8/30/2014

Die merkwürdige Familie

Sebelum pemutaran film, saya diperingatkan oleh salah satu staf Goethe Institut bahwa film ini masuk ranah eksperimental. Dari semua film-film eksperimental yang pernah saya tonton, biasanya interpretasi alur cerita oleh setiap orang yang menonton film tersebut cenderung berbeda.

Jika diperhatikan secara saksama, kamera diletakkan pada posisi statis dan tidak bergerak walaupun lokasi kamera berpindah-pindah tergantung di mana obyek penelitian berada. Biarkanlah obyek penelitian yang bergerak dalam ruang yang disediakan.

Dialog-dialog yang dibawakan para pemeran juga cenderung tidak berkaitan sama sekali. Misalnya, salah satu pemeran membahas tentang A lalu pemeran lainnya akan membahas B. Mungkin si lawan bicara akan mengangkat sedikit bahasan tentang A sebelum menceritakan B. Lalu pemeran yang pertama tadi bisa mengatakan tentang Q. Hadirlah orang ketiga yang membahas tentang G.

Dari semua tokoh yang ada, perhatian saya terfokus pada si ibu. Dia tampak sangat tertekan. Ekspresi-ekspresi dan interaksi-interaksinya juga tampak dipaksakan. Dia baru bisa menjadi dirinya sendiri ketika tutup botol mental dan memecahkan bohlam dapur. Si nenek adalah pemeran nirdialog. Si kucing? Mungkin si kucinglah yang paling normal berdasarkan pandangan kebanyakan dari kita mengenai 'normal'. Karena kenormalan di antara tekanan dan paksaan dalam bersosialisasi inilah si kucing menjadi yang aneh.

Satu hal yang masih membuat saya penasaran, mengapa si ibu meminum susu yang sudah dijilat si kucing? Sah-sah saja jika si ibu memang menyayangi si kucing tapi dia pernah meletakkan salah satu kakinya di atas kepala si kucing saat si kucing sedang menyantap sarapan. Entah berapa Newton tekanan yang si ibu berikan. Selain itu, di gelas susu tersebut sudah ada beberapa helai bulu kucing. Apakah bulu-bulu kucing tersebut bersih? Bukannya ini malah bisa membahayakan kesehatan?

Jika film ini harus diberikan judul yang jujur, saya akan memberikannya nama Die merkwürdige Familie.

Das merkwürdige Kätzchen ditayangkan sebagai bagian dari rangkaian pemutaran film Festival Film German Cinema 2014 di Bentara Budaya Bali pada tanggal 29 Agustus 2014.

Steak Cinta

Mungkin kedua mata saya mengibuli saya karena adegan pembukaan film diawali dengan seorang pria yang membuang air kecil di tepi pantai. Pria yang berdiri itu (entah benar buang air kecil atau mata saya yang rusak) adalah Clemens Pollozak. Clemens mendapatkan pekerjaan di sebuah hotel tepi pantai sebagai tukang pijat sekaligus petugas kebersihan departemennya. Sebagai gantinya, dia diizinkan untuk tinggal di supply room (karena kelihatan banyak handuk baru) hotel tersebut.

Hari demi hari berlalu dan dia berkenalan dengan seorang wanita yang menjadi trainee chef di hotel tersebut, Lara Schmelzing. Tidak seperti Clemens yang cenderung pemalu dan canggung, Lara adalah sosok yang kick ass (saya kurang yakin kata dalam bahasa Indonesia yang tepat). Sayangnya, Lara memiliki kebiasaan yang bisa berakibat fatal - alkohol. Alkohol adalah the make or break substance dalam hubungan Clemens dan Lara pada film ini.

Hubungan keduanya awalnya tidak terlalu dekat. Suatu sore Clemens menemukan Lara terbaring dalam keadaan mabuk di pantai. Clemens pun membawa masuk Lara ke dalam hotel dan berusaha menyadarkannya dari dunia mabuk. Interaksi-interaksi selama proses 'penyadaran' ini membuat mereka mulai akrab. Keakraban itu semakin nyata saat Clemens yang biasanya pendiam mulai curhat pada Lara bahwa dia merasa dilecehkan secara seksual oleh salah satu klien pijatnya. Lara lantas memaksa Clemens untuk berterus terang pada sang klien yang kebetulan menghadiri sebuah resepsi di restoran hotel tersebut pada suatu malam.

Kedekatan kedua tokoh ini bukannya tanpa masalah. Clemens yang sebelumnya memiliki rekor bersih dalam pekerjaannya mulai sering diberikan peringatan oleh pihak pengelola hotel akibat keterlibatannya dalam permainan-permainan jahil Lara. Walau bagaimanapun, mereka sebenarnya saling mengawasi dan mengandalkan satu sama lain jika berada dalam masalah. Hanya saja kejahilan terakhir Lara yang mengeksploitasi perhatian Clemens adalah hal yang paling berdampak pada kelanjutan hubungan keduanya (lihat pembahasan mengenai make or break) dalam film ini.

Suatu hari Lara pindah untuk tidur bersama Clemens di supply room. Hal itu bukannya tanpa kontroversi lantaran pihak pengelola merasa bahwa reputasi hotel bisa hancur jika para tamu hotel mengetahui keduanya tinggal bersama dan diduga melakukan persetubuhan (katanya itu menjadikan hotel bagai tempat pelacuran). Mungkin inilah yang disebut dengan colleague with benefits.

Ada beberapa hal yang mengganjal pikiran saya - dari mana sebetulnya Clemens berasal dan bagaimana dia bisa mendapatkan pekerjaan di hotel tersebut? Mengapa Clemens tinggal di hotel? Dan mengapa Lara meninggalkan apartemennya untuk tidur bersama Clemens di supply room hotel? Toh, hubungan keduanya tidak dapat dikatakan sebagai boyfriend-girlfriend relationship tetapi lebih kepada colleague with benefits. Di kebudayaan Barat masa kini, wajar jika dua orang kekasih yang belum atau tidak menikah tinggal bersama. Tapi sesama rekan kerja berlainan jenis kelamin yang mana kedua-duanya merupakan heteroseksual* tidur di kasur yang sama di tempat yang tidak lumrah seperti supply room hotel? Mengapa Lara tidak mengajak Clemens untuk tinggal di tempatnya?

Terlepas dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, film ini juga mengajak kita untuk melihat bahwa orang Jerman tidaklah harus sesuai dengan stereotipe pekerja keras yang taat pada aturan dan selalu tepat waktu. Lara, misalnya, adalah salah satu pengecualian dari stereotipe tersebut.

Menurut saya, masih ada banyak ruang dan cerita yang bisa dieksploitasi andaikan film ini dibuat sekuel. Bagi saya, film ini hanyalah satu bab pada kehidupan Clemens. Mungkin Anda tertarik untuk 'membaca' bab sebelumnya. Mungkin juga Anda tertarik untuk 'membaca' bab berikutnya. Bagaimana, Herr Lass**?

Lalu apa kaitan judul film ini dengan kisah mereka? Suatu malam, Lara datang ke supply room untuk memberikan steak pada Clemens sebagai makan malamnya. Saat itu Lara belum tahu bahwa Clemens adalah vegetarian. Dan dari sanalah saya rasa nama Love Steaks didapat.

*Jangan tertipu mengenai pembahasan seksualitas Clemens dalam film ini
**Jakob Lass adalah sutradara dari film ini

Love Steaks ditayangkan sebagai bagian dari rangkaian pemutaran film Festival Film German Cinema 2014 di Bentara Budaya Bali pada tanggal 28 Agustus 2014.

8/29/2014

Pengembaraan Menuju Jah

 
On my journey to Jah Jah
Lantunan salah satu lagu dalam film Journey to Jah

Journey to Jah adalah film dokumenter karya Noel Dernesch dan Moritz Springer yang dirilis pada tahun 2013. Film yang disunting menggunakan teknik proses silang dan berdurasi 92 menit ini mengisahkan kehidupan beberapa musisi reggae di Jamaika di antaranya Gentleman yang berasal dari Jerman dan Alborosie dari Italia. Untuk menambah keragaman narasumber, Dr Carolyn Cooper, seorang akademisi Hindia Barat juga turut memberikan komentarnya mengenai kebudayaan kontemporer Jamaika dan bagaimana aneka produk kebudayaan itu berdampak pada masyarakat Jamaika dan dunia.

Film yang kabarnya diproduksi selama tujuh tahun ini cenderung terfokus pada filsafat hidup para musisi reggae dalam mengembangkan karya-karyanya. Gentleman memiliki impian untuk mengelilingi dunia sebagai musisi. Sementara Alborosie mengaku bahwa dia datang ke Jamaika awalnya hanya untuk berlibur selama dua minggu namun pada akhirnya dia justru menetap di sana selama lebih dari satu dasawarsa. Ada lagi musisi reggae wanita Terry Lynn yang berusaha menembus pasar musik Eropa.

Namun di balik perbedaan pandangan dan gaya hidup, ada satu hal yang mendasari karya-karya mereka - rastafari.

"Rastafari - One Love, One World, One People"

Rastafari adalah dasar untuk membebaskan warga Jamaika dari mentalitas penjajahan. Melalui karya-karya musik dengan pengaruh ini, para musisi menyuguhkan pesan sosial. Sayangnya apresiasi musik di Jamaika belum sophisticated. Salah seorang musisi pernah mendapatkan komentar dari salah satu penikmat musiknya bahwa karya si musisi bagus tapi dia tidak mengerti liriknya. Sang musisi balik mendamprat si penikmat bahwa si penikmat pernah menempuh pendidikan di sebuah SMA tapi tidak mengerti arti kata compassion. Lalu apa yang si penikmat pelajari dahulu?

Industri musik Jamaika lahir akibat kemiskinan yang melanda negeri itu dan diharapkan musik akan mengubah kehidupan mereka. Sayang, apresiasi yang 'miskin' (bukan kemiskinan apresiasi) masih melanda negeri itu.

Jika Anda ingin belajar bahasa Inggris melalui film ini, berhati-hatilah! Film ini banyak menggunakan istilah kreol Jamaika, misalnya riddim dan bukannya rhythm. Menurut pendapat pribadi saya, secara keseluruhan film ini hanyalah dokumenter biasa. Tidak ada sesuatu yang spesial atau ground-breaking dari film ini. Mungkin testimoni-testimoni dalam film ini akan mengubah pandangan Anda akan Jamaika, tapi secara estetis dan format penyajian tidak ada yang luar biasa dari Journey to Jah.

Film ini ditayangkan sebagai bagian dari rangkaian pemutaran film Festival Film German Cinema di Bentara Budaya Bali pada tanggal 28 Agustus 2014.

Festival Film German Cinema 2014 di Bali

Pemutaran film dikelilingi lukisan2 di Bentara Budaya Bali
Acara Festival Film German Cinema 2014 akhirnya hadir di Bali menjadikannya festival film Jerman pertama di Pulau Dewata. Goethe Institut bekerja sama dengan sejumlah mitra lokal di Bali, salah satunya Bentara Budaya Bali yang menyediakan ruangan untuk pemutaran film.

Terdapat sembilan film yang diputar, lima dari film tersebut dapat diikutkan lomba blog yang diadakan Goethe Institut bekerja sama dengan Cinema Poetica. Tentu saja mengingat terbatasnya waktu, maksimal hanya akan ada empat film yang bisa diresensi oleh para penonton cum narablog di Bali (maaf, Oh Boy). Itu pun kalau pada pemutaran hari terakhir Anda membawa modem pribadi Anda untuk menulis resensi film keempat tersebut.

Setiap harinya selama festival akan ada tiga film yang bisa di-binge watch (istilah Indonesianya apa ya?). Pada pemutaran film tertentu juga disediakan door prize bagi penonton (tipikal acara Indonesia sekali).

Sayangnya, ada beberapa hal yang menjadi masalah. Memang pada hari pertama acara molor dari jadwal selama lebih dari satu jam tapi bukan itu masalah utamanya. Saat pemutaran dua film pertama tadi malam (Journey to Jah dan Kaddisch für einen Freund), banyak penonton yang tak henti-hentinya berbicara kepada satu sama lain - mengganggu mereka yang benar-benar serius menonton. Banyak juga yang menggunakan ponsel selama pemutaran berlangsung. Saya memaklumi kalau mereka ingin membuat catatan untuk resensi film atau tertarik ikut lomba blog sehingga memerlukan penerangan saat menulis tapi banyak yang tidak tahu mengenai lomba blog ini sebelum saya tanyakan salah seorang perwakilan dari Goethe Institut saat jeda pertama. Tidak tanggung-tanggung bahkan ada seseorang yang merekam film menggunakan ponsel berkali-kali walaupun sudah diperingatkan untuk tidak merekam. Yang lebih memalukan adalah saat salah satu perwakilan dari Goethe Institut memberikan penjelasan tentang film kedua, yang bersangkutan harus memperingatkan para penonton agar tidak berisik setelah prahara pada pemutaran film pertama. Peringatan itu juga tidak diindahkan kebanyakan penonton. Baru pada pemutaran film ketiga ada sedikit ketenangan karena banyak yang sudah pulang.

Sebenarnya masalah-masalah di atas juga terjadi saat saya menghadiri hari terakhir dari pemutaran film Denpasar Film Festival seminggu sebelumnya. Para penonton yang duduk di belakang saya saat itu berbicara sangat keras dan tak henti-hentinya tertawa selama pemutaran (padahal hal-hal yang ditertawakan juga tidak jelas). Hal tersebut benar-benar mengganggu saya. Nampaknya apresiasi film di Bali belum lekat membudaya - wajar saja kalau pada tahun 1970an ada lima bioskop di kota Denpasar dan kini hanya ada tiga, dua di antaranya juga sebetulnya berada di luar Denpasar (baca: sekitaran Kuta). Mungkin juga inilah yang menyebabkan mengapa saya sering kali menjadi satu-satunya orang yang menghadiri pemutaran film di AF Bali (mungkin staf AF Bali sudah hafal dengan wajah saya?). Mungkin kebanyakan orang Bali malas menonton film yang serius?

Apapun pandangan lawan saya terkait hal-hal di atas, pemutaran film ini juga disuguhi jajanan pasar serta kopi dan teh (menurut saya kopi dan teh yang disediakan rasanya terlalu manis - rasa-rasanya kopi dan teh instan). Kopinya tidak mempan untuk menahan kantuk saya.

8/15/2014

There's a Limit to Everything

A protest against a reclamation project in southern Bali
What's the first thing that comes to your mind when you hear 'Bali'? Culture? Beaches? Paradise?

Tourism is certainly the lifeline of Balinese economy but to what extent? It was once the go-to place for hippies back in the '70s, a transit point for European travellers bound for Australia and the darling of Indonesians all over the country due to its unique culture.

The Bali that we always admire is no longer as such. Tourism is booming in the south leaving western and northern Bali lagging behind infrastructure-wise and contributing to development inequality in the province, its Gini index is already one of the highest in Indonesia. Rampant developments contributes to hardships faced by locals in getting clean water as there is a resource war between residents and new development projects; it's set to get worse in years to come if no action is to be taken.

Bali (or at least part of it) is oversaturated and the Indonesian government must realise that the country can offer more than Bali to the world. Bali should be used as a transit point for overseas travellers to get into other parts of the wonderful archipelago. Of course, a night or two in the island won't hurt (though preferably in places such as Buleleng rather than Kuta).

I guess it's also time for travellers, tourists or whatever you would like to call yourself to be better educated at being ecologically and economically responsible to the places that you are visiting. Make sure that you support local businesses when you are visiting a new place. Last thing we need is the lost of another paradise becoming another concrete jungle that lacks a soul.