7/26/2014

Negeri Ketidakjelasan

John McCarthy dari Whistledown production membuat laporan untuk BBC Radio 4 mengenai masa lampau, masa kini, dan masa depan negara dunia keempat Kurdistan. Negara dunia keempat adalah istilah untuk menjelaskan sebuah negara yang sudah berbangsa namun secara fisik belum terbentuk (seperti Palestina).

Kurdistan: A State of Uncertainty

Pascakolonialisme, Timur Tengah dibagi berdasarkan kehendak mantan penjajah. Bangsa Kurd tidak mendapatkan jatah sebuah negara. Mereka justru diberikan kepada Turki, Irak, dan Iran. Seiring dengan serangan Amerika Serikat terhadap Irak yang dimulai pada tahun 2003, gerakan untuk mendirikan sebuah negara merdeka untuk bangsa Kurd pun semakin lantang.

Siaran ini hanya menayangkan opini warga Kurd akan masa depan negara mereka. Tidak ada yang wah sekali, namun memberikan gambaran akan kesusahpayahan yang dialami bangsa Kurd selama negara mereka belum terbentuk. Bangsa Kurd mengaku bahwa bangsa mereka adalah bangsa yang terbuka, mereka terbuka akan kebebasan berekspresi yang mungkin tidak bisa didapatkan di Iran atau Irak. Ekonomi mereka pun terus berkembang.

Walaupun demikian, saya merasa bahwa siaran ini telah dibuat cukup lama karena tidak ada pembahasan mengenai Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) yang secara tidak langsung pasti berdampak pada negara in-waiting bernama Kurdistan ini.

Pendapat Anda?

7/16/2014

War of Words

It's not often you find a storyline where it involves Pop Tate against a girl.

"Toko sudah kami buka!"

Saya mencoba membuat esai foto dengan menggunakan monolog singkat dan dialog khayalan mengenai kawasan Eropa Tengah 25 tahun pasca-komunisme. Tujuannya untuk dilombakan. Saya rasa sih saya tidak akan menang. Tapi siapa tahu?

Tautan

7/10/2014

Le tableau

Pemutaran film Le tableau di AF Bali 9 Juli 2014
Le tableau adalah film animasi Prancis yang dirilis pada akhir tahun 2011 di negara tersebut.

Film ini mengisahkan watak-watak pada sebuah lukisan yang belum sepenuhnya selesai. Maka terjadi apartheid antara watak-watak yang telah sepenuhnya selesai dilukis dan diwarnai dengan watak-watak yang belum selesai diwarnai serta mereka yang masih berupa sketsa.

Seorang watak pria yang sudah selesai, Ramo, menjalin hubungan asmara dengan seorang perempuan yang belum selesai diwarnai. Hubungan mereka tentunya tidak direstui kaum selesai. Suatu saat dalam perjalanan Ramo untuk menemui kaum belum selesai, perahu yang ditumpanginya terbawa arus menuju hutan di mana rumornya mereka yang masuk tidak pernah kembali lagi. Selain Ramo, perahu itu juga ditumpangi seorang gadis belum selesai yang juga merupakan kawan dekat kekasih Ramo serta seorang sketsa. Mereka selamat melewati hutan dan petualangan mereka berlanjut keluar dari lukisan.

Di luar lukisan, mereka masuk ke lukisan lain. Mereka bertemu dengan seorang penabuh genderang yang acap kali di-bully, lukisan wanita telanjang, dan potret sang pelukis itu sendiri. Petualangan itu membawa mereka ke Venesia, sesaat menemui ajal, serta belajar melukis dan mewarnai. Dari pelajaran itulah mereka kembali ke lukisan asal mereka untuk menyelesaikan lukisan itu.

Sementara itu di lukisan asal Ramo para sketsa dan watak belum selesai diperbudak. Kekasih Ramo juga ditahan berdasarkan perintah pemimpin watak selesai. Sekembalinya Ramo ke lukisan asalnya dia pun ikut ditawan. Beruntung kawan-kawan Ramo berhasil menyelamatkan mereka tepat pada waktunya. Para watak belum selesai (yang pada akhirnya selesai diwarnai) pun melakukan pemberontakan menentang pemimpin watak selesai. Pada saat kemunculan para watak yang baru selesai, para watak selesai merasa kagum akan warna-warna pada para watak baru selesai tersebut.

Saya rasa pelajaran yang bisa dipetik adalah jangan pernah merasa congkak (1) atas pencapaian yang telah kita raih. Dan jangan pula mau diri kita 'diwarnai' orang lain jika kita merasa tidak sesuai dengan 'warna' tersebut. Warnailah diri kita sendiri sesuai dengan kehendak kita.

***

(1) Congkak ini bersifat subyektif. Terkadang kita merasa terkejut, gembira berlebihan, dan ingin berbagi kegembiraan itu dengan orang lain atas pencapaian kita sendiri namun sikap itu disalahtafsirkan oleh orang lain sehingga kita dianggap sombong.

7/09/2014

Generous Billionaire

Pretty self-explanatory

Siaran Lokal

 Sebenarnya sudah sejak 2011 KPI mengharuskan lembaga penyiaran pertelevisian untuk memberikan siaran lokal yang lebih relevan bagi penonton televisi di luar kawasan Jabodetabek. Tapi entah, sepertinya perihal kucuran dana yang digelontorkan para pemilik stasiun kepada KPI, mereka belum melaksanakan aturan itu sepenuhnya.

Kalaupun ada siaran lokal, biasanya terbatas berupa siaran berita, iklan pada saat azan maghrib untuk wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya (yang memang tidak relevan untuk penonton di luar wilayah itu), dan acara gaya hidup. Itu juga biasanya tayang sangat pagi. Siaran doa lokal juga selalu memotong siaran sentral dari Jakarta. Sepertinya kurangnya komunikasi antara pihak daerah dan pusat serta keterbatasan teknologi membuat siaran lokal ini terkesan amatiran. Istilah  'amatiran' sendiri mungkin menghina para amatir pencinta pertelevisian.

Di negara-negara seperti Amerika Serikat, Australia, dan Jerman, siaran lokal sudah tertata sedemikian rupa sehingga jika salah satu stasiun daerah terpaksa menayangkan breaking news (misalnya siaga bencana) tidak akan mengganggu stasiun daerah lainnya yang mana berita itu mungkin tidak terlalu relevan bagi penontonnya. Slot iklan baik untuk tayangan nasional maupun lokal pun sudah disesuaikan dengan kepentingan penduduk setempat, untuk apa saya melihat iklan oleh toko bahan bangunan yang baru buka di daerah lain saat jeda iklan pada sebuah tayangan nasional (misalnya sinetron)?

Kalau menurut pendapat pribadi saya sendiri sih, sebaiknya tayangan pada jam-jam doa (azan subuh, maghrib atau doa yang bersifat lokal lainnya) dilakukan oleh pihak stasiun daerah agar tidak memotong isi tayangan tersebut. Barulah setelah semua wilayah Indonesia menyelesaikan jam doanya masing-masing kita kembali ke tayangan nasional. Ada baiknya stasiun-stasiun TV swasta belajar dari TVRI mengenai itu.

***

Sekarang Anda sudah tahu bukan di mana saya tinggal?

7/08/2014

Negara yang Dulunya Dikenal Sebagai London

BBC Radio 4
London di dunia kita ini adalah salah satu pusat finansial utama dunia. The Country Formerly Known as London adalah sebuah mockumenter (dokumenter-dokumenteran) oleh BBC Radio 4 membahas bagaimana jadinya jika London menjadi negara sendiri.

Mockumenter ini mengisahkan keseharian di kota London tiga dasawarsa yang akan datang setelah memisahkan diri dari negara induknya karena semakin meningkatnya kesenjangan antara London dan negara induknya terdahulu - menyebabkan ketidakpuasan penduduk Inggris. Keluarga kerajaan tentunya telah keluar dari London terlebih dahulu.

Harga properti sangat tinggi, Anda harus merogoh kocek ratusan ribu bahkan jutaan pound sterling hanya untuk membeli sebuah apartemen kecil dengan dua kamar di negara London. Yang dapat membeli properti dengan harga tersebut akhirnya hanyalah miliarder asal Tiongkok atau Rusia. Biaya hidup yang sangat tinggi memaksa banyak rakyatnya harus tinggal di pinggiran kota dan bahkan di luar negara itu (Inggris). Karena sedikit rakyatnya yang bermukim di negara tersebut, London pun berubah menjadi kota yang sepi setelah jam kantor usai.

Sedikitnya orang yang mau bermukim di London ini juga berdampak pada tenaga kerja dan SDM-nya. London menjadi negara yang amat mengandalkan tenaga outsourcing, terutama tenaga kerja asal Eropa Timur.

***

Mockumenter ini tentunya bisa menjadi pelajaran agar pembangunan ekonomi di negara apapun dapat tersebar secara lebih merata. Tidak semua hal yang dibahas dalam siaran ini bersifat khayalan, beberapa poin sebenarnya sudah menjadi kenyataan. Misalnya mengenai pembelian properti mewah di kota London oleh miliarder Rusia (yang menyebabkan UK agak bungkam mengenai tindakan Rusia di Krimea).

Bisakah kita membayangkan jika Jakarta memisahkan diri dari Indonesia dan menjadi negara sendiri? Paling-paling saya ditangkap polisi jika memiliki pemikiran seperti itu.

Hak cipta atas ilustrasi di atas dipegang sepenuhnya oleh BBC. Tidak ada niat saya untuk melanggar hak cipta tersebut.

7/05/2014

Novel N.N.

Novel without a Name karya Duong Thu Huong, seorang penulis Vietnam yang sempat dipenjara karena mengkritik pemerintah Vietnam.

Novel ini mengisahkan seorang tentara Vietnam yang harus meninggalkan keluarganya saat Amerika Serikat menyerang negeri itu. Kisah yang diangkat lebih mengarah ke tantangan sehari-hari sang tentara yang harus berjalan di hutan, terkadang di malam hari. Lalu juga ada kisah pertemuannya dengan seorang tentara wanita di tengah hutan yang memberinya makan setelah dia tersesat saat berjalan. Si wanita ternyata memiliki hasrat berhubungan intim dengan si tentara pria ini tapi si pria menolaknya dengan halus. Juga mengangkat kesedihan si tentara saat anggota sepasukannya tewas dan kebingungan yang dihadapi akan apa yang harus dilakukan terhadap seorang tentara AS yang berhasil mereka tangkap (yang pada akhirnya dibebaskan karena mereka yakin si tentara akan tersesat dan menemui ajal di hutan).

Harus saya akui novel ini bukanlah novel konvensional layaknya waralaba semacam Harry Potter atau Hunger Games (walaupun saya juga belum pernah membaca novel-novel tersebut). Andai kata novel ini akan diadaptasi dalam format lain, saya rasa format sinetron-lah yang paling tepat. Ah, tapi saya pernah menonton film Kroasia (lupa namanya tapi sempat diajukan untuk Penghargaan Film Berbahasa Asing Terbaik untuk Piala Oscar beberapa tahun lalu - gagal masuk nominasi) mengenai sekelompok tentara yang tersesat di tengah hutan saat berperang melawan Serbia pasca pecahnya Yugoslavia yang mana jika dinovelkan, jalan ceritanya pasti kurang lebih mirip dengan novel tanpa nama ini.

Dialogue at Sea

Dialogue at Sea is a compilation of short stories from the Soviet Baltic Republics (Estonia, Latvia, Lithuania) published by a Moscovite publisher in 1969. The book title itself is also the title of a short story from Lithuania by Mykolas Sluckis.

I must admit I haven't finished reading the book (and I read that book at the end of last year). The book's not mine, it's the property of my (then) university library. So, I was just wondering whether any of you may know someone who sells this book because I'm really interested to continue reading the stories.

Some of the short stories are:
The New Baby by Erni Krusten (Estonia)
My Friend Builds a House by Anna Sakse (Latvia)
The Cart of Hay by Algirdas Pocius (Lithuania)

7/04/2014

Spotty

Spotty is still Archie's pet dog when he's in high school?

Before Hot Dog

Jughead has another pet?

Seri Televisi Eurasia

Harus saya akui, saya memiliki hobi yang bisa dikatakan masuk kategori niche di Indonesia - menonton film dan seri televisi dari berbagai negara, kebanyakannya Eropa (terutama Skandinavia), Timur Tengah, dan Amerika Latin. Perlu diingat ada perbedaan antara seri dan serial. Seri bersifat terbatas, terdiri hanya atas beberapa episode namun bisa bertahan selama beberapa musim (selama masih ada jalan cerita yang bisa diolah) sementara serial bersifat lebih permanen - seperti sinetron tapi bermusim-musim. Sinetron dan telenovela masuk kategori lain - sifatnya seperti serial tapi biasanya setelah jalan cerita habis (entah itu si gadis miskin akhirnya menikah dengan pria tampan dan kaya) tidak dapat diperbarui untuk musim berikutnya (1).

Nah, kembali ke hobi saya. Hobi ini terlahir saat saya masih tinggal di luar negeri dulu - di negara yang sangat mendukung distribusi produk-produk kebudayaan asing karena mayoritas penduduknya adalah kaum dan keturunan migran yang ingin bersentuhan kembali dengan kebudayaan negara asal. Tidak serta-merta semua konten tersedia, biasanya hanya yang terbaik dari yang terbaik. Produk kebudayaan asing grade B masih bisa ditemukan walaupun lebih susah. Mendapatkan beberapa produk grade A saja terkadang masih susah.

Mendapatkan akses ke konten-konten yang saya perlukan untuk melancarkan hobi saya ini memang lebih susah dilakukan di Indonesia karena alasan distribusi, rendahnya minat masyarakat, jalan cerita yang masuk ranah seksual dan kekerasan (baca: tidak akan lulus sensor), dan lain-lain.  Beruntung ada pihak seperti Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia yang mengadakan acara tahunan bernama Europe on Screen.

Terlepas dari konflik yang belakangan terjadi, kebangkitan negara-negara Eurasia memang sedang berlangsung. Kebangkitan ini turut merambah 'industri kebudayaan' melalui film-film dan acara televisi. Siapa tahu mereka akan menjadi Korea Selatan dan Turki (2) selanjutnya?

Baiklah, inilah cuplikan dari seri televisi dari Rusia yang berjudul 'Ottepel' (Bahasa Rusia: Оттепель) yang berarti 'mencair'.

Kabarnya, seri televisi ini sempat hangat diperbincangkan dalam acara Séries Mania yang diadakan di Paris beberapa bulan lalu. Seri ini ternyata memiliki hubungan tak langsung dengan Mad Men (sutradara seri ini sempat bertemu dengan sutradara Mad Men?). Andaikan saya mengerti bahasa Rusia selain 'dobro vecer' dan 'spaziba' ...

 PERINGATAN: Video berikut ini mengandung unsur kekerasan. Saksikan dengan penuh kedewasaan.


'Нюхач' atau 'Nyukhach' (Bahasa Inggris: The Sniffer) adalah seri televisi asal Ukraina mengisahkan seorang pria yang memiliki indra penciuman yang sangat tajam dan dengan kemampuan itu dapat membongkar rahasia seseorang. Bagaikan Sherlock tapi dengan tokoh utama yang memiliki kemampuan Inspektur Rex.

Lantas apa tujuan saya menulis ini? Saya hanya ingin memperkenalkan Anda semua bahwa produk-produk seperti ini masih susah didapatkan di negara kita. Saya berharap dengan tulisan-tulisan seperti inilah saya dapat memulai suatu 'revolusi' agar kita semua lebih mengenal dan memahami kebudayaan asing melalui produk-produk seperti ini - harus ada variasi, bukan hanya terlena dengan sinetron tidak jelas, film-film Hollywood dengan jalan cerita yang semakin monoton atau hingar-bingar Korean Wave.

Saya masih akan membuat tulisan-tulisan lain dan mungkin beberapa resensi mengenai produk-produk kebudayaan asing yang sudah pernah saya konsumsi di masa mendatang.

***

(1) Dengarkan diskusi Alex McClintock dengan narablog Brazil Nilson Xavier mengenai telenovela dalam program 'The List' ABC Radio National Australia di sini.

(2) Turki dikabarkan telah menjadi negara penghasil seri televisi terbesar kedua di dunia dan sudah diekspor bahkan laris-manis di pasar-pasar televisi negara-negara Balkan, Timur Tengah, Pakistan, dan negara-negara Turk lainnya (Azerbaijan, Kazakhstan, dll.).

Video-video di atas dapat diakses saat penulisan posting ini sedang berlangsung.