9/30/2014

Fiksi

Rupa-rupanya personal recounts perjalanan yang dibukukan oleh dua orang narablog masuk kategori fiksi. Hmm ...

Dua Minggu Tuntas

Entahlah apa yang ada di pikiran mahasiswa/i masa kini. Saya tak memerlukan layanan seperti ini.

Bagaimana cara kerjanya? Hasil plagiat? Asal? Sogokan untuk pihak perguruan tinggi dan dosen?

Sejelek-jeleknya makalah-makalah dan esai-esai yang pernah saya buat dulu, saya kerjakan dengan riset sendiri. Kalimat-kalimat yang saya susun sendiri. Kutipan-kutipan yang saya akui asal-muasalnya. Bahkan saya pernah menghadiri kuliah umum (ilmiah) yang tak diketahui oleh pihak fakultas saya demi mendapatkan bahan tulisan saking sedikitnya bahan yang bisa saya temukan saat itu.

Peringatan, dunia akademik bukan untuk semua orang. Ada baiknya pemerintah Indonesia lebih mengembangkan pendidikan vokasional.

Museums and Exhibitions

Sonobudoyo Museum
The morning heat in Yogyakarta is unbearable, and especially so if you're wearing a shirt with a pair of jeans and a big backpack. I started my last day in town with a visit to Fort Vredeburg. It has a museum inside and the ticket set me back a mere Rp 2,000 (approx. 17 US cents). International visitors would be charged more.

The museum consists of four exhibition buildings but the last one is closed for renovation works. The exhibition narrates the story of Indonesia's nationalistic movement in the Netherland East Indies all the way to the establishment of the temporary Federal Republic of Indonesia across the three buildings.

Only the air conditioner in the first building worked out fine. The exhibitions were mostly static with a few interactive infographics here and there. Unfortunately, most of the LCD screens used for that interactive infographics were under repair.

Next, it was Sonobudoyo Museum - an anthropology museum located within the sultanate's Keraton complex, not far from Fort Vredeburg. Unlike the previous museum which is administered by the Ministry of Education, Sonobudoyo Museum is managed by the Provincial Government of Yogyakarta.

There were three staff members in their late 30s or 40s at the ticketing counter.

"Dari mana, mas?" Where are you from, asked the staff.

"Denpasar," I said.

"Mbali." Bali, said the staff to his colleagues.

"Lagi liburan?" Are you on vacation, asked the staff again.

"Iya." Yes, I replied.

The ticket costs Rp 3,000 but that's for Indonesian only. It is slightly more expensive but the design of the Fort Vredeburg ticket is much better than this museum's ticket.

The guy who greeted me at the Ksatria puppet exhibition at the old Bank Indonesia building the day before regreeted me just before the first exhibition room. He asked whether I needed a tour guide or not. I declined the offer. He is about the same age as I am. Perhaps he interned at the museum?

There were school students on a study trip with their teachers and a museum guide. Based on the museum's guestbook, I believe they were from Sleman. There were also an Asian couple with two guides. The female guide did all the talking in English. Based on their accents, I believe they hailed from a western country. Does that detail matter or am I being a racist?

Just like Fort Vredeburg, the air conditioner here didn't really manage to quell the heat particularly after you leave the first three or four exhibition rooms.

Ksatria puppet exhibition (29/09/2014)
Are they the best places to be today? Yes, if you're a sucker for museums. The puppet exhibition was definitely the best place to be yesterday (the last day of the exhibition).

N.B.: The puppets exhibited at the old Bank Indonesia building are collections of Sonobudoyo Museum.

9/29/2014

Menyeberang Jalan

Siang tadi saat saya hendak menyeberang jalan dari Monumen Perjuangan menuju kompleks Bank Indonesia-Pos Indonesia, seorang ibu yang sudah tua dengan gendongan layaknya pedagang jamu keliling (hanya saja barangnya bukan jamu) mendekati saya. Dia menanyakan apakah saya hendak menyeberang jalan. Rupa-rupanya si ibu perlu tuntunan.

Saya berdiri di atas trotoar melihat zebra cross yang memudar nyaris sirna. Saat lampu lalu lintas untuk kendaraan bermotor menunjukkan merah, kami menyeberang. Saya memperlambat langkah saya dari kecepatan biasa untuk memback-up si ibu kalau-kalau lampu lalin berubah hijau. Jalannya si ibu, bagaimanapun, tidak tertatih-tatih walaupun tidak dapat dikatakan gagah. Bersyukurlah kami berhasil mencapai sisi lain jalan raya nan gila itu sebelum lampu lalin berubah. Si ibu mengucapkan matur nuwun lalu melanjutkan langkah menuju tempat tujuannya entah ke mana.

Kesadaran mengenai zebra cross masih rendah, terutama di kalangan lansia menengah ke bawah. Zebra cross yang memudar juga bukanlah hal yang baik. Padahal penyeberangan itu terletak tak jauh dari Keraton Yogyakarta. Ah, trotoar Malioboro yang sebenarnya cukup lapang dan ramah terhadap kaum difabel bisa diubah menjadi lautan pedagang dan sepeda motor. Sungguh ajaib manusia negeri ini dalam menyusahkan sesamanya.

Ilustrasi tidak berkaitan dengan narasi. Untuk dijadikan bayangan saja mengenai dunia penyeberangan jalan.

9/28/2014

Best Place to Be Today

Sancaka Pagi (28/09/2014)
The best place to be today is simply on a train (or a bus or a plane depending on your style). But I opted for train.

Why not the destination of the train? Yogyakarta, where I'll be spending the night tonight, is an interesting city. I spent nearly five hours on a train from Surabaya to Yogyakarta today. But sorry, Yogyakarta.

The Dutch may have introduced rail transport into the country but don't expect it to be similar. No OV-kaart here but you do need a valid ID to travel (and it will be checked!). A new booking system will guarantee you a seat on any journey (subject to availability; not applicable to commuter trains). At Surabaya Gubeng station, passengers may obtain a complimentary Kompas newspaper at the waiting lounge. There was a policeman patrolling between the cars while stewards walking down from one end of the train to the other trying to sell hot meals, snacks, cold drinks and pillows to passengers. No trolleys for them.

The train was not new but it was decently clean and relatively well-maintained. There were even working electric plugs for 2nd class passengers. Despite the limitations that KAI (Indonesian Railway Company) has and the slight delay of less than 10 minutes to our arrival in Yogyakarta, fellow passengers and I were quite satisfied with the services provided.

The experience was simply surreal.

9/25/2014

Festival Film Anti Korupsi

Tanpa komentar.

Hidup Masyarakat, Hidup yang Kita Jalani

Pagi menjelang siang bolong, saya menyaksikan TV. Rupa-rupanya ada telenovela. Sudah lama tidak ada telenovela tayang di televisi Indonesia, kalaupun ada biasanya di saluran khusus TV berbayar (baiklah, di beberapa daerah Kompas TV hanya bisa disaksikan melalui TV berbayar).

Judul tayangannya menggunakan bahasa Inggris padahal saya yakin kebanyakan orang Indonesia lebih mudah melafalkan A vida da gente daripada The Life We Lead.

Tidak seperti telenovela yang pernah tayang dulu, Kompas TV memilih untuk memberikan teks bawah daripada sulih suara. Negeri asalnya pun bukan Meksiko atau Kolombia tapi Brazil. Setelah sebelumnya pernah menayangkan drama dari Muangthai, Tiongkok, dan Turki akhirnya Brazil menjadi salah satu negara asal tayangan-tayangan impor stasiun ini.

Anehnya, beberapa bagian dari episode yang saya tonton ini mengandung bahasa Spanyol - misalnya pada saat hendak jeda iklan tertulis 'Kami akan jeda sejenak' (atau kata-kata sejenisnya) serta lagu penutup dalam bahasa Spanyol.

Kalau saya boleh menyarankan, mungkinkah Kompas TV menayangkan film-film dari berbagai negara dunia dengan teks bawah semalam dalam seminggu? Macam SBS di Australia itu.

9/24/2014

Seksisme dalam Pelajaran

 Untuk mendapatkan jawaban yang benar (tanda centang hijau), Anda harus memberikan wanita dengan ponsel dan berkas jabatan sekretaris sementara pria berjas, dasi, dan koper jabatan menedjer.

Kursus secara daring ini disediakan secara cuma-cuma oleh salah satu stasiun televisi dengan jangkauan internasional dari negeri beruang merah (yang logonya kotak hijau).

Google Maps Street View

Melintasi Jl. Dewi Sartika sebelum berbelok menuju Jl. Diponegroro
Pagi ini saya melihat dua mobil Google Maps Street View dengan logo Wonderful Indonesia. Google Maps Street View memang sudah tersedia di beberapa kota di Indonesia walaupun tidak semua jalan. Memang memudahkan saya jika saya ingin mengunjungi suatu tempat yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya, tapi cukup mengerikan juga bagi mereka dan/atau properti mereka yang secara tak sengaja ikut terekam.

9/12/2014

Hari Ini (Tanpa Label)

 Pagi ini saya menggunakan bus Trans Sarbagita dari halte Matahari Terbit menuju halte Tanah Kilap. Sesampainya di sana saya bergegas menuju Mal Bali Galeria untuk menghadiri pemutaran film gratis (20 Feet from Stardom) kerja sama antara Balinale dan Sundance Film Forward di Galeria XXI.

Usai pemutaran, penyunting dari film dokumenter tersebut, Doug Blush, memberikan beberapa patah kata sebelum sesi tanya jawab dimulai. Sekitar 45 menit kemudian sesi tanya jawab berakhir. Saya pun bergegas menuju kamar kecil karena sudah tak tahan. Keluar dari kamar kecil, saya menggunakan akses internet nirkabel gratis yang disediakan pengelola bioskop sambil menguping pembicaraan beberapa tamu yang hadir baik dengan pihak Sundance Film Forward, Balinale maupun Kedutaan Besar Amerika Serikat.

Dari percakapan yang saya kupingi itu, saya mendapat tahu bahwa masih ada kursi kosong untuk menghadiri lokakarya yang akan diadakan pada pukul 15.00 WITA di Bentara Budaya Bali. Saya pun sempat berkenalan dengan perwakilan dari Balinale, Ibu Deborah. Pemutaran film ternyata cukup banyak didatangi oleh orang-orang Australia, entah ekspatriat atau wisatawan.

Saya bergegas menuju halte bus Trans Sarbagita. Sebelumnya, saya hendak mengambil uang tunai dari ATM tapi saya diberi tahu oleh pegawai department store Matahari yang menggunakan ATM sebelum saya bahwa ATM-nya kehabisan uang. Alhasil, saya pun melanjutkan langkah menuju halte. Di halte, ternyata saya berjumpa dengan seorang penumpang yang pernah saya temui menaiki bus Trans Sarbagita di halte yang sama sebelumnya. Seorang pria tambun, berkacamata, keturunan Tionghoa (pentingkah?), dan selalu mengutak-atik ponselnya.

Saya turun di halte Prof. I. B. Mantra dan berjalan kaki menuju Bentara Budaya Bali. Orang lain sudah pasti menganggap saya gila. Sambil berjalan, saya memperhatikan bahwa di salah satu hamparan sawah yang saya lewati ternyata terpasang bendera Belanda. Saya rekam kejadian tersebut. Ah, kembali ke era kolonial tapi kali ini dengan prasasti yang berwarna dan dalam high-definition.

Saya lanjutkan langkah menuju Bentara Budaya Bali. Setibanya di sana, salah seorang fotografer, seorang wanita yang rambutnya panjang dan mulai beruban, logat bicaranya agak Jawa Tengah, mengenali saya dari pemutaran di Galeria XXI. Dia mengucapkan terima kasih kepada saya karena telah mendukung program yang diselenggarakan hari ini. Saya rasa si wanita ini adalah pegawai di Kedutaan Besar Amerika Serikat.

Doug Blush di Galeria XXI usai pemutaran dan pada lokakarya di Bentara Budaya Bali
Tak lama kemudian, ibu Deborah pun tiba dan sedikit bergurau mengatakan bahwa seandainya saya (dan seorang penonton lain yang telah berjanji untuk datang) tak datang, lokakarya akan dibatalkan. Ternyata dengan kombinasi menggunakan kendaraan umum dan berjalan kaki itu saya masih bisa mengalahkan tim Balinale dan Sundance Film Forward dalam mencapai Bentara Budaya Bali terlebih dulu.

Usai lokakarya yang dimulai terlambat (tradisi yang sangat Indonesia), para hadirin pun diajak untuk berfoto bersama. Selesai berfoto, saya pulang karena usai jeda 30 menit, film yang sudah saya tonton sebelumnya akan diputar lagi di Bentara Budaya Bali. Saya berjalan menuju halte Prof. I. B. Mantra. Saya melewati perempatan di mana lampu lalu lintasnya mati dan dua orang pecalang menggantikan tugas lampu lalin dan polisi. Selain itu saya juga berpapasan dengan seorang pekerja bangunan yang agak mabuk dan hampir berjalan di tengah-tengah jalan raya. Dia mengenakan kaos tanpa lengan berwarna hitam dengan logo salah satu ormas di Bali. Dia mengutarakan, "Om swastyastu. Hei!" Entah pada siapa ucapan itu ditujukan.

Semakin mendekati halte, seorang pria paruh baya menanyakan saya apakah saya mau menaiki ojek. Saya sangat yakin dia bukanlah tukang ojek tulen. Hanya mencari kesempatan dalam kesempitan. Saya menolak dengan sopan dan melanjutkan langkah saya.

Sesampainya di halte, saya merekam keadaan lalin dengan latar pengerjaan proyek patung (pemborosan APBD) di pertigaan antara Jl. Prof. I. B. Mantra dan By-Pass Ngurah Rai. 'Tukang ojek' itu melewati halte sambil melihat ke arah saya dengan senyum tipis. Tak lama, seorang pria (rasa-rasanya dari Indonesia timur) tiba. Dia turut menunggu kehadiran bus namun karena bus tak kunjung datang, dia pun meninggalkan halte.

Bus pun tiba. Ternyata kondektur sore itu adalah kondektur yang melayani saya pada perjalanan pertama saya hari ini. Dia masih ingat saya dan merasa agak kagum bahwa cukup cepat bagi saya untuk berpindah dari Tanah Kilap ke Prof. I. B. Mantra. Saya tanyakan mengenai jadwal tugasnya hari ini. Ternyata dia bertugas dari pukul 5 pagi hingga 9 malam alias seharian penuh. Katanya dia menggantikan seorang kolega. Tiba-tiba saya teringat kisah kondektur yang lesu karena datang bulan pekan lalu. Saya juga memperhatikan bahwa si kondektur kali ini sedang mengajari seorang kondektur trainee.

Sesampainya di halte Matahari Terbit, saya berpamitan dengan si kondektur dan melanjutkan langkah untuk pulang setelah seharian terlibat kegiatan-kegiatan spontan.

Maaf, saya sedang malas memberikan label

Oh ya, kopi di Bentara Budaya Bali rasanya masih buruk seperti saat Festival Film German Cinema. Hasil kupingan saya (jujur, ini bukan hobi) di Bentara Budaya Bali mengindikasikan bahwa pada acara festival film anti-korupsi yang akan diadakan di tempat yang sama esok akan dihadiri oleh ketua KPK. Hmm...

9/10/2014

Kendaraan Umum

Pekan lalu saya memiliki agenda di suatu daerah di kabupaten tetangga, Gianyar. Karena kendaraan pribadi bukanlah pilihan, saya pun memilih untuk menggunakan kendaaran umum setelah mengetahui dari penyelenggara acara yang hendak saya hadiri bahwa layanan kendaraan umum ada.

Walaupun saya agak ragu dalam menggunakan layanan tersebut, saya pun memaksakan kehendak untuk menghapus rasa penasaran akan layanan kendaraan umum tersebut.

Saya meninggalkan rumah sebelum matahari terbit dan berjalan kaki menuju halte bus Matahari Terbit, Sanur. Saat saya membaca papan informasi di halte, satu bus Trans Sarbagita lewat tanpa berhenti. Saya maklumi karena pandangan pengendara terhalang oleh bus pariwisata yang sedang berputar balik tak jauh dari halte.

Bus Trans Sarbagita kedua lewat dan berhenti. Saya dilayani seorang wanita dengan busana atas berupa endek. Saya membayar karcis dengan uang pas. Saya pernah dilayani wanita tersebut sebelumnya pada perjalanan lain dan kala itu saya diberikan karcis. Namun saya tidak diberikan karcis kali kedua pertemuan saya dengan si wanita. Saya juga satu-satunya penumpang saat itu. Saya tak menegur dan tak melaporkan hal itu walaupun pihak pengelola Trans Sarbagita mengimbau masyarakat untuk melaporkan kondektur yang nakal.

Setibanya di Batu Bulan saya diperkenankan turun melalui pintu depan bus karena bus tidak berhenti persis di halte. Toh, saya juga tidak menggunakan kursi roda sehingga tidak ada perlunya menggunakan pintu belakang.

Saya pun lekas mencari 'kendaraan umum' dengan tujuan yang tepat. Para pengemudi berebut penumpang yang tak begitu banyak. Sementara pengemudi untuk tempat tujuan saya santai saja. Dia meminta saya membayar Rp 100.000 untuk perjalanan ke tempat tujuan saya. Saya menolak karena harganya terlalu mahal.

Tidak hanya mahal, kendaraannya saja sudah bobrok. Bagaimana mungkin bisa kendaraan tersebut lulus uji berkala hingga akhir tahun 2014 dengan keadaan seperti itu? Si pengemudi lalu pergi merokok sambil sesekali memantau saya dari kejauhan. Creepy. Banyak sampah berserakan di terminal sementara pemkab melakukan perbaikan trotoar. Di seberang terminal, ada pasar*. Lengkaplah sudah keriuhan.

Usai merokok, si pengemudi kembali dan menyarankan saya untuk menaiki kendaraan kawannya namun saya harus turun di sebuah pertigaan di mana saya bisa menaiki 'kendaraan umum' lain untuk menuju tempat tujuan saya. Saya dipaksa membayar Rp 20.000 dan dibayar di muka. Tingkah laku si pengemudi pertama ini rasa-rasanya mulai mengikuti kaum Roma di berbagai kota utama Eropa.

Kendaraan kawannya ini sama bobroknya. Pintunya saja tidak bisa dibuka dari dalam. Orangnya sedikit lebih ramah daripada kawan perokoknya yang berjaket lusuh dan bergigi bawah kurang rapi itu. Namun sayang, dia rasis. Dia menanyakan dari Jawa mana saya berasal. Saya agak tersinggung. Saya asal jawab saja Jawa Timur. Orang tua saya memang berasal dari sana walaupun saya lahir dan dibesarkan di Denpasar. Anggap saja blending in. Saat saya tanyakan mengenai Trans Sarbagita dalam mengatasi kemacetan dia tidak menjawab. Apakah dia enggan menjawab karena tidak suka akan proyek tersebut atau tidak mengerti pertanyaan saya, saya tidak tahu.

Saya kira semua pengemudi di terminal kurang suka dengan Trans Sarbagita walaupun trayek-trayek mereka tidak bersinggungan. Pengemudi Trans Sarbagita dan kendaraan umum lainnya tidak berinteraksi satu sama lain. Mungkin masalah perbedaan generasi. Atau mungkin saja karena kelangsungan hidup mereka semakin terancam semenjak kehadiran proyek pemerintah itu.

Laju kendaraan yang pelan membuat saya terlambat dan akhirnya saya pun memutuskan untuk tidak menghadiri acara. Saya hanya mau kembali ke Denpasar. Kebetulan saat saya melewati pasar di Ubud, saya ditanya oleh salah satu pengendara kendaraan umum yang sedang mencari penumpang apakah saya mau ke Batu Bulan. Saya juga setuju dengan harga yang ditawarkan. Tapi dari mana si pengemudi ketiga ini tahu saya mau ke Batu Bulan? Dia tak menawarkan tempat-tempat lain yang dilewati trayeknya selain Batu Bulan kepada saya. Creepy. Apakah dia mengawasi saya saat di Batu Bulan tadi (padahal markas si pengemudi ketiga ini di Ubung) atau berpapasan dengan saya saat saya berjalan kaki menuju Ubud dari pertigaan di mana saya diturunkan? Ya, saya berjalan kaki dari tempat di mana saya turun menuju Ubud. Bagaimanapun, dialah pengemudi terbaik yang saya jumpai hari itu.

Setibanya di Batu Bulan, kendaraan bobrok yang semestinya saya naiki itu masih tak bergerak. Siapa yang mau naik kendaraan bobrok dengan tarif tak masuk akal? Teori ekonomi diciptakan untuk mempermudah segalanya tapi si pengemudi tak mengindahkan teori tersebut sehingga kendaraannya hanya bisa teronggok di terminal. Mungkin dia tak mengerti teori ekonomi tapi yang jelas dia tak mengerti siasat berdagang. Bagaimana mungkin bisa bersaing dengan tingkah laku seperti itu? Kalau tak perlu pembeli jasa, pensiunlah.

Saya berusaha untuk tidak berpapasan dengan si pengemudi kendaraan bobrok itu sembari berjalan menuju halte Trans Sarbagita. Biarlah saya dianggap pekerja migran naif tapi idealis dari Jawa Timur.

Saat saya menaiki Trans Sarbagita, tebak siapa kondektur yang melayani saya. Ya, wanita yang melayani saya saat menuju Batu Bulan tadi. Bedanya kali ini dia tampak lesu. Usut punya usut, ternyata si kondektur sedang haid. Terpaksalah seorang pegawai dari Dishub menggantikan si kondektur selama perjalanan menuju Nusa Dua.

Kali ini saya membayar karcis dengan uang Rp 4.000. Tidak ada kembalian Rp 500 diberikan kepada saya hingga akhir perjalanan saya di halte Matahari Terbit, Sanur. Saya memang diberikan karcis kali ini.

Jujur saja, saat saya tinggal di berbagai negara asing dulu saya adalah penggemar kendaraan umum. Sewaktu saya tinggal di Swiss sebagai mahasiswa pertukaran dan berkeliling Eropa, semua perjalanan saya (kecuali tur) dilakukan hanya dengan kendaraan umum (dan berjalan kaki). Namun (pe)layanan kendaraan umum di tanah air perlahan-lahan membuat saya benci benda ini. Mungkin saya harus bekerja untuk Kementerian Perhubungan dan melakukan reformasi dari dalam?

*Pasar tidak harus berkonotasi negatif. Orang Indonesialah yang sebenarnya tidak pandai mengatur pasar sehingga lahir makna negatif untuk kata tersebut.

9/09/2014

Stalin dalam Format Digital

Sebuah dokumenter radio dari BBC Radio 4 mengenai proyek dalam mendigitalkan arsip-arsip Stalin. Ya, termasuk rahasia-rahasianya dengan harapan kita dapat lebih mengerti Stalin.

http://www.bbc.co.uk/programmes/b04fz400

9/06/2014

Adam Chisholm

 I might be in the minority here but I would like to see Betty to go steady with Adam. He hasn't been seen that often in more recent publications other than reprints of past stories. He wasn't even mentioned at all in the revived Life with Archie series.

I thought he's cute in his own way. Though I'd like to know more about his background.

9/05/2014

Neraka di antara Fjord

Beberapa bulan yang lalu saya membuat sebuah resensi yang terkesan agak personal kepada salah satu majalah daring. Resensi saya membahas seri televisi dari Norwegia yang berjudul Hellfjord (yang saya tonton pada saat-saat terakhir saya di Australia).

Baru saja saya mendapat kabar dari editor majalah yang bersangkutan bahwa artikel saya telah dibaca dan dibalas oleh salah seorang produser seri tersebut. Selengkapnya bisa dibaca di tautan berikut:

http://www.cinemascandinavia.com/television-in-review-hellfjord/

9/03/2014

Hak Siar

Mari kita jeda sejenak dari resensi-resensi saya mengenai film-film yang diputar selama perhelatan Festival Film German Cinema 2014. Pada akhir pemutaran film Kohlhaas, seorang peserta berkomentar mengenai keberadaan film-film yang ditayangkan selama festival usai berakhirnya festival. Ibu Lanny Tanulihardja dari Goethe Institut merespon bahwa ada beberapa film yang tersedia di perpustakaan Goethe Institut dan dapat dipinjamkan untuk komunitas-komunitas film yang ada di Indonesia.

Namun ada beberapa film yang tidak dapat disaksikan kembali setelah festival berakhir karena Goethe Institut hanya menyewa film-film tersebut. Kemungkinan film-film itu akan dipinjamkan untuk perhelatan festival film di negara-negara lain. Ibu Lanny juga mengungkapkan bahwa dalam perhelatan festival film, film-film yang disewa oleh Goethe Institut dibayar dengan mata uang euro yang agak memberatkan Goethe Institut Indonesien karena biaya yang dikeluarkan menjadi lebih mahal. Oleh karena itu beliau amat menyarankan agar pada setiap pemutaran dapat dipadati pengunjung agar film-film yang disuguhkan dapat dinikmati dengan maksimal.

Andaikan hal serupa juga berlaku pada kegiatan-kegiatan yang ditayangkan lembaga kebudayaan lain, saya rasa AF Bali pasti merugi (baca tulisan saya sebelumnya mengenai hari pertama Festival Film German Cinema 2014). Biasanya hanya saya (mungkin ada satu atau dua orang lain tapi biasanya pulang sebelum film berakhir) ditambah satu-dua staf AF Bali. Setidaknya acara Europe on Screen lebih laris karena popularitas acara tersebut.

Hal ini berbeda dengan festival film-festival film asing di Australia di mana saya pernah tinggal.

Scandinavian Film Festival di Adelaide
Saya yakin aturan mengenai sewa-menyewa film di Australia cukup serupa dengan apa yang dijalankan Goethe Institut Indonesien. Bedanya Australia adalah negara yang lebih makmur, jikalau ditarik biaya untuk menonton film pastinya juga akan tetap ada peminat karena daya beli masyarakatnya tinggi. Karcis untuk pemutaran film Kvinden i buret (Keeper of Lost Causes) pada Scandinavian  Film Festival di Adelaide laris manis, tidak ada kursi yang tersisa. Saya yang saat itu datang cukup awal ke bioskop saja diberitahu bahwa hanya tersisa dua kursi sewaktu hendak membeli karcis. Harga karcisnya? 20 dolar untuk dewasa, 16 dolar untuk pelajar dan lansia serta 14 dolar untuk anggota klub bioskop.

Saya pernah menghadiri sebuah sarasehan mengenai isu pembajakan di Australia. Pembajakan biasanya dilakukan oleh kaum muda dan obyek-obyek bajakan adalah film-film atau seri televisi populer seperti Avengers atau Game of Thrones. Tidak banyak yang tertarik untuk mengunduh film-film berbahasa asing yang biasanya ditonton seorang lansia. Walaupun demikian, animo masyarakat yang cukup tinggi membuat foreign language films tetap bertahan di negeri kangguru tersebut. Oke, lembaga penyiaran publik SBS cukup berjasa dalam mempopulerkan foreign language films.

Saya yakin dengan meningkatnya kemakmuran bagi kebanyakan penduduk Indonesia akan meningkatkan permintaan akan foreign language films. Tapi itu tergantung kita sendiri sebagai penonton. Apakah Anda mau variasi akan film-film yang diputar di bioskop Anda ataukah Anda lebih memilih untuk menonton film-film yang begitu-begitu saja? Budaya apresiasi film juga perlu diperbaiki. Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, banyak yang berisik pada hari pertama pemutaran Festival Film German Cinema 2014.

Uang tidak dapat membeli selera tapi apakah Anda mau bereksperimentasi dengan hal-hal yang ingin Anda cicipi? Tentu saja bagi beberapa orang menonton film-film asing akan menjadi sebuah acquired taste. Mungkin itu adalah beban bagi sebagian. Tapi apakah Anda menghargai perbedaan? Karena film-film asing memberikan jalan cerita, estetika, dan format penyajian yang berbeda dari apa yang biasanya Anda saksikan. Kalau Anda benar-benar menghargai perbedaan, hargailah perbedaan-perbedaan yang ada pada film-film asing. Mungkin saja Anda akan jatuh cinta padanya.

9/01/2014

Laut yang Tenang

Poster film Meeres Stille di luar ruang pemutaran
Berdasarkan kata-kata yang diucapkan ibu Lanny Tanulihardja dari Goethe Institut, Meeres Stille adalah film yang eksklusif ditayangkan dalam perhelatan festival film tahun ini. Film ini belum tayang di bioskop-bioskop Jerman. Trailer film ini juga belum bisa ditemukan di YouTube.

Film ini mengisahkan sebuah keluarga yang melakukan liburan ke sebuah rumah di dekat tepi Laut Baltik saat libur musim panas. Rumah yang mereka tempati menyimpan kisah-kisah tersembunyi. Si anak menemukan foto yang disembunyikan di balik keramik kolam renang yang kosong. Foto itu membawa pikiran si ibu melayang entah ke mana.

Jika diperhatikan, saya rasa ada banyak kisah yang si ibu tak ceritakan pada keluarganya dan rumah itu menjadi katalis dalam kenangan-kenangan tersebut untuk mulai diangkat. Film ini dibuat dengan memadukan gaya kilas balik tapi selama pemutaran, saya bertanya-tanya apakah kilas balik itu benar-benar terjadi ataukah itu hanyalah imajinasi si ibu? Mungkin sebagian orang malah akan menganggap film ini sebagai film horor (film horor Eropa cenderung jauh lebih sophisticated dan cerdas daripada film horor yang selama ini kita kenal).

Jujur saja saya masih bingung dengan alur cerita Meeres Stille. Film ini cenderung mengingatkan saya pada Café de Flore (Kanada, 2011) yang alur narasinya juga cukup membingungkan. Walaupun begitu, dapat saya katakan bahwa dari delapan film yang saya tonton selama festival berlangsung film ini adalah film favorit kedua saya.

Mungkin saya harus membaca novel karya Stefan Beuses untuk lebih memahami jalan ceritanya.

Meeres Stille ditayangkan sebagai bagian dari rangkaian pemutaran film Festival Film German Cinema 2014 di Bentara Budaya Bali pada tanggal 29 Agustus 2014.

Capailah Garis Horison, Lalu Belok Kiri!

Bagaimana jadinya jika orang tua yang Anda tinggalkan di panti jompo terlibat pada sebuah pembajakan? Mungkin Anda akan bertanya-tanya bagaimana orang yang sudah lanjut usia dan mungkin jalannya sudah tertatih-tatih dan bahkan kalau bicara sudah sering tidak karuan bisa terlibat dalam pembajakan? Atau jangan-jangan maksudnya orang tua saya yang disandera pembajak? Siapa memangnya yang mau membajak panti jompo?

Bukan, orang tua Anda sedang mengikuti darmawisata udara yang diadakan pengelola panti jompo. Tapi mengapa ada orang yang mau membajak pesawat yang ditumpangi para lansia? Pesawatnya pun pesawat tua dengan kemampuan jarak terbang yang tak sebanding dengan pesawat jet masa kini. Kalaupun ada pembajakan, pasti pelakunya orang dalam bukan? Mungkin saja tapi begitu mendengar anggota keluarga atau kerabat terlibat dalam sebuah drama pembajakan, pikiran Anda pasti langsung tak karuan bukan?

Bagi saya, Bis zum Horizont, dann Links! sekilas terasa seperti The 100-Year-Old Man Who Climbed Out the Window (ok, saya hanya pernah menyaksikan trailernya saja). Walaupun Bis zum Horizont adalah film komedi, ianya mengandung pesan-pesan akan kehidupan - apakah Anda sudah menikmati hidup Anda selama ini? Apakah hubungan Anda dengan pasangan atau keluarga Anda baik-baik saja selama ini? Ataukah Anda memaksakan diri Anda supaya orang lain melihat hubungan Anda seolah-olah baik-baik saja?

Meningkatnya kualitas hidup dan produktivitas manusia terkadang membuat kita lupa akan hal-hal yang ditanyakan tadi. Kita kerap memilih jalan aman, dalam film ini misalnya panti jompo. Mungkin akan lebih baik jika kita diskusikan pertanyaan-pertanyaan di atas dalam resensi film Was Bleibt, film yang mengangkat tema yang serupa namun lebih serius sekaligus film favorit saya selama festival berlangsung, yang akan saya buat.

Rasa-rasanya saya akan lebih menikmati film ini jika saya mengerti bahasa Jerman lebih dalam. Saya rasa ada permainan aksen antara penutur bahasa Jerman Jerman dan penutur bahasa Jerman Austria. Dan nikmatilah keindahan pantai Kroasia dalam film ini (saya rasa si pembajak menginginkan Yunani tapi beggars can't be choosers). Sayang saya belum pernah ke Kroasia walaupun pernah berada hanya sekitar 20 km dari perbatasan Slovenia-Kroasia.

Bis zum Horizont, dann Links! ditayangkan sebagai bagian dari rangkaian pemutaran film Festival Film German Cinema 2014 di Bentara Budaya Bali pada tanggal 29 Agustus 2014.