pagi ini saya terbangun sekitar pukul 3.20 pagi untuk mematikan pendingin udara di kamar saya dan tidak kembali terlelap. Saya menyalakan TV dan melihat berbagai stasiun TV nasional (kecuali Metro TV, RCTI, dan tvOne) yang menayangkan 'siaran lokal'. Berikut penelusuran saya:

ANTV
Gema Rohani Tayangan agama Hindu disiarkan dari set yang sangat ANTV

Global TV
<Judul tak diketahui> Tayangan petualangan tidak jelas dengan logo Global TV Denpasar - entah benar produksi lokal atau produksi nasional yang mengandung embel-embel Bali

Indosiar
<Judul tak diketahui> Tayangan agama Hindu dengan logo Indosiar Denpasar

MNC TV
Petualangan Panji Tayangan petualangan - saya duga hanya produksi nasional yang mengandung embel-embel Bali

SCTV
<Judul tak diketahui> Tayangan agama Islam - saya duga produksi lokal karena SCTV Denpasar memang memiliki studio

Trans TV
Pesona Bali Tayangan wisata produksi nasional yang membawa embel-embel Bali

Trans 7
<Judul tak diketahui> Tayangan semi-dokumenter yang biasanya tayang siang bolong di stasiun yang bersangkutan - saya duga produksi nasional yang membawa embel-embel Bali, perhatikan juga pada kolase di atas bahwa Trans 7 masih menggunakan logo lama

Beginikah siasat stasiun TV nasional mengakali kuota siaran lokal? Siaran nasional yang membawa embel-embel daerah siar? Jika saya perhatikan pada saat jeda iklan juga tidak mengandung produk-produk sponsor melainkan hanya promo tayangan stasiun yang bersangkutan.

Jauh lebih bermanfaat jika frekuensi tersebut digunakan untuk advertorial home shopping daripada tayangan-tayangan half-arsed begini.

Sementara itu di stasiun yang tidak menayangkan siaran lokal, ticker berita Metro TV tumben-tumbennya mengangkat bantuan keuangan untuk Serbia yang bertujuan untuk menggerakkan perekonomian negara tersebut. Saya tidak pernah melihat berita sekaliber begitu pada ticker tersebut pada jam tayang lain di saluran berita pertama di negeri ini.

11/20/2014

Korslet Telekomunikasi

Dua hari yang lalu listrik padam di rumah pada siang bolong selama hampir lima jam. Itu hari terakhir proyek renovasi rumah berjalan. Malamnya internet di rumah tiba-tiba tidak dapat tersambung padahal saya sedang meramban internet seperti biasa beberapa saat sebelumnya.

Keesokan paginya ada telepon berkali-kali dari seorang pria yang hendak melamar pekerjaan. Setelah ditelusuri, pria itu mengaku bahwa nomor yang hendak dia hubungi berawalan dengan 245 sementara daerah nomor telepon di daerah saya berawalan 239. Terjadi korslet komunikasi hingga petang. Telepon berdering tapi nomor yang dituju berbeda. Telepon berdering tapi tidak ada yang menelepon. Dering telepon pun aneh. Seolah-olah dering menandakan bahwa si penelepon sudah hendak mengakhiri usahanya mencoba menghubungi kami. Namun beberapa saat kemudian sebelum dering benar-benar nihil, telepon berdering layaknya ada penelepon yang hendak menghubungi kami.

Sore hari saya dan ibu saya membeli makan malam untuk dibawa pulang di rumah makan Jawa Timur yang sempat tutup selama lebih dari dua tahun. Padahal di pengumuman yang diberikan hanya akan libur hingga 17 Agustus 2012. Usut punya usut, ternyata keluarga yang mengelola rumah makan tersebut membangun rumah.

Rumah makan itu berseberangan dengan SPBU Pertamina di sisi timur. Di sisi selatan terdapat gardu Telkom. Gardu Telkom itu sedang diperbaiki oleh dua orang teknisi dan satu orang pekerja yang hanya melihat, tidak dapat saya katakan sebagai pengawas. Mungkinkah terjadi korslet telekomunikasi se-Renon yang mengakibatkan adanya perbaikan?

Pagi ini sudah tidak ada panggilan-panggilan aneh. Sehari sebelumnya ibu saya memang sudah menghubungi 147 yang layanannya agak diskriminatif berdasarkan geografi. Saya tidak akan menjelaskannya secara terperinci.

Hingga kini internet di rumah belum bisa digunakan. Di mana saya menulis ini tidaklah penting. Kalau Anda perlu tahu, saya tidak menggunakan ponsel dalam penulisan.

11/17/2014

Siaran Lokal? - Metro TV

Muatan lokal pada siaran televisi saat ini memang menjadi masalah. Pasalnya negara seluas Indonesia didikte oleh kepentingan-kepentingan Jakarta di layar kaca. Mulai dari siaran berita yang kebanyakan beritanya adalah berita dari ibu kota negara hingga variety show dan sinetron yang sangat sentris pada gaya hidup Jakarta. Siapa di Denpasar yang peduli penggusuran warga penghuni bantaran Sungai Ciliwung kecuali memang memiliki anggota keluarga atau kerabat yang tinggal di sana? Mau membentuk empati masyarakat? Di Bali juga banyak isu-isu yang bisa diangkat untuk membangun empati seperti reklamasi Teluk Benoa dan semakin merebaknya vila-vila menggusur lahan pertanian (yang mungkin malah membuat panas segelintir orang Jakarta karena kebanyakan dananya berasal dari sana). Apakah pernah diangkat di televisi nasional? Jika ya, apakah proporsi pemberitaannya cukup?

Siang tadi saya menonton Metro TV. Stasiun TV itu sedang menayangkan siaran lokal terbatas.


Bali Sepekan bukanlah tayangan berita biasa melainkan hanya kilas balik kejadian-kejadian di Bali tanpa pembawa acara dan hanya dengan voice over. Kebanyakan liputannya pun dibuat oleh Syaifulloh (sic?). Saya duga itu hanyalah liputan-liputan yang berhasil masuk siaran berita Metro TV secara nasional. Apakah di Bali memang sangat sedikit topik yang bisa diangkat sehingga apa yang terjadi di Bali bisa dikemas dalam sebuah tayangan yang durasinya tak sampai 60 menit? Tanpa pembahasan mendalam? Hanya laporan biasa layaknya berita yang bisa Anda temukan di newswire?

This is pathetic. Usai Bali Sepekan, inilah yang hadir di layar kaca.

















Siaran Percobaan.

Sudah berbulan-bulan video yang sama ditunjukkan. Saya sudah sering melihat mobil Metro TV (masih berplat B) berlalu-lalang di jalanan kota Denpasar.

Berbeda dengan kondisi di Jawa Timur di mana hampir semua stasiun TV nasional sudah menghasilkan tayangan lokal di luar jam orang tidur. Mungkin KPID Bali tidak segalak KPID Jawa Timur? Metro TV Jawa Timur juga sudah memiliki buletin berita harian yang normal, kalau tidak salah ingat tayang pada pukul 16.00 WIB.

Negara ini katanya bebas dan beragam tapi ada upaya homogenisasi budaya melalui televisi.

11/08/2014

Kamis ke-300

Ki-ka duduk: Happy Salma, Suciwati Munir, Nugie, dan Gung Alit
Tadi malam saya mengunjungi Taman Baca Kesiman di Jl. Sedap Malam No. 234, Denpasar untuk menghadiri pemutaran film pendek Kamis ke-300 yang dihadiri oleh sang sutradara Happy Salma, ibu Suciwati Munir dari Omah Munir, dan Nugie selaku pemeran dalam film pendek tersebut.

Film pendek ini merupakan kisah fiksi di balik aksi unjuk rasa di depan kompleks istana kepresidenan setiap hari Kamis menuntut kejelasan atas kasus-kasus pelanggaran HAM yang terjadi di Indonesia. Usai pemutaran diadakan sesi tanya jawab yang menampilkan tetamu serta Gung Alit dari Taman Baca Kesiman.

Happy Salma menjelaskan bahwa dia tertarik untuk membuat film ini setelah sebelumnya sempat diundang untuk membacakan puisi dalam aksi Kamisan. Dia merasa agak jenuh setelah diundang berkali-kali ke acara tersebut tanpa adanya kejelasan dari pemerintah. Dia lalu memutuskan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat atas aksi dan latar belakang aksi tersebut dengan membuat film. Dia menghubungi sang penulis naskah, Putu Wijaya, yang kala itu baru saja sembuh dari serangan stroke. Putu Wijaya mengejutkan Happy Salma dengan memberikan naskah yang sudah jadi hanya dua hari setelah ditanya. Ternyata istri Putu Wijaya yang mengetik sementara sang suami mendikte.

Happy Salma menyadari bahwa jalan cerita film ini mungkin agak dangkal bagi mereka yang sudah paham seluk-beluk isu HAM namun dia menegaskan bahwa tujuannya membuat film ini memang hanya untuk meningkatkan kesadaran dimulai dengan mengawali percakapan antar penonton mengenai isu-isu HAM. Apalagi berdasarkan penuturan ibu Suciwati kesadaran akan HAM di Indonesia, terutama di antara pemuda-pemudi, masih sangat rendah.

Nugie yang menjadi pemeran dalam film pendek ini mengaku bahwa dia hanya dijanjikan honor pulsa dari sang sutradara tapi dia ikhlas karena isu yang diangkat adalah isu yang penting. Bahkan dia rela diberi honor pulsa lagi jika Happy Salma berencana membuat film fitur yang mengangkat isu serupa. Nugie menjelaskan bahwa dia benci dengan istilah 'melawan lupa' karena yang akan diingat dari istilah itu adalah 'lupa'-nya. 'Lupa' apanya jika tahu saja tidak? Dia lebih setuju dengan istilah 'terus mengingat' karena ada kata 'ingat' dan beraura positif.

Gung Alit selaku salah satu pendiri Taman Baca Kesiman menggunakan kesempatan tersebut untuk mengangkat isu-isu HAM di Bali di antaranya kasus pembantaian massal pasca G30S yang menelan nyawa 80.000 manusia Bali yang sayangnya tidak pernah diangkat ke muka umum hingga kini. Beliau juga berpendapat bahwa hal ini sengaja dipendam. Orang Bali dipaksa tersenyum dan melupakan kesedihan mereka karena Bali adalah daerah pariwisata. Saya tidak akan melanjutkan pembahasan mengenai ucapan-ucapan beliau karena diskusi dalam tulisan ini bisa semakin ngalor-ngidul.

Seorang hadirin bertanya kepada Happy Salma mengenai pemilihan pemeran sang kakek yang tak lain dan tak bukan adalah pemeran Suharto dalam film propaganda Pengkhianatan G30S PKI, Amoroso Katamsi. Bagaimana rasanya mendapatkan watak sebagai orang yang ditindas Suharto setelah sebelumnya memerankan Suharto? Happy Salma mengaku bahwa dia kurang tahu tapi dia berjanji akan menanyakan pada yang bersangkutan jika berkesempatan.

Acara diakhiri dengan permainan musik yang dibawakan oleh Nugie dan moderator yang saya lupa namanya (dari grup Navicula).

Saya akan mengunggah beberapa percakapan selama sesi tanya jawab dalam waktu dekat (alias setelah saya tahu bagaimana caranya memasang Soundcloud untuk blog).

11/04/2014

Sineas Afrika

Sinema Afrika adalah hal yang hampir tidak dapat kita temukan di negeri ini. Sewaktu saya masih tinggal di Brisbane saja saya hanya pernah menonton film Mesir selama BIFF, film Tunisia/Prancis/Spanyol di sinematek, film Ethiopia/Jerman dan Eritrea/Jerman di SBS & SBS On Demand, dan sebuah DVD film Maroko/Prancis serta Afrika Selatan/Inggris. Benar-benar susah walaupun populasi keturunan Afrika yang meningkat di negeri jiran kita yang satu ini. Padahal populasi benua Afrika kurang lebih sama dengan populasi India!

Berbekal pengetahuan saya dalam bahasa Prancis (oui, je parle cette langue mais c'est pas excellent) dan keisengan 'menjarah' perpustakaan universitas, saya menemukan dua set DVD Cinéastes africains yang diedarkan oleh ARTE, saluran TV kebudayaan Prancis-Jerman. Saya belum sempat habis menonton semua filmnya namun saya ingat saya menonton sebuah film dari Burkina Faso yang berjudul Wend Kuuni.

Wend Kuuni mengisahkan seorang anak angkat yang ditemukan seorang pria dalam perjalanannya. Anak itu bisu namun dia dirawat baik oleh keluarga angkatnya. Suatu krisis terjadi pada keluarga angkatnya dan si anak tiba-tiba bisa berbicara.

Amat disayangkan bukan bahwa bahan-bahan seperti set DVD ini susah didapatkan?

11/03/2014

Emilia

Saya bukanlah penggemar makanan beku karena kebanyakannya mengandung natrium dalam kadar berlebihan. Namun terkadang saya terpaksa membelinya jika sedang malas memasak.

Saat saya masih menjadi anak kost, Pizza Mediterranea Emilia adalah salah satu favorit saya walaupun pizza beku ini harus diimpor jauh-jauh dari Italia. Saya lebih senang makanan yang berbahan lokal karena saya tahu saya menggerakkan perekonomian lokal.

Setahu saya Pizza Mediterranea Emilia tidak berbahan pengawet. Ianya juga bersayur-mayur yang beragam serta tidak memberikan saus pizza secara berlebihan. Walaupun demikian pizza yang saya beli ini terkadang masih saya modifikasi misalnya dengan tambahan jamur, zaitun, dan salami.

Salah seorang rekan kost saya pernah berkomentar bahwa pizza Emilia yang sudah saya hangatkan berpenampilan cukup menarik untuk kelas pizza beku. Bahkan ada rekan kost lainnya yang ikut-ikutan membeli pizza beku semenjak saya mulai membeli pizza Emilia.

Saya baru mengenal dan membeli pizza itu saat didiskon besar-besaran oleh pasar swalayan Coles yang kala itu mengadakan cuci gudang terhadap produk ini pada tahun 2013. Sebelumnya saya tidak pernah memakan makanan beku. Mengenai cuci gudang, saya sebenarnya kurang yakin apakah ada ketidaksepakatan antara pihak produsen dan pihak pasar swalayan. Yang jelas beberapa pekan setelah stok produk ini habis, Coles menyiasatinya dengan meletakkan pizza beku merk generik (alias home brand) yang rasanya sangat buruk (walaupun sudah dimodifikasi) dan berbahan pengawet.

Alhasil semenjak kejadian itu, saya tak pernah membeli pizza beku lagi. Kalau beli pun, saya membeli pizza beku yang dijual di IGA dekat tempat kost saya karena setidaknya di IGA saya tidak akan terpancing dengan harga miring pizza beku generik dengan rasa buruk itu.

Jika Anda penasaran dengan bahan-bahan yang digunakan Emilia.

10/31/2014

Paha Katak

Suatu senja dua minggu yang lalu saya mengunjungi sebuah pasar swalayan yang dulunya merupakan pasar swalayan grosir dari Belanda. Di mesin pendingin diselipkan potongan-potongan paha katak. Letaknya persis di sebelah tiram.

Siapa yang beli? Paling-paling rumah makan yang menawarkan swike di menu makanannya. Ada berapa banyak rumah makanan yang menawarkan hidangan tersebut di Bali selatan? Entah.

10/30/2014

Empat Musim dalam Setahun

Karena memotret dengan ponsel dilarang selama pertunjukan
Setelah beberapa minggu tak keluar rumah karena harus mengawasi proyek keluarga, kemarin akhirnya saya berkesempatan untuk menghirup udara luar untuk melihat sebuah pementasan wayang tangan oleh grup Budrugana Gagra asal Georgia di Bentara Budaya Bali. Di acara Facebook Bentara Budaya Bali, acara dijadwalkan dimulai pada pukul 18.00 tapi reklame di luar kompleks Kompas-Gramedia Bali tertulis pukul 19.00. Seperti biasa, acara molor selama hampir satu jam dan baru dimulai sekitar pukul 19.50.

Saya tiba sekitar pukul 17.50 disambut oleh para sukarelawan. Para pemeran masih melakukan persiapan dan akhirnya saya pun melihat-lihat lukisan-lukisan dalam pameran Asian Watercolour Expression II sembari menunggu dilanjutkan menjelajah internet melalui jaringan nirkabel gratis yang tersedia. Sekitar pukul 19.00, para hadirin yang sudah berada di dalam ruangan diminta untuk keluar karena akan ada 'permainan cahaya'. Kudapan berupa pastel dan dadar gulung serta kopi dan teh (yang rasanya sudah lebih baik daripada sebelumnya) disediakan untuk para hadirin.

Semakin malam, Bentara Budaya Bali semakin ramai dengan kehadiran anak-anak dari sebuah panti asuhan yang khusus datang untuk menyaksikan pertunjukan tersebut. Saya pun bertanya kepada salah seorang sukarelawan mengenai agenda bulan depan dan dijawab bahwa dia belum tahu. Anak-anak yang hadir bermain riang di halaman Bentara Budaya Bali menantikan pertunjukan dimulai. Saya melihat anggota kelompok Budrugana Gagra menyantap hidangan makan malam yang disajikan di bale lain di dalam kompleks Bentara Budaya Bali.

Saya mendengar percakapan dari pengurus Bentara Budaya Bali dengan orang yang saya duga pengurus kelompok Budrugana Gagra, orang Indonesia namun fasih berbahasa Georgia. Katanya si pengurus kelompok sebetulnya ingin pentas di empat kota yakni Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Bali (sebetulnya juga ini bukan kota). Keterbatasan dana memaksa si pengurus untuk menjadwal ulang rangkaian pementasan kelompok tersebut dan mencari sponsor. Sriwijaya Air berminat dan memang saya sempat bingung mengapa ada reklame maskapai penerbangan tersebut di dekat meja pendaftaran tamu Bentara Budaya Bali tadi malam. Mereka berhasil pentas di Teater Salihara, Jakarta dan harus hadir di Bali karena mereka akan melanjutkan perjalanan mereka ke Bangkok sesudah ini. Detil-detil lainnya tidak akan saya angkat.

Akhirnya, para hadirin dipersilakan masuk dan diminta untuk mengisi baris kursi depan terlebih dahulu. Acara dimulai dengan sambutan oleh seorang sukarelawan dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris serta beberapa informasi tambahan yang bisa dilihat pada slide PowerPoint. Saya agak kurang suka dengan tulisan-tulisan yang disediakan, misalnya Georgia - Eropa Timur dan Tbilisi, sebuah kota di Georgia. Secara budaya dan politik Georgia memang berada di Eropa tetapi secara geografis berada di perbatasan Eropa dan Asia. Begitu pula dengan Tbilisi yang sebenarnya merupakan ibu kota negara tersebut dan bukan hanya 'sebuah kota'.

Pertunjukan bertajuk The Four Seasons of the Year berdurasi 60 menit dimulai. Pertunjukan ini tanpa dialog dan diiringi dengan musik. Pertunjukan ini mengisahkan seekor beruang yang baru bangun tidur dan baru belajar mengenai alam di sekitarnya, perkenalannya dengan seekor burung dan bebek, dan pelajaran berenang. Karena sifatnya yang dua dimensi inilah guyonan-guyonan lahir.

Pada akhir pertunjukan, para hadirin dipersilakan untuk melihat dari balik layar serta belajar mengenai permainan tangan untuk dapat menghasilkan wayang. Fotonya dapat Anda lihat di sini. Di penghujung acara, sukarelawan yang sama pun mengumumkan bahwa hari ini akan diadakan lokakarya pada pukul 15.00 serta dilanjutkan dengan pertunjukan yang bertajuk Isn't This a Lovely Day. Rasa-rasanya sih saya akan berhalangan hadir nanti sore.

N.B.: Saya agak risih pada beberapa pengumuman tertulis yang tersedia. Mengapa? Karena 'dipersilahkan' dan 'pertunjukkan' jelas-jelas salah eja.

Pembaruan:

Usut punya usut di Facebook, ternyata mereka sempat tampil di Rumah Budaya Tembi, Yogyakarta sebelum hadir di Bali.

10/29/2014

Pembaruan: Coursera, Film & Televisi Skandinavia

Kemarin saya mendapatkan surel yang menyatakan bahwa saya telah lulus mata kuliah Scandinavian Film & Television dan with distinction. Saya periksa nilai saya dan ternyata saya mendapatkan 127,5 persen. Saya pun menulis di forum makul tersebut bahwa saya senang bisa mendapatkan distinction namun nilai di atas 100 persen rasanya kurang pantas. Hingga pos ini ditulis belum ada tanggapan yang diberikan oleh staf yang terlibat pada MOOC tersebut.

Usut punya usut, ada beberapa pelajar yang tidak melakukan salah satu komponen tugas yakni peer assessment dan tetap lulus bahkan juga dengan nilai distinction di atas 100 persen. Salah seorang pelajar menulis bahwa di salah satu MOOC lain yang pernah dia ikuti di mana dia juga mendapat nilai di atas 100 persen katanya nilai di atas 100 itu bisa tercapai jika si pelajar aktif di forum.

Agak berantakan memang dan jujur saja saya tidak menduga bahwa sebuah universitas ternama Denmark bisa melakukan stuff-ups sekaliber ini. Ya, plural karena pada saat tugas esai saja jumlah kata yang harus ditulis pada informasi yang diberikan bertolak belakang (katanya di bawah 800 tapi pada informasi lain di halaman yang berbeda tertulis sekitar 600 kata). Beberapa kuis juga memberikan pelajar nilai 5 dari 2. 250 persen? Saya juga pernah terlambat mengirimkan kuis dan sebagai konsekuensinya harus menerima bahwa saya hanya akan mendapatkan setengah dari nilai yang seharusnya saya dapatkan. Tapi dengan 127,5 persen, sepertinya nilai itu belum dipotong.

MOOC ini memang menarik tapi beberapa hal sepele seperti ini justru membuat beberapa pelajar merasa kurang nyaman.

10/27/2014

iPod

Hari ini saya mendapat kiriman lagi. Isinya iPod Shuffle 2GB. Tidak dijelaskan siapa pengirimnya tapi dugaan saya adalah pihak penyelenggara lomba foto #DestinationEurope2014.

Sudah saya kirimkan ucapan terima kasih kepada pihak penyelenggara melalui surel baru-baru ini.

Yakin mereka? Yakin sekali. Seingat saya, saya hanya memenangkan satu perlombaan lagi - diselenggarakan oleh Deutsche Welle English (lomba menebak kota dari pengumuman metro masing-masing kota). Hadiah yang ditawarkan mereka juga berupa pernak-pernik berlogo DW.

Seri Televisi Italia


Seri televisi Italia adalah salah satu seri televisi asing yang pernah saya tonton walaupun baru satu - Il Giovane Montalbano (judul SBS: The Young Montalbano). Dari penjelasan pada kalimat sebelumnya Anda mungkin bisa menebak di mana saya menontonnya. Seri yang saya tonton ini hanyalah spin-off dari Commissario Montalbano. Seri ini sendiri dibuat berdasarkan novel karya Andrea Camilleri

IGM hanyalah seri prosedural kepolisian biasa namun tokoh-tokohnya memiliki sentuhan Italia (jam karet, korup, suka bersantai). Montalbano muda yang sedang bercumbu. Ada juga Catarella, seorang opsir dengan pendengaran yang kurang baik. Saya masih ingat dia salah mendengar nama orang sehingga terjadi kebingungan. Nama orang tersebut didengarnya sebagai Algida Beneventano. Algida adalah merk dagang es krim Wall's di Italia.

Di Inggris, banyak yang bilang bahwa seri Montalbano hanyalah program wisata dengan selingan kasus kriminal. Saya kurang suka dengan pemilihan Michele Riondino karena saya merasa bahwa dia agak overrated. Patut diperhatikan juga pada saat saya menonton seri tersebut saya baru saja menonton dua film Italia (Dieci inverni dan Il passato è una terra straniera) yang memerankan aktor yang sama sehingga saya merasa agak jenuh.

Berbeda dengan seri TV Skandinavia yang gemar memuramkan gambar di layar kaca, seri TV Italia justru gemar menunjukkan sinar matahari Mediterania. Ya, bahkan di seri TV Italia suram klasik macam La piovra (baru berhasil menonton dua episode dari musim pertama).

Percobaan Kamera

Setelah lebih dari setahun tidak berponsel karena berbagai alasan, saya akhirnya berponsel lagi. Hidup saya toh bahagia-bahagia saja selama tak berponsel. Hanya saja karena urusan perbankan dan keluarga (dua-duanya terkait) memaksa saya untuk kembali berponsel.

Saya mencoba memotret menggunakan ponsel baru saya lalu disunting bertajuk beberapa buku yang tergeletak di kamar saya. Buku karya Mikhail Sholokhov (The Don Flows Home to the Sea), Ma Jian (Red Dust), dan Roberto Bolaño (2666) serta buku Le best of de la BD: Largo Winch adalah buku yang saya beli. Selebihnya gratis didapat melalui memenangkan lomba atau pemberian buku gratis di fakultas saya dulu. Biasanya masih ada satu buku lagi di antara tumpukan tersebut (Snow karya Orhan Pamuk) namun saya meletakkannya di tas sebagai bacaan selama perjalanan (dan hingga saat ini belum selesai dibaca). Di samping tumpukan itu ada kalendar tahun 2014 yang desainnya sangat aneh. Dapat gratis juga dari Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia.

Ya, mendapatkan benda-benda secara gratis atau melalui keterlibatan dalam lomba sudah menjadi kebiasaan sejak saya masih duduk di bangku SD dulu. Ya, saya juga ingin memulai hobi baru yakni membaca berbagai bacaan dari seluruh penjuru dunia akibat terinspirasi akan pencapaian Ann Morgan melalui proyek A year of reading the world-nya. Proyek saya agak gagal sih tapi saya ingin mengulanginya lagi dan lagi.

N.B.: Saya baru berhasil membaca dua buku yakni karya penulis Vietnam Duong Thu Huong yang pernah saya tulis resensinya di blog ini dan The House of Ulloa oleh Emilia Pardo Bazán. Membaca seri novel Kurt Wallander tidak saya anggap sebagai bagian dari hobi ini walaupun saya menganggap novel-novel lain karya Henning Mankell sebagai bagian dari proyek mercusuar ini. Saya juga sempat membaca sebagian novel karya penulis Albania Ismael Kadare (bagian dari gagal).

10/25/2014

Kesibukan Lain

Semenjak saya berhasil menyelesaikan MOOC Scandinavian Film & Television, saya terpacu untuk mengerjakan MOOC-MOOC lainnya. Oleh karena itu untuk sementara waktu blog ini akan menyepi. Tentu saya akan kembali sewaktu-waktu jika ada hal menarik yang patut diangkat.

10/17/2014

Reklame yang Terhalang

Suatu senja akhir pekan lalu saya berjalan di sekitar kawasan pemerintahan di Renon. Saya melihat adanya reklame yang mengajak para ibu untuk memberikan ASI kepada buah hati mereka, didampingi dengan gambar seorang ayah yang penuh perhatian. Begitulah orang tua masa kini seharusnya - kedua belah pihak harus berperan dalam mengembangkan anak mereka dan bukan salah satunya saja. Jika ada kakek atau nenek akan lebih baik lagi.

Ada dua hal yang ingin saya angkat. Pertama, saya sangat setuju dengan iklan layanan masyarakat mengenai ASI ini. Jadi, wahai ibu se-Indonesia, berikanlah ASI kepada anakmu hingga usia mereka menginjak 6 bulan dan perhatikanlah tumbuh kembang mereka. Jangan hanya mengandalkan susu bubuk.

Agak keluar dari topik tapi penting untuk diangkat. Saya sangat risih apabila melihat iklan di televisi yang berbunyi, "Anaknya pintar! Pasti minum susu mahal!" Seorang anak tumbuh berkepribadian karena pengaruh orang-orang di sekitar mereka. Jika tidak demikian, bersyukurlah anak itu karena dikelilingi oleh orang-orang yang ingin kehidupan si anak jauh lebih baik daripada orang dewasa di sekitarnya. Bukan karena minum susu mahal. Kalau hanya karena susu, lebih baik saya segera membuat anak lalu cekoki anak tersebut dengan susu tanpa perlu saya awasi karena toh anak tersebut akan tumbuh berkepribadian yang baik (menyindir).

Kedua, mengenai estetika peletakan poster. Poster diambil dari sudut miring. Wajah si nenek terhalang. Ada kabel listrik melintas pula memburamkan pesan di sisi atas reklame. Amat disayangkan. Belum lagi peletakan reklame di kawasan pemerintahan Renon dan bukan di jalan-jalan utama kota Denpasar. Saya harap pihak terkait melakukan penyuluhan ke banjar-banjar (berpikiran positif).

10/15/2014

hate

Merriam-Webster defines hate noun as a) intense hostility and aversion usually deriving from fear, anger, or sense of injury and b) extreme dislike or antipathy. The first definition involves the word fear which is rather interesting because let's say you hate someone because of his/her sexuality, do you get labelled as a homophobic? Homophobia is defined as irrational fear of or discrimination against homosexuality or homosexuals. That's a rather strong use for the word phobia.

I am suffering from alektorophobia - that is the fear of chickens - and yes, sometimes my fear is irrational whenever I'm around one but in that situation, do I discriminate against chicken or would I rather run away from that place? I would rather run away because of my fear and I couldn't do anything about it.

When you hate someone because of his/her skin colour, race, religion, sexuality, gender etc., is fear really running down your spine or are you simply being prejudiced? If someone from a different religion from you is hanging around your place, would you rather run away because of your fear like I would run away from chickens? Chances are you wouldn't.

Now imagine, I hate being surrounded by chickens and so I start a hate campaign against chickens. Would people take my advocacy seriously or would they look at me as if I were a weirdo? Hate speech takes place when you can't control your prejudices anymore and let yourself be a jerk (and/or weirdo).


Humans are supposed to be civilised creature. If there's something particular about someone that you don't feel comfortable about, discuss it in a civilised tone. Hate speech is never OK. You can change your attitude towards other people. So change it!

P.S.: I can't change my attitude towards chickens because I just can't talk to them (and they look scary anyway).

Eurovision 2015 - Tanpa Bulgaria & Kroasia Lagi


Mungkin Anda sudah bisa menebak bahwa jika terpengaruh dengan tayangan-tayangan televisi dari Eropa secara tidak langsung membuat saya juga terpapar pada sebuah produk kebudayaan televisual yang dapat dijelaskan sebagai sampah, queer namun di sisi lain menyatukan keberagaman dan dicintai banyak khalayak - Eurovision Song Contest (ESC). Saya tidak akan menjelaskan panjang lebar sejarah acara ini karena Anda bisa mencari tahu sendiri di Wikipedia. Ya, acara musik nggak jelas tapi menonjolkan keberagaman (dan terkadang unclassified) di mana puluhan negara Eropa dan yang berpura-pura Eropa (seperti Azerbaijan dan Israel) berkumpul biasanya di sebuah kota di negara yang memenangkan ESC pada tahun sebelumnya.

ESC adalah tayangan yang sangat televisual, acara ini tidak mungkin dibuat film. Kalau ada yang nekad membuat filmnya, pasti tidak akan sebagus versi televisi. Ya, televisi sebenarnya adalah obyek seni yang distinct dan bisa berdiri sendiri walaupun sering dianaktirikan oleh khalayak yang masih kerap menganggap bahwa film adalah seni dan televisi adalah perusak otak. Jujur saja, kalau Anda tidak cerdas memilih tayangan dan tidak membuat gerakan untuk meningkatkan mutu tayangan, jangan salahkan TV karena yang bermasalah sebenarnya adalah penyedia tayangan.

Et enfin, nous attribuons nos douze points pour ...

Pada ESC tahun ini, hanya tiga negara bekas Yugoslavia (Montenegro, Republik Makedonia, dan Slovenia) yang hadir. Bosnia & Herzegovina, Kroasia, dan Serbia absen. Bulgaria yang sebenarnya tidak satu geng tapi sekompleks juga idem. Tahun depan rencananya lembaga penyiaran publik (LPP) Serbia RTS akan kembali ikut serta. Begitu pula dengan BHRT Bosnia & Herzegovina yang telah absen selama dua tahun. Pada awalnya BNT Bulgaria menyatakan ketertarikan untuk kembali namun berhubung situasi politik yang tidak memungkinkan kejelasan anggaran untuk LPP tersebut, BNT memilih jalan aman dengan tidak ikut serta. Padahal tahun lalu sempat terjadi protes oleh salah satu anggota DPR Bulgaria yang menyatakan bahwa ESC adalah salah satu cara untuk meningkatkan kesadaran dunia, khususnya Eropa, tentang Bulgaria - negara yang selama ini dipandang sebelah mata dan dianggap miskin.

Kroasia memutuskan untuk kembali absen pada ESC 2015 di Wina, Austria walaupun HRT akan ikut serta pada acara saudara Junior ESC 2014 di Malta. BNT yang keuangannya ngos-ngosan juga akan hadir di JESC dengan bekerja bersama stasiun TV swasta BTV.

Secara musikal, saya lebih tertarik dengan lagu-lagu yang pernah mewakili Kroasia seperti Lijepa Tena (Tena yang Cantik - 2009), Lako je sve (Segalanya Mudah - 2010) dibandingkan dengan Bulgaria yang mana kebanyakan lagu yang mereka kirimkan terdengar seperti kecelakaan lalu lintas. Hanya Na Inat (entah bagaimana diterjemahkannya - 2011) yang cocok dengan selera saya (walaupun sayangnya gagal menuju babak Grand Final).

Bagaimanapun, andai kata ada LPP yang gagal mendapatkan pendanaan yang diperlukan (terutama RTCG Montenegro dan RTS Serbia) negara tersebut mungkin tidak akan hadir di ESC tahun depan. Saya punya firasat Ukraina akan kembali lagi tahun depan. Sementara mengenai Ceko dan Slowakia - Ceko (terakhir kali ikut serta pada tahun 2009) tidak pernah mengirimkan lagu yang pas dengan selera masyarakat mana pun kecuali negerinya sendiri; Slowakia (terakhir kali ikut serta pada tahun 2012) sudah terlalu sering dizalimi di ESC, biarkanlah dan wajar mereka ngambek.

10/14/2014

Closed Caption

Closed caption (CC) adalah transmisi teks pada televisi yang rasa-rasanya belum pernah saya lihat diterapkan di Indonesia. Saya kira teknologi yang digunakan cukup sama dengan teleteks. Namun berhubung teleteks terakhir yang pernah saya tangkap di Indonesia terjadi lebih dari 10 tahun yang lalu, ... ya sudahlah.

CC bertujuan untuk memudahkan mereka yang memiliki kesulitan pendengaran untuk mengerti apa yang sedang diperbincangkan di layar kaca. Di Australia, misalnya, ada aturan di mana setiap saluran utama stasiun televisi diharuskan untuk memberikan CC pada tayangan antara pukul 18 hingga tengah malam. Aturan itu secara progresif mulai diterapkan pada tayangan di luar jam tayang tersebut serta di saluran-saluran digital. Barang siapa gagal memenuhi tuntutan layanan publik tersebut akan diberikan sanksi oleh Australian Communication & Media Authority (ACMA - walaupun lembaga ini bernasib kurang lebih sama seperti KPI di Indonesia, hanya sekadar macan kertas tapi itu kisah lain).

Biasanya mereka yang bekerja membuat CC tersedia pada siaran langsung adalah lulusan ilmu jurnalisme terpilih yang memiliki kemampuan mengetik minimal 150 kata per menit (diutamakan tanpa kesalahan baik pengejaan maupun tata bahasa) dan berpendengaran baik. Walau bagaimanapun saat saya masih kuliah dulu dan menonton siaran 7 News Brisbane dengan menyalakan CC, saya membaca:

Thank you, Sharyn.

Padahal ibu Sharyn Ghidella sedang tidak bertugas membaca berita hari itu dan digantikan oleh Jillian Whiting. Bersyukur pembaca berita olahraga yang bertugas kala itu tidak mengucapkan apa yang tertulis di CC melainkan, "Thank you, Jillian," saat segmen berita beralih menuju berita olahraga. Walaupun saya juga pernah menyaksikan kejadian serupa dan pembaca berita olahraga asal membaca apa yang tertulis di layar (apa itu namanya yang pembaca berita gunakan supaya mereka bisa membaca dengan lancar tanpa mengalihkan pandangan dari kamera - yang tertulis terbalik namun terpantul refleksi?).

CC juga dapat digunakan oleh para pelajar bahasa asing yang menetap di mana bahasa yang hendak mereka pelajari itu digunakan secara luas. Di beberapa negara seperti Prancis dan Spanyol, logo CC bukanlah CC dalam kotak melainkan gambar telinga dengan garis diagonal di tengah-tengahnya (sama seperti gambar yang bisa Anda temukan pada alat bantu pendengaran).

Layanan ini sangat membantu apabila ada tayangan televisi yang hendak Anda tonton lewat tengah malam tapi Anda tidak mau mengusik kenyenyakan tidur orang-orang di rumah Anda atau tetangga. Tentu saja, bacalah jadwal acara TV terlebih dahulu. Mengapa? Di Australia, jadwal acara televisi harus mengumumkan klasifikasi apa yang acara tersebut dapatkan (G, PG, M, MA15, AV15 - acara berklasifikasi MA18 atau di atasnya tidak boleh tayang di televisi terrestrial), apakah acara tersebut mengandung CC atau tidak.

Di Amerika Serikat, misalnya, CC tersedia untuk lebih satu bahasa walaupun dialog pada acara tersebut belum tentu menggunakan bahasa lainnya. Hanya pada tayangan tertentu.

Jika diterapkan dengan tepat, selain mengurangi tingkat pengangguran lulusan ilmu jurnalisme di Indonesia serta meningkatkan budaya membaca, CC juga dapat digunakan untuk menyelamatkan bahasa daerah jika stasiun televisi yang bersangkutan bersedia menerjemahkan dialog pada suatu acara ke dalam bahasa daerah. Ini meningkatkan minat untuk mempelajari bahasa daerah, meningkatkan pendaftaran mahasiswa/i untuk program-program sastra daerah, dan menaikkan pamor bahasa daerah yang semakin tenggelam.

Yang saya bahas sebetulnya CC atau bahasa daerah?

Ralat: Perbaikan beberapa informasi yang dirasa malah menyesatkan pembaca

Enjera

Foto diambil pada saat Festival Pengungsi Brisbane, Juni 2012
Kalau menurut saya, ada satu jenis makanan yang belum tersedia secara luas di Indonesia. Restoran-restoran Korea, Jepang, Italia, dll. mungkin sudah menjamur di Indonesia tapi tidak dengan yang satu ini.

Tiga potong roti tipis yang rasanya sedikit asam tapi gurih, sejenis lauk daging seperti rendang namun berbau tomat, sayur dan kentang yang dimasak hingga kuahnya agak kering serta nasi. Yang baru saya jelaskan hanyalah sekelumit makanan khas Ethiopia dan Eritrea.

Saya merindukan masakan asing ini yang anehnya memiliki citarasa yang saya kenal. Restoran-restoran Ethiopia dan Eritrea sudah menjamur di Amerika Serikat, negara-negara Eropa barat, dan Australia. Saya yakin Indonesia harus berdialog dengan Afrika. Mungkin restoran Ethiopia/Eritrea adalah salah satu jalan pengenalannya.

Dan jika Anda masih membayangkan Ethiopia sebagai negara yang kekurangan pangan, ingatlah bahwa malnutrisi juga masih melanda negeri ini di tengah hingar-bingar pembukaan rumah makan baru di kota-kota besar negeri ini.

10/13/2014

Film & Televisi Skandinavia

Materi yang diberikan juga menggunakan arsip dari siaran televisi Swedia
Saya sudah cukup sering menonton film dan seri televisi dari Skandinavia walaupun tidak terlalu banyak dari negara-negara Nordik yang kerap dikira Skandinavia. Forbrydelsen, Bron/Broen, Livvagterne, Wallander, Äkta människor, dll. Bahkan saya pernah menulis resensi yang pernah saya angkat dalam sebuah pos lampau di blog ini.

Seri-seri Skandinavia cukup populer di Persatuan Kerajaan (UK) berkat slot Sabtu malam yang didedikasikan oleh BBC Four untuk drama-drama berbahasa asing. Belakangan BBC Four kehabisan stok dan mengisi slot tersebut dengan seri televisi Belgia, Salamander. Sementara More4, saluran digital dari Channel 4, sempat mengisi slot Jumat malam mereka dengan seri konspirasi Norwegia, Mammon, beberapa bulan lalu. Seri-seri Skandinavia ikut merambah Australia dan saya adalah salah satu korbannya (terima kasih banyak, SBS!). Sudahlah, malah jadi ngalor-ngidul.

Rupa-rupanya Universitas Kopenhagen (Københavns Universitet - KU) memanfaatkan popularitas seri-seri dan film-film dari Skandinavia melalui MOOC (massive open online course -kursus daring terbuka massal atau bagaimanalah peletakan DM yang tepat). KU (jangan dibaca kei-yu tapi kow-u) adalah salah satu universitas papan atas Eropa dan ini adalah penawaran kursus tersebut yang kedua (saya tidak sempat menyelesaikan kursus ini pada penawaran pertama) di Coursera.

Apa yang mau dibahas? Saya berhasil menyelesaikan kursus ini! Kursus ini dipandu oleh Prof. Ib Bondebjerg dan beberapa rekan kerjanya. Beberapa bahan bacaannya dapat diunduh secara gratis dengan mengikuti bapak dosen di Academia.edu. Masih banyak kekurangan di sana-sini tapi saya cukup puas dengan materi pelajaran yang diberikan. Saat ini nilai-nilainya melalui proses evaluasi dan jika tidak salah hitung, saya lulus (andai kata tidak tetap akan saya kabari di sini). Sebetulnya nilai peer assessments yang saya dapat berada di atas nilai self-assessment yang saya berikan pada esai saya.

Harapan saya: KU dan UvA (Universiteit van Amsterdam) berkolaborasi dalam mendirikan program Master di bidang Media Studies karena saya tahu dua universitas tersebut adalah dua universitas top Eropa di bidang ini, bidang yang juga saya dalami saat S1 dulu. Saya ingin ada program Erasmus+ atau Erasmus Mundus dari kedua universitas tersebut yang mengangkat bidang ini.

Pembaruan:

Trailer-trailer yang mungkin dapat sedikit menghapus rasa penasaran Anda (atau malah menambah rasa penasaran?)




Kastrup, Denmark, 14 Juni 2013
Saya berkesempatan mengikuti program pertukaran mahasiswa di Swiss selama satu semester pada tahun terakhir S1 saya. Selama di Eropa, saya menyempatkan diri untuk mengunjungi Denmark dan Swedia demi melihat Jembatan Øresund yang menghubungkan kedua negara sekaligus menjadi latar seri Bron/Broen. Ada orang yang rela pergi ke Pulau Nami, Korea demi Winter Sonata lho! Mengapa tidak dengan jembatan di mana Saga Noren dan Martin Rohde bertemu?

Transfer

Bandara Hasanuddin
Dalam perjalanan pulang menuju Denpasar dari Manado, kami singgah terlebih dahulu di Makassar. Para penumpang dengan penerbangan lanjutan diharuskan mengikuti jalan yang sama layaknya penumpang yang memang bertujuan akhir di Makassar. Hanya saja sebelum tiba di pengambilan bagasi, ada beberapa loket untuk penerbangan lanjutan serta satu kios bubble tea.

Antreannya tak karuan. Para penumpang harus menunjukkan pas naik mereka yang sebelumnya sebelum diberikan pas naik yang baru dengan stempel "Transfer". Lalu kami pun melalui pemeriksaan keamanan lagi dan antreannya pun ikut tak karuan. Seusai pemeriksaan pas naik dan keamanan, kami naik kembali ke atas di mana ruang tunggu beserta beberapa toko berada.

Di sanalah kami membeli beberapa oleh-oleh khas Makassar (yang tentunya harganya sudah dimark-up karena biaya sewa di bandara yang mahal) tanpa menginjakkan kaki di kota tersebut. Anehnya, toko di mana kami membeli oleh-oleh memberikan tas daur ulang berjenama sandal buaya yang sempat naik daun beberapa tahun silam. Entah maksudnya apa. Jujur, saya belum pernah ke Makassar.

Saat pesawat melakukan taxi, saya melihat patung Sultan Hasanuddin di kejauhan di luar kompleks terminal. Tiba-tiba saya teringat patung Ngurah Rai (yang ada dua - salah satunya hanyalah pemborosan anggaran) di Tuban, Bali.

Mengenai pas naik, saya rasa perlu ada perombakan desain pas naik di seluruh Indonesia. Bagaimana caranya supaya penumpang yang hanya singgah sejenak di bandara lain sebelum menuju tujuannya tidak perlu mengantre hanya untuk mendapatkan kertas yang sebenarnya bisa didapatkan di bandara asal. Ini hanyalah pemborosan kertas. Mungkin jika perlu ada mesin cetak ulang pas naik seperti yang tersedia di beberapa bandara Eropa khusus untuk mereka yang mungkin kehilangan pas naik saat sedang berjalan-jalan (mungkin perlu diterapkan sistem berbayar juga untuk membuat efek jera). Pernah saya alami sebelumnya.

10/10/2014

Wanita di Ujung Gangguan Kejiwaan

Sore tadi saya mendapat DM di twitter bahwa salah satu foto yang saya ikut sertakan dalam lomba yang diselenggarakan oleh Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia di twitter telah lolos seleksi dan akan dipamerkan dalam pameran wisata yang diadakan oleh organisasi yang sama di Balai Kartini, Jakarta akhir pekan depan.

Dari beberapa foto yang saya ikut sertakan, ternyata foto poster film besutan Pedro Almodovar, Mujeres al borde de un ataque de nervios (Bahasa Inggris: Women on the Verge of a Nervous Breakdown), terpilih sebagai satu dari 28 foto yang kabarnya akan dipamerkan.

Saya masih ingat foto ini saya ambil dua tahun yang lalu saat pergelaran Brisbane Open House (ya, zaman saat saya masih menimba ilmu di negeri kangguru). Griffith Film School adalah bangunan pertama yang saya kunjungi hari itu. Di sana saya memotret beberapa poster film yang sebagian besar merupakan film-film klasik Eropa. Kebetulan sekali Brisbane Open House tahun ini akan diadakan besok. Coincidence?

Kebetulan juga saat itu Australian Cinematheque @ GoMA mengadakan pemutaran film bertajuk 100 Years of Spanish Cinema (gratis) yang mana saya telah menonton sekitar 22 film yang ditayangkan (berbarengan dengan pameran kesenian Spanyol yang diadakan QAGOMA). Tentu juga ada pemutaran film oleh Pedro Almodovar (program berbeda - berbayar) di sinematek dan film di atas termasuk dalam programnya. Saya tidak menontonnya di GoMA berhubung keterbatasan biaya sebagai mahasiswa berkantong cekak (tapi bisa menempuh kuliah di negeri kangguru?). Saya menonton film tersebut melalui DVD yang saya pinjam dari perpustakaan Brisbane City Council.

Ah, rindunya saat-saat itu. Saat Brisbane masih layak dihuni. (Semenjak Campbell Newman memimpin Queensland dan Tony Abbott memimpin Australia, rasa-rasanya Australia terutama Brisbane mulai kurang layak dihuni).

N.B.: Jika Anda mengira saya dulu kuliah di Adelaide, Anda salah besar.

Bukan Rukun Warga

PERINGATAN: Beberapa orang akan merasa kurang nyaman dengan foto dan tulisan di bawah

Rintek wuuk (RW) yang diolah merupakan salah satu makanan khas dari Minahasa. Apakah RW itu? Daging anjing.

Kalau menurut saya, tekstur dan rasanya berada di antara daging sapi dan babi. Hanya sepenggal kisah dari sekitar Pineleng.

10/09/2014

Penginapan Singa

Mata Anda sedang tidak salah melihat. Perlengkapan mandi ini berlogo maskapai penerbangan tarif rendah terbesar di negeri ini. Rupa-rupanya grup usaha tersebut memiliki hotel di Manado. Lokasinya di kawasan hasil reklamasi kota tersebut.

Kalau menurut saya, hotel ini masih memiliki banyak kekurangan. Sambungan telepon landline menuju dan keluar bangunannya saja belum tersambung. Listriknya juga sering padam. Mungkin mereka masih menggunakan generator?

Tentu saja para awak kabin dan penerbang maskapai penerbangan satu grup yang sedang bertugas ke Manado diinapkan di hotel tersebut.

Trans Kawanua

Bus Trans Kawanua melintas di Jl. Pierre Tendean, Manado
Selama di Manado, saya jarang sekali melihat bus Trans Kawanua berseliweran di jalanan kota. Halte-haltenya pun tampak tak terawat padahal terkesan lebih megah dan kokoh dibandingkan dengan halte-halte Trans Sarbagita. Bus Trans Kawanua berukuran sama dengan bus Trans Jogja dan bus Trans Sarbagita trayek 1.

Berdasarkan hasil pencarian di Google, saya menemukan bahwa sejauh ini Trans Kawanua hanya memiliki dua trayek. Proyek ini juga terkesan mati suri. Entah mengapa bisa mati suri. Beruntung Manado memiliki banyak angkot untuk mereka yang hanya ingin bepergian di dalam kota.

Sama seperti Trans Sarbagita, Trans Kawanua juga memiliki rencana jangka panjang untuk menggunakan sistem pembayaran elektronik tapi berhubung mati suri, entahlah bagaimana jadinya. Ngomong-ngomong, saya yakin semua proyek bus rapid transit di Indonesia berambisi meluncurkan sistem pembayaran elektronik. Nah, mungkinkah sistem pembayaran elektronik antar daerah ini dipadukan supaya jika saya jalan-jalan ke kota lain saya dapat membayar menggunakan kartu pembayaran yang sama?

10/08/2014

Trans Jogja

Halte Trans Jogja di dekat Benteng Vredeburg
Trans Jogja mungkin dapat dikatakan sebagai salah satu moda transportasi milik pemda yang paling berhasil. Tingkat keterisian yang tinggi (atau mungkin ukuran bus yang terlalu kecil?), halte yang ramah terhadap penyandang cacat (walaupun trotoar pendukung belum tentu), karcis seharga Rp 3.000 sekali jalan (lebih murah dibandingkan karcis Trans Sarbagita) bahkan Anda bisa membayar dengan kartu debit sentuh yang dikeluarkan oleh salah satu bank swasta terbesar negeri ini. Delapan trayek sudah terlaksana dengan jam operasi yang cukup memadai.

Ada apa gerangan sehingga saya kembali membahas Yogyakarta setelah sebelumnya membahas Sulawesi Utara?

N.B.: Agak keluar dari topik pembahasan tapi berdasarkan usulan yang saya ajukan kepada Pemkot Denpasar di situs PRO Denpasar, ada bocoran bahwa tahun depan Dishub Bali akan meluncurkan trayek 8 Trans Sarbagita (Mengwi-Pelabuhan Benoa via Kota). Agak terlambat karena seharusnya trayek 3, 4, 5, 6, 7, dan 8 seharusnya sudah terlaksana selambat-lambatnya akhir tahun ini.

Kawangkoan

Salah satu jalan utama di Kawangkoan
Kawangkoan, 4 Oktober 2014 - Senja menyapa Sulawesi Utara. Matahari terbenam sekitar 30 hingga 45 menit lebih awal di belahan Indonesia ini dibandingkan dengan Bali. Beberapa warga berkumpul di rumah makan menikmati secangkir kopi, bakpau maupun sajian lainnya. Rumah makan tersebut dilengkapi dengan televisi LCD serta saluran berbayar. Stiker-stiker caleg untuk pemilu April lalu masih terpasang walaupun warnanya memburam.

Trotoar masih layak digunakan walaupun belum tentu ramah terhadap pengguna kursi roda. Angkot dan dokar (entah apa namanya dalam istilah setempat) pun tersedia, tidak seperti di Bali yang semakin memudar.

Jalan di kota kecamatan ini sungguh aneh - banyak yang satu arah walaupun lalu lintas tidaklah padat. Manado masih sejauh sekitar dua jam perjalanan dengan kendaraan bermotor. Jalannya berliuk-liuk mengikuti topografi daerah yang berbukit-bukit. Sulawesi sungguhlah besar. Pulau ini juga berhak memiliki sistem perkeretaapian terpadu yang menghubungkan daerah-daerah, baik dalam provinsi maupun antar provinsi.

Ada apa gerangan sehingga saya bisa berada di sana? Yakin mau tahu?

10/07/2014

Nomor Polisi Kelipatan

Suatu senja di Surabaya, sebuah mobil bernomor polisi Jakarta berlalu-lalang di tengah kemacetan kota. Terasa ganjil melihat mobil bernomor polisi lima digit angka dan dua digit angka yang berukuran lebih kecil (kelipatan?). Mungkin ibukota negara sudah terlampau padat sampai-sampai tiga huruf pada nomor polisi sudah tak memadai.

Kerang

Saya bukan penghuni kota metropolis namun saya tahu beberapa kota di Indonesia berkesempatan memiliki SPBU-SPBU oleh perusahaan-perusahaan asing.

Dalam sebuah perjalanan ke salah satu kota terbesar di Indonesia (bukan ibukota negara), saya menemukan bahwa SPBU milik asing ini sudah tutup. Apa gerangan?

Terserah Anda pro atau kontra dengan keterlibatan asing dalam pengerukan sumber daya alam negeri ini tapi tidak ada kaitannya dengan kisah SPBU ini.

N.B.: Entah siapa yang membuat spanduk tersebut namun tampaknya dia tidak mengerti bahasa Indonesia. 'Terima kasih' harus ditulis terpisah!

10/01/2014

Akhir Dinas

Oleh-oleh diletakkan di lantai dan karcis kelas eksekutif
Yogyakarta, 30 September 2014 - Tiga orang PNS dari Disperindag Jawa Timur mengakhiri dinasnya di Yogyakarta kemarin. Berdasarkan pembicaraan di antara mereka, mereka memiliki karcis kelas eksekutif untuk kereta Sancaka Sore. Tidak diketahui di stasiun mana mereka turun. Mereka juga membawa beberapa oleh-oleh entah untuk siapa.

Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa kelas eksekutif? Apakah kelas bisnis tidak cukup baik? Saya saja berhasil mendapatkan karcis seharga Rp 100.000 jurusan Yogyakarta-Surabaya dan saya cukup puas dengan pelayanan KAI. PNS di Singapura saja jika harus dinas diwajibkan untuk mendapatkan biaya perjalanan terendah. Memang perbedaan harga karcis kelas eksekutif dan bisnis cukup tipis, maksimal hanya Rp 100.000 tapi ini baru tiga orang PNS. Berapa banyak PNS yang melakukan dinas dalam setahun dan berapa anggaran yang digelontorkan pemerintah untuk mendanai perjalanan mereka jika mereka semua tidak memilih biaya perjalanan terendah? Jika mereka diinapkan di penginapan murah tapi memadai* dan menggunakan kereta kelas bisnis, saya bisa menghitung potensi penghematan anggaran minimal Rp 1.000.000**.

Apakah agenda dinas mereka lebih diisi dengan acara membeli oleh-oleh ataukah rapat dan pembahasan masalah dengan pihak-pihak terkait di Yogyakarta? Tidak tahu. Mengapa memilih kereta sore dan bukannya kereta terakhir sehingga kerja mereka di Yogyakarta bisa dimaksimalkan, mereka bisa istirahat selama perjalanan lalu kembali bekerja keesokan harinya? Ataukah mau berdalih bahwa perjalanan yang kebanyakan diisi dengan acara duduk dan sesekali mengunyah kudapan meletihkan? Entah. Tidur selama empat jam saja kadang terasa cukup dan saya bisa segera melanjutkan pekerjaan saya (tugas kantoran juga).

Salah satu di antara mereka sempat membeli salak pondoh dari salah satu pedagang di stasiun. Kalau mereka mau menggunakan jasa pedagang yang mungkin tidak tahu banyak mengenai seluk-beluk birokrasi membuka usaha, mungkinkah mereka menginap di penginapan yang tidak begitu dikenal namun memadai dan harganya cukup murah? Jika ya, saya rela mereka menggunakan kelas eksekutif.

Saya tidak menuduh sesuatu terhadap mereka tapi saya hanya mempertanyakan efisiensi kerja mereka.

*Saya tidak tahu di mana mereka menginap tapi saya sangat yakin mereka tidak menginap di losmen. Bagus kalau mereka mendapatkan potongan harga di sebuah penginapan biasa dengan harga sesuai, bukan hotel minimal berbintang 4 nan mahal.
**Sekali lagi, kalkulasikan dengan jumlah PNS di negeri ini dan berapa banyak di antara mereka yang melakukan pemborosan saat dinas baik di dalam maupun di luar negeri.

9/30/2014

Fiksi

Rupa-rupanya personal recounts perjalanan yang dibukukan oleh dua orang narablog masuk kategori fiksi. Hmm ...

Dua Minggu Tuntas

Entahlah apa yang ada di pikiran mahasiswa/i masa kini. Saya tak memerlukan layanan seperti ini.

Bagaimana cara kerjanya? Hasil plagiat? Asal? Sogokan untuk pihak perguruan tinggi dan dosen?

Sejelek-jeleknya makalah-makalah dan esai-esai yang pernah saya buat dulu, saya kerjakan dengan riset sendiri. Kalimat-kalimat yang saya susun sendiri. Kutipan-kutipan yang saya akui asal-muasalnya. Bahkan saya pernah menghadiri kuliah umum (ilmiah) yang tak diketahui oleh pihak fakultas saya demi mendapatkan bahan tulisan saking sedikitnya bahan yang bisa saya temukan saat itu.

Peringatan, dunia akademik bukan untuk semua orang. Ada baiknya pemerintah Indonesia lebih mengembangkan pendidikan vokasional.

Museums and Exhibitions

Sonobudoyo Museum
The morning heat in Yogyakarta is unbearable, and especially so if you're wearing a shirt with a pair of jeans and a big backpack. I started my last day in town with a visit to Fort Vredeburg. It has a museum inside and the ticket set me back a mere Rp 2,000 (approx. 17 US cents). International visitors would be charged more.

The museum consists of four exhibition buildings but the last one is closed for renovation works. The exhibition narrates the story of Indonesia's nationalistic movement in the Netherland East Indies all the way to the establishment of the temporary Federal Republic of Indonesia across the three buildings.

Only the air conditioner in the first building worked out fine. The exhibitions were mostly static with a few interactive infographics here and there. Unfortunately, most of the LCD screens used for that interactive infographics were under repair.

Next, it was Sonobudoyo Museum - an anthropology museum located within the sultanate's Keraton complex, not far from Fort Vredeburg. Unlike the previous museum which is administered by the Ministry of Education, Sonobudoyo Museum is managed by the Provincial Government of Yogyakarta.

There were three staff members in their late 30s or 40s at the ticketing counter.

"Dari mana, mas?" Where are you from, asked the staff.

"Denpasar," I said.

"Mbali." Bali, said the staff to his colleagues.

"Lagi liburan?" Are you on vacation, asked the staff again.

"Iya." Yes, I replied.

The ticket costs Rp 3,000 but that's for Indonesian only. It is slightly more expensive but the design of the Fort Vredeburg ticket is much better than this museum's ticket.

The guy who greeted me at the Ksatria puppet exhibition at the old Bank Indonesia building the day before regreeted me just before the first exhibition room. He asked whether I needed a tour guide or not. I declined the offer. He is about the same age as I am. Perhaps he interned at the museum?

There were school students on a study trip with their teachers and a museum guide. Based on the museum's guestbook, I believe they were from Sleman. There were also an Asian couple with two guides. The female guide did all the talking in English. Based on their accents, I believe they hailed from a western country. Does that detail matter or am I being a racist?

Just like Fort Vredeburg, the air conditioner here didn't really manage to quell the heat particularly after you leave the first three or four exhibition rooms.

Ksatria puppet exhibition (29/09/2014)
Are they the best places to be today? Yes, if you're a sucker for museums. The puppet exhibition was definitely the best place to be yesterday (the last day of the exhibition).

N.B.: The puppets exhibited at the old Bank Indonesia building are collections of Sonobudoyo Museum.