10/31/2014

Paha Katak

Suatu senja dua minggu yang lalu saya mengunjungi sebuah pasar swalayan yang dulunya merupakan pasar swalayan grosir dari Belanda. Di mesin pendingin diselipkan potongan-potongan paha katak. Letaknya persis di sebelah tiram.

Siapa yang beli? Paling-paling rumah makan yang menawarkan swike di menu makanannya. Ada berapa banyak rumah makanan yang menawarkan hidangan tersebut di Bali selatan? Entah.

10/30/2014

Empat Musim dalam Setahun

Karena memotret dengan ponsel dilarang selama pertunjukan
Setelah beberapa minggu tak keluar rumah karena harus mengawasi proyek keluarga, kemarin akhirnya saya berkesempatan untuk menghirup udara luar untuk melihat sebuah pementasan wayang tangan oleh grup Budrugana Gagra asal Georgia di Bentara Budaya Bali. Di acara Facebook Bentara Budaya Bali, acara dijadwalkan dimulai pada pukul 18.00 tapi reklame di luar kompleks Kompas-Gramedia Bali tertulis pukul 19.00. Seperti biasa, acara molor selama hampir satu jam dan baru dimulai sekitar pukul 19.50.

Saya tiba sekitar pukul 17.50 disambut oleh para sukarelawan. Para pemeran masih melakukan persiapan dan akhirnya saya pun melihat-lihat lukisan-lukisan dalam pameran Asian Watercolour Expression II sembari menunggu dilanjutkan menjelajah internet melalui jaringan nirkabel gratis yang tersedia. Sekitar pukul 19.00, para hadirin yang sudah berada di dalam ruangan diminta untuk keluar karena akan ada 'permainan cahaya'. Kudapan berupa pastel dan dadar gulung serta kopi dan teh (yang rasanya sudah lebih baik daripada sebelumnya) disediakan untuk para hadirin.

Semakin malam, Bentara Budaya Bali semakin ramai dengan kehadiran anak-anak dari sebuah panti asuhan yang khusus datang untuk menyaksikan pertunjukan tersebut. Saya pun bertanya kepada salah seorang sukarelawan mengenai agenda bulan depan dan dijawab bahwa dia belum tahu. Anak-anak yang hadir bermain riang di halaman Bentara Budaya Bali menantikan pertunjukan dimulai. Saya melihat anggota kelompok Budrugana Gagra menyantap hidangan makan malam yang disajikan di bale lain di dalam kompleks Bentara Budaya Bali.

Saya mendengar percakapan dari pengurus Bentara Budaya Bali dengan orang yang saya duga pengurus kelompok Budrugana Gagra, orang Indonesia namun fasih berbahasa Georgia. Katanya si pengurus kelompok sebetulnya ingin pentas di empat kota yakni Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Bali (sebetulnya juga ini bukan kota). Keterbatasan dana memaksa si pengurus untuk menjadwal ulang rangkaian pementasan kelompok tersebut dan mencari sponsor. Sriwijaya Air berminat dan memang saya sempat bingung mengapa ada reklame maskapai penerbangan tersebut di dekat meja pendaftaran tamu Bentara Budaya Bali tadi malam. Mereka berhasil pentas di Teater Salihara, Jakarta dan harus hadir di Bali karena mereka akan melanjutkan perjalanan mereka ke Bangkok sesudah ini. Detil-detil lainnya tidak akan saya angkat.

Akhirnya, para hadirin dipersilakan masuk dan diminta untuk mengisi baris kursi depan terlebih dahulu. Acara dimulai dengan sambutan oleh seorang sukarelawan dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris serta beberapa informasi tambahan yang bisa dilihat pada slide PowerPoint. Saya agak kurang suka dengan tulisan-tulisan yang disediakan, misalnya Georgia - Eropa Timur dan Tbilisi, sebuah kota di Georgia. Secara budaya dan politik Georgia memang berada di Eropa tetapi secara geografis berada di perbatasan Eropa dan Asia. Begitu pula dengan Tbilisi yang sebenarnya merupakan ibu kota negara tersebut dan bukan hanya 'sebuah kota'.

Pertunjukan bertajuk The Four Seasons of the Year berdurasi 60 menit dimulai. Pertunjukan ini tanpa dialog dan diiringi dengan musik. Pertunjukan ini mengisahkan seekor beruang yang baru bangun tidur dan baru belajar mengenai alam di sekitarnya, perkenalannya dengan seekor burung dan bebek, dan pelajaran berenang. Karena sifatnya yang dua dimensi inilah guyonan-guyonan lahir.

Pada akhir pertunjukan, para hadirin dipersilakan untuk melihat dari balik layar serta belajar mengenai permainan tangan untuk dapat menghasilkan wayang. Fotonya dapat Anda lihat di sini. Di penghujung acara, sukarelawan yang sama pun mengumumkan bahwa hari ini akan diadakan lokakarya pada pukul 15.00 serta dilanjutkan dengan pertunjukan yang bertajuk Isn't This a Lovely Day. Rasa-rasanya sih saya akan berhalangan hadir nanti sore.

N.B.: Saya agak risih pada beberapa pengumuman tertulis yang tersedia. Mengapa? Karena 'dipersilahkan' dan 'pertunjukkan' jelas-jelas salah eja.

Pembaruan:

Usut punya usut di Facebook, ternyata mereka sempat tampil di Rumah Budaya Tembi, Yogyakarta sebelum hadir di Bali.

10/29/2014

Pembaruan: Coursera, Film & Televisi Skandinavia

Kemarin saya mendapatkan surel yang menyatakan bahwa saya telah lulus mata kuliah Scandinavian Film & Television dan with distinction. Saya periksa nilai saya dan ternyata saya mendapatkan 127,5 persen. Saya pun menulis di forum makul tersebut bahwa saya senang bisa mendapatkan distinction namun nilai di atas 100 persen rasanya kurang pantas. Hingga pos ini ditulis belum ada tanggapan yang diberikan oleh staf yang terlibat pada MOOC tersebut.

Usut punya usut, ada beberapa pelajar yang tidak melakukan salah satu komponen tugas yakni peer assessment dan tetap lulus bahkan juga dengan nilai distinction di atas 100 persen. Salah seorang pelajar menulis bahwa di salah satu MOOC lain yang pernah dia ikuti di mana dia juga mendapat nilai di atas 100 persen katanya nilai di atas 100 itu bisa tercapai jika si pelajar aktif di forum.

Agak berantakan memang dan jujur saja saya tidak menduga bahwa sebuah universitas ternama Denmark bisa melakukan stuff-ups sekaliber ini. Ya, plural karena pada saat tugas esai saja jumlah kata yang harus ditulis pada informasi yang diberikan bertolak belakang (katanya di bawah 800 tapi pada informasi lain di halaman yang berbeda tertulis sekitar 600 kata). Beberapa kuis juga memberikan pelajar nilai 5 dari 2. 250 persen? Saya juga pernah terlambat mengirimkan kuis dan sebagai konsekuensinya harus menerima bahwa saya hanya akan mendapatkan setengah dari nilai yang seharusnya saya dapatkan. Tapi dengan 127,5 persen, sepertinya nilai itu belum dipotong.

MOOC ini memang menarik tapi beberapa hal sepele seperti ini justru membuat beberapa pelajar merasa kurang nyaman.

10/27/2014

iPod

Hari ini saya mendapat kiriman lagi. Isinya iPod Shuffle 2GB. Tidak dijelaskan siapa pengirimnya tapi dugaan saya adalah pihak penyelenggara lomba foto #DestinationEurope2014.

Sudah saya kirimkan ucapan terima kasih kepada pihak penyelenggara melalui surel baru-baru ini.

Yakin mereka? Yakin sekali. Seingat saya, saya hanya memenangkan satu perlombaan lagi - diselenggarakan oleh Deutsche Welle English (lomba menebak kota dari pengumuman metro masing-masing kota). Hadiah yang ditawarkan mereka juga berupa pernak-pernik berlogo DW.

Seri Televisi Italia


Seri televisi Italia adalah salah satu seri televisi asing yang pernah saya tonton walaupun baru satu - Il Giovane Montalbano (judul SBS: The Young Montalbano). Dari penjelasan pada kalimat sebelumnya Anda mungkin bisa menebak di mana saya menontonnya. Seri yang saya tonton ini hanyalah spin-off dari Commissario Montalbano. Seri ini sendiri dibuat berdasarkan novel karya Andrea Camilleri

IGM hanyalah seri prosedural kepolisian biasa namun tokoh-tokohnya memiliki sentuhan Italia (jam karet, korup, suka bersantai). Montalbano muda yang sedang bercumbu. Ada juga Catarella, seorang opsir dengan pendengaran yang kurang baik. Saya masih ingat dia salah mendengar nama orang sehingga terjadi kebingungan. Nama orang tersebut didengarnya sebagai Algida Beneventano. Algida adalah merk dagang es krim Wall's di Italia.

Di Inggris, banyak yang bilang bahwa seri Montalbano hanyalah program wisata dengan selingan kasus kriminal. Saya kurang suka dengan pemilihan Michele Riondino karena saya merasa bahwa dia agak overrated. Patut diperhatikan juga pada saat saya menonton seri tersebut saya baru saja menonton dua film Italia (Dieci inverni dan Il passato è una terra straniera) yang memerankan aktor yang sama sehingga saya merasa agak jenuh.

Berbeda dengan seri TV Skandinavia yang gemar memuramkan gambar di layar kaca, seri TV Italia justru gemar menunjukkan sinar matahari Mediterania. Ya, bahkan di seri TV Italia suram klasik macam La piovra (baru berhasil menonton dua episode dari musim pertama).

Percobaan Kamera

Setelah lebih dari setahun tidak berponsel karena berbagai alasan, saya akhirnya berponsel lagi. Hidup saya toh bahagia-bahagia saja selama tak berponsel. Hanya saja karena urusan perbankan dan keluarga (dua-duanya terkait) memaksa saya untuk kembali berponsel.

Saya mencoba memotret menggunakan ponsel baru saya lalu disunting bertajuk beberapa buku yang tergeletak di kamar saya. Buku karya Mikhail Sholokhov (The Don Flows Home to the Sea), Ma Jian (Red Dust), dan Roberto Bolaño (2666) serta buku Le best of de la BD: Largo Winch adalah buku yang saya beli. Selebihnya gratis didapat melalui memenangkan lomba atau pemberian buku gratis di fakultas saya dulu. Biasanya masih ada satu buku lagi di antara tumpukan tersebut (Snow karya Orhan Pamuk) namun saya meletakkannya di tas sebagai bacaan selama perjalanan (dan hingga saat ini belum selesai dibaca). Di samping tumpukan itu ada kalendar tahun 2014 yang desainnya sangat aneh. Dapat gratis juga dari Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia.

Ya, mendapatkan benda-benda secara gratis atau melalui keterlibatan dalam lomba sudah menjadi kebiasaan sejak saya masih duduk di bangku SD dulu. Ya, saya juga ingin memulai hobi baru yakni membaca berbagai bacaan dari seluruh penjuru dunia akibat terinspirasi akan pencapaian Ann Morgan melalui proyek A year of reading the world-nya. Proyek saya agak gagal sih tapi saya ingin mengulanginya lagi dan lagi.

N.B.: Saya baru berhasil membaca dua buku yakni karya penulis Vietnam Duong Thu Huong yang pernah saya tulis resensinya di blog ini dan The House of Ulloa oleh Emilia Pardo Bazán. Membaca seri novel Kurt Wallander tidak saya anggap sebagai bagian dari hobi ini walaupun saya menganggap novel-novel lain karya Henning Mankell sebagai bagian dari proyek mercusuar ini. Saya juga sempat membaca sebagian novel karya penulis Albania Ismael Kadare (bagian dari gagal).

10/25/2014

Kesibukan Lain

Semenjak saya berhasil menyelesaikan MOOC Scandinavian Film & Television, saya terpacu untuk mengerjakan MOOC-MOOC lainnya. Oleh karena itu untuk sementara waktu blog ini akan menyepi. Tentu saya akan kembali sewaktu-waktu jika ada hal menarik yang patut diangkat.

10/17/2014

Reklame yang Terhalang

Suatu senja akhir pekan lalu saya berjalan di sekitar kawasan pemerintahan di Renon. Saya melihat adanya reklame yang mengajak para ibu untuk memberikan ASI kepada buah hati mereka, didampingi dengan gambar seorang ayah yang penuh perhatian. Begitulah orang tua masa kini seharusnya - kedua belah pihak harus berperan dalam mengembangkan anak mereka dan bukan salah satunya saja. Jika ada kakek atau nenek akan lebih baik lagi.

Ada dua hal yang ingin saya angkat. Pertama, saya sangat setuju dengan iklan layanan masyarakat mengenai ASI ini. Jadi, wahai ibu se-Indonesia, berikanlah ASI kepada anakmu hingga usia mereka menginjak 6 bulan dan perhatikanlah tumbuh kembang mereka. Jangan hanya mengandalkan susu bubuk.

Agak keluar dari topik tapi penting untuk diangkat. Saya sangat risih apabila melihat iklan di televisi yang berbunyi, "Anaknya pintar! Pasti minum susu mahal!" Seorang anak tumbuh berkepribadian karena pengaruh orang-orang di sekitar mereka. Jika tidak demikian, bersyukurlah anak itu karena dikelilingi oleh orang-orang yang ingin kehidupan si anak jauh lebih baik daripada orang dewasa di sekitarnya. Bukan karena minum susu mahal. Kalau hanya karena susu, lebih baik saya segera membuat anak lalu cekoki anak tersebut dengan susu tanpa perlu saya awasi karena toh anak tersebut akan tumbuh berkepribadian yang baik (menyindir).

Kedua, mengenai estetika peletakan poster. Poster diambil dari sudut miring. Wajah si nenek terhalang. Ada kabel listrik melintas pula memburamkan pesan di sisi atas reklame. Amat disayangkan. Belum lagi peletakan reklame di kawasan pemerintahan Renon dan bukan di jalan-jalan utama kota Denpasar. Saya harap pihak terkait melakukan penyuluhan ke banjar-banjar (berpikiran positif).

10/15/2014

hate

Merriam-Webster defines hate noun as a) intense hostility and aversion usually deriving from fear, anger, or sense of injury and b) extreme dislike or antipathy. The first definition involves the word fear which is rather interesting because let's say you hate someone because of his/her sexuality, do you get labelled as a homophobic? Homophobia is defined as irrational fear of or discrimination against homosexuality or homosexuals. That's a rather strong use for the word phobia.

I am suffering from alektorophobia - that is the fear of chickens - and yes, sometimes my fear is irrational whenever I'm around one but in that situation, do I discriminate against chicken or would I rather run away from that place? I would rather run away because of my fear and I couldn't do anything about it.

When you hate someone because of his/her skin colour, race, religion, sexuality, gender etc., is fear really running down your spine or are you simply being prejudiced? If someone from a different religion from you is hanging around your place, would you rather run away because of your fear like I would run away from chickens? Chances are you wouldn't.

Now imagine, I hate being surrounded by chickens and so I start a hate campaign against chickens. Would people take my advocacy seriously or would they look at me as if I were a weirdo? Hate speech takes place when you can't control your prejudices anymore and let yourself be a jerk (and/or weirdo).


Humans are supposed to be civilised creature. If there's something particular about someone that you don't feel comfortable about, discuss it in a civilised tone. Hate speech is never OK. You can change your attitude towards other people. So change it!

P.S.: I can't change my attitude towards chickens because I just can't talk to them (and they look scary anyway).

Eurovision 2015 - Tanpa Bulgaria & Kroasia Lagi


Mungkin Anda sudah bisa menebak bahwa jika terpengaruh dengan tayangan-tayangan televisi dari Eropa secara tidak langsung membuat saya juga terpapar pada sebuah produk kebudayaan televisual yang dapat dijelaskan sebagai sampah, queer namun di sisi lain menyatukan keberagaman dan dicintai banyak khalayak - Eurovision Song Contest (ESC). Saya tidak akan menjelaskan panjang lebar sejarah acara ini karena Anda bisa mencari tahu sendiri di Wikipedia. Ya, acara musik nggak jelas tapi menonjolkan keberagaman (dan terkadang unclassified) di mana puluhan negara Eropa dan yang berpura-pura Eropa (seperti Azerbaijan dan Israel) berkumpul biasanya di sebuah kota di negara yang memenangkan ESC pada tahun sebelumnya.

ESC adalah tayangan yang sangat televisual, acara ini tidak mungkin dibuat film. Kalau ada yang nekad membuat filmnya, pasti tidak akan sebagus versi televisi. Ya, televisi sebenarnya adalah obyek seni yang distinct dan bisa berdiri sendiri walaupun sering dianaktirikan oleh khalayak yang masih kerap menganggap bahwa film adalah seni dan televisi adalah perusak otak. Jujur saja, kalau Anda tidak cerdas memilih tayangan dan tidak membuat gerakan untuk meningkatkan mutu tayangan, jangan salahkan TV karena yang bermasalah sebenarnya adalah penyedia tayangan.

Et enfin, nous attribuons nos douze points pour ...

Pada ESC tahun ini, hanya tiga negara bekas Yugoslavia (Montenegro, Republik Makedonia, dan Slovenia) yang hadir. Bosnia & Herzegovina, Kroasia, dan Serbia absen. Bulgaria yang sebenarnya tidak satu geng tapi sekompleks juga idem. Tahun depan rencananya lembaga penyiaran publik (LPP) Serbia RTS akan kembali ikut serta. Begitu pula dengan BHRT Bosnia & Herzegovina yang telah absen selama dua tahun. Pada awalnya BNT Bulgaria menyatakan ketertarikan untuk kembali namun berhubung situasi politik yang tidak memungkinkan kejelasan anggaran untuk LPP tersebut, BNT memilih jalan aman dengan tidak ikut serta. Padahal tahun lalu sempat terjadi protes oleh salah satu anggota DPR Bulgaria yang menyatakan bahwa ESC adalah salah satu cara untuk meningkatkan kesadaran dunia, khususnya Eropa, tentang Bulgaria - negara yang selama ini dipandang sebelah mata dan dianggap miskin.

Kroasia memutuskan untuk kembali absen pada ESC 2015 di Wina, Austria walaupun HRT akan ikut serta pada acara saudara Junior ESC 2014 di Malta. BNT yang keuangannya ngos-ngosan juga akan hadir di JESC dengan bekerja bersama stasiun TV swasta BTV.

Secara musikal, saya lebih tertarik dengan lagu-lagu yang pernah mewakili Kroasia seperti Lijepa Tena (Tena yang Cantik - 2009), Lako je sve (Segalanya Mudah - 2010) dibandingkan dengan Bulgaria yang mana kebanyakan lagu yang mereka kirimkan terdengar seperti kecelakaan lalu lintas. Hanya Na Inat (entah bagaimana diterjemahkannya - 2011) yang cocok dengan selera saya (walaupun sayangnya gagal menuju babak Grand Final).

Bagaimanapun, andai kata ada LPP yang gagal mendapatkan pendanaan yang diperlukan (terutama RTCG Montenegro dan RTS Serbia) negara tersebut mungkin tidak akan hadir di ESC tahun depan. Saya punya firasat Ukraina akan kembali lagi tahun depan. Sementara mengenai Ceko dan Slowakia - Ceko (terakhir kali ikut serta pada tahun 2009) tidak pernah mengirimkan lagu yang pas dengan selera masyarakat mana pun kecuali negerinya sendiri; Slowakia (terakhir kali ikut serta pada tahun 2012) sudah terlalu sering dizalimi di ESC, biarkanlah dan wajar mereka ngambek.

10/14/2014

Closed Caption

Closed caption (CC) adalah transmisi teks pada televisi yang rasa-rasanya belum pernah saya lihat diterapkan di Indonesia. Saya kira teknologi yang digunakan cukup sama dengan teleteks. Namun berhubung teleteks terakhir yang pernah saya tangkap di Indonesia terjadi lebih dari 10 tahun yang lalu, ... ya sudahlah.

CC bertujuan untuk memudahkan mereka yang memiliki kesulitan pendengaran untuk mengerti apa yang sedang diperbincangkan di layar kaca. Di Australia, misalnya, ada aturan di mana setiap saluran utama stasiun televisi diharuskan untuk memberikan CC pada tayangan antara pukul 18 hingga tengah malam. Aturan itu secara progresif mulai diterapkan pada tayangan di luar jam tayang tersebut serta di saluran-saluran digital. Barang siapa gagal memenuhi tuntutan layanan publik tersebut akan diberikan sanksi oleh Australian Communication & Media Authority (ACMA - walaupun lembaga ini bernasib kurang lebih sama seperti KPI di Indonesia, hanya sekadar macan kertas tapi itu kisah lain).

Biasanya mereka yang bekerja membuat CC tersedia pada siaran langsung adalah lulusan ilmu jurnalisme terpilih yang memiliki kemampuan mengetik minimal 150 kata per menit (diutamakan tanpa kesalahan baik pengejaan maupun tata bahasa) dan berpendengaran baik. Walau bagaimanapun saat saya masih kuliah dulu dan menonton siaran 7 News Brisbane dengan menyalakan CC, saya membaca:

Thank you, Sharyn.

Padahal ibu Sharyn Ghidella sedang tidak bertugas membaca berita hari itu dan digantikan oleh Jillian Whiting. Bersyukur pembaca berita olahraga yang bertugas kala itu tidak mengucapkan apa yang tertulis di CC melainkan, "Thank you, Jillian," saat segmen berita beralih menuju berita olahraga. Walaupun saya juga pernah menyaksikan kejadian serupa dan pembaca berita olahraga asal membaca apa yang tertulis di layar (apa itu namanya yang pembaca berita gunakan supaya mereka bisa membaca dengan lancar tanpa mengalihkan pandangan dari kamera - yang tertulis terbalik namun terpantul refleksi?).

CC juga dapat digunakan oleh para pelajar bahasa asing yang menetap di mana bahasa yang hendak mereka pelajari itu digunakan secara luas. Di beberapa negara seperti Prancis dan Spanyol, logo CC bukanlah CC dalam kotak melainkan gambar telinga dengan garis diagonal di tengah-tengahnya (sama seperti gambar yang bisa Anda temukan pada alat bantu pendengaran).

Layanan ini sangat membantu apabila ada tayangan televisi yang hendak Anda tonton lewat tengah malam tapi Anda tidak mau mengusik kenyenyakan tidur orang-orang di rumah Anda atau tetangga. Tentu saja, bacalah jadwal acara TV terlebih dahulu. Mengapa? Di Australia, jadwal acara televisi harus mengumumkan klasifikasi apa yang acara tersebut dapatkan (G, PG, M, MA15, AV15 - acara berklasifikasi MA18 atau di atasnya tidak boleh tayang di televisi terrestrial), apakah acara tersebut mengandung CC atau tidak.

Di Amerika Serikat, misalnya, CC tersedia untuk lebih satu bahasa walaupun dialog pada acara tersebut belum tentu menggunakan bahasa lainnya. Hanya pada tayangan tertentu.

Jika diterapkan dengan tepat, selain mengurangi tingkat pengangguran lulusan ilmu jurnalisme di Indonesia serta meningkatkan budaya membaca, CC juga dapat digunakan untuk menyelamatkan bahasa daerah jika stasiun televisi yang bersangkutan bersedia menerjemahkan dialog pada suatu acara ke dalam bahasa daerah. Ini meningkatkan minat untuk mempelajari bahasa daerah, meningkatkan pendaftaran mahasiswa/i untuk program-program sastra daerah, dan menaikkan pamor bahasa daerah yang semakin tenggelam.

Yang saya bahas sebetulnya CC atau bahasa daerah?

Ralat: Perbaikan beberapa informasi yang dirasa malah menyesatkan pembaca

Enjera

Foto diambil pada saat Festival Pengungsi Brisbane, Juni 2012
Kalau menurut saya, ada satu jenis makanan yang belum tersedia secara luas di Indonesia. Restoran-restoran Korea, Jepang, Italia, dll. mungkin sudah menjamur di Indonesia tapi tidak dengan yang satu ini.

Tiga potong roti tipis yang rasanya sedikit asam tapi gurih, sejenis lauk daging seperti rendang namun berbau tomat, sayur dan kentang yang dimasak hingga kuahnya agak kering serta nasi. Yang baru saya jelaskan hanyalah sekelumit makanan khas Ethiopia dan Eritrea.

Saya merindukan masakan asing ini yang anehnya memiliki citarasa yang saya kenal. Restoran-restoran Ethiopia dan Eritrea sudah menjamur di Amerika Serikat, negara-negara Eropa barat, dan Australia. Saya yakin Indonesia harus berdialog dengan Afrika. Mungkin restoran Ethiopia/Eritrea adalah salah satu jalan pengenalannya.

Dan jika Anda masih membayangkan Ethiopia sebagai negara yang kekurangan pangan, ingatlah bahwa malnutrisi juga masih melanda negeri ini di tengah hingar-bingar pembukaan rumah makan baru di kota-kota besar negeri ini.

10/13/2014

Film & Televisi Skandinavia

Materi yang diberikan juga menggunakan arsip dari siaran televisi Swedia
Saya sudah cukup sering menonton film dan seri televisi dari Skandinavia walaupun tidak terlalu banyak dari negara-negara Nordik yang kerap dikira Skandinavia. Forbrydelsen, Bron/Broen, Livvagterne, Wallander, Äkta människor, dll. Bahkan saya pernah menulis resensi yang pernah saya angkat dalam sebuah pos lampau di blog ini.

Seri-seri Skandinavia cukup populer di Persatuan Kerajaan (UK) berkat slot Sabtu malam yang didedikasikan oleh BBC Four untuk drama-drama berbahasa asing. Belakangan BBC Four kehabisan stok dan mengisi slot tersebut dengan seri televisi Belgia, Salamander. Sementara More4, saluran digital dari Channel 4, sempat mengisi slot Jumat malam mereka dengan seri konspirasi Norwegia, Mammon, beberapa bulan lalu. Seri-seri Skandinavia ikut merambah Australia dan saya adalah salah satu korbannya (terima kasih banyak, SBS!). Sudahlah, malah jadi ngalor-ngidul.

Rupa-rupanya Universitas Kopenhagen (Københavns Universitet - KU) memanfaatkan popularitas seri-seri dan film-film dari Skandinavia melalui MOOC (massive open online course -kursus daring terbuka massal atau bagaimanalah peletakan DM yang tepat). KU (jangan dibaca kei-yu tapi kow-u) adalah salah satu universitas papan atas Eropa dan ini adalah penawaran kursus tersebut yang kedua (saya tidak sempat menyelesaikan kursus ini pada penawaran pertama) di Coursera.

Apa yang mau dibahas? Saya berhasil menyelesaikan kursus ini! Kursus ini dipandu oleh Prof. Ib Bondebjerg dan beberapa rekan kerjanya. Beberapa bahan bacaannya dapat diunduh secara gratis dengan mengikuti bapak dosen di Academia.edu. Masih banyak kekurangan di sana-sini tapi saya cukup puas dengan materi pelajaran yang diberikan. Saat ini nilai-nilainya melalui proses evaluasi dan jika tidak salah hitung, saya lulus (andai kata tidak tetap akan saya kabari di sini). Sebetulnya nilai peer assessments yang saya dapat berada di atas nilai self-assessment yang saya berikan pada esai saya.

Harapan saya: KU dan UvA (Universiteit van Amsterdam) berkolaborasi dalam mendirikan program Master di bidang Media Studies karena saya tahu dua universitas tersebut adalah dua universitas top Eropa di bidang ini, bidang yang juga saya dalami saat S1 dulu. Saya ingin ada program Erasmus+ atau Erasmus Mundus dari kedua universitas tersebut yang mengangkat bidang ini.

Pembaruan:

Trailer-trailer yang mungkin dapat sedikit menghapus rasa penasaran Anda (atau malah menambah rasa penasaran?)




Kastrup, Denmark, 14 Juni 2013
Saya berkesempatan mengikuti program pertukaran mahasiswa di Swiss selama satu semester pada tahun terakhir S1 saya. Selama di Eropa, saya menyempatkan diri untuk mengunjungi Denmark dan Swedia demi melihat Jembatan Øresund yang menghubungkan kedua negara sekaligus menjadi latar seri Bron/Broen. Ada orang yang rela pergi ke Pulau Nami, Korea demi Winter Sonata lho! Mengapa tidak dengan jembatan di mana Saga Noren dan Martin Rohde bertemu?

Transfer

Bandara Hasanuddin
Dalam perjalanan pulang menuju Denpasar dari Manado, kami singgah terlebih dahulu di Makassar. Para penumpang dengan penerbangan lanjutan diharuskan mengikuti jalan yang sama layaknya penumpang yang memang bertujuan akhir di Makassar. Hanya saja sebelum tiba di pengambilan bagasi, ada beberapa loket untuk penerbangan lanjutan serta satu kios bubble tea.

Antreannya tak karuan. Para penumpang harus menunjukkan pas naik mereka yang sebelumnya sebelum diberikan pas naik yang baru dengan stempel "Transfer". Lalu kami pun melalui pemeriksaan keamanan lagi dan antreannya pun ikut tak karuan. Seusai pemeriksaan pas naik dan keamanan, kami naik kembali ke atas di mana ruang tunggu beserta beberapa toko berada.

Di sanalah kami membeli beberapa oleh-oleh khas Makassar (yang tentunya harganya sudah dimark-up karena biaya sewa di bandara yang mahal) tanpa menginjakkan kaki di kota tersebut. Anehnya, toko di mana kami membeli oleh-oleh memberikan tas daur ulang berjenama sandal buaya yang sempat naik daun beberapa tahun silam. Entah maksudnya apa. Jujur, saya belum pernah ke Makassar.

Saat pesawat melakukan taxi, saya melihat patung Sultan Hasanuddin di kejauhan di luar kompleks terminal. Tiba-tiba saya teringat patung Ngurah Rai (yang ada dua - salah satunya hanyalah pemborosan anggaran) di Tuban, Bali.

Mengenai pas naik, saya rasa perlu ada perombakan desain pas naik di seluruh Indonesia. Bagaimana caranya supaya penumpang yang hanya singgah sejenak di bandara lain sebelum menuju tujuannya tidak perlu mengantre hanya untuk mendapatkan kertas yang sebenarnya bisa didapatkan di bandara asal. Ini hanyalah pemborosan kertas. Mungkin jika perlu ada mesin cetak ulang pas naik seperti yang tersedia di beberapa bandara Eropa khusus untuk mereka yang mungkin kehilangan pas naik saat sedang berjalan-jalan (mungkin perlu diterapkan sistem berbayar juga untuk membuat efek jera). Pernah saya alami sebelumnya.

10/10/2014

Wanita di Ujung Gangguan Kejiwaan

Sore tadi saya mendapat DM di twitter bahwa salah satu foto yang saya ikut sertakan dalam lomba yang diselenggarakan oleh Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia di twitter telah lolos seleksi dan akan dipamerkan dalam pameran wisata yang diadakan oleh organisasi yang sama di Balai Kartini, Jakarta akhir pekan depan.

Dari beberapa foto yang saya ikut sertakan, ternyata foto poster film besutan Pedro Almodovar, Mujeres al borde de un ataque de nervios (Bahasa Inggris: Women on the Verge of a Nervous Breakdown), terpilih sebagai satu dari 28 foto yang kabarnya akan dipamerkan.

Saya masih ingat foto ini saya ambil dua tahun yang lalu saat pergelaran Brisbane Open House (ya, zaman saat saya masih menimba ilmu di negeri kangguru). Griffith Film School adalah bangunan pertama yang saya kunjungi hari itu. Di sana saya memotret beberapa poster film yang sebagian besar merupakan film-film klasik Eropa. Kebetulan sekali Brisbane Open House tahun ini akan diadakan besok. Coincidence?

Kebetulan juga saat itu Australian Cinematheque @ GoMA mengadakan pemutaran film bertajuk 100 Years of Spanish Cinema (gratis) yang mana saya telah menonton sekitar 22 film yang ditayangkan (berbarengan dengan pameran kesenian Spanyol yang diadakan QAGOMA). Tentu juga ada pemutaran film oleh Pedro Almodovar (program berbeda - berbayar) di sinematek dan film di atas termasuk dalam programnya. Saya tidak menontonnya di GoMA berhubung keterbatasan biaya sebagai mahasiswa berkantong cekak (tapi bisa menempuh kuliah di negeri kangguru?). Saya menonton film tersebut melalui DVD yang saya pinjam dari perpustakaan Brisbane City Council.

Ah, rindunya saat-saat itu. Saat Brisbane masih layak dihuni. (Semenjak Campbell Newman memimpin Queensland dan Tony Abbott memimpin Australia, rasa-rasanya Australia terutama Brisbane mulai kurang layak dihuni).

N.B.: Jika Anda mengira saya dulu kuliah di Adelaide, Anda salah besar.

Bukan Rukun Warga

PERINGATAN: Beberapa orang akan merasa kurang nyaman dengan foto dan tulisan di bawah

Rintek wuuk (RW) yang diolah merupakan salah satu makanan khas dari Minahasa. Apakah RW itu? Daging anjing.

Kalau menurut saya, tekstur dan rasanya berada di antara daging sapi dan babi. Hanya sepenggal kisah dari sekitar Pineleng.

10/09/2014

Penginapan Singa

Mata Anda sedang tidak salah melihat. Perlengkapan mandi ini berlogo maskapai penerbangan tarif rendah terbesar di negeri ini. Rupa-rupanya grup usaha tersebut memiliki hotel di Manado. Lokasinya di kawasan hasil reklamasi kota tersebut.

Kalau menurut saya, hotel ini masih memiliki banyak kekurangan. Sambungan telepon landline menuju dan keluar bangunannya saja belum tersambung. Listriknya juga sering padam. Mungkin mereka masih menggunakan generator?

Tentu saja para awak kabin dan penerbang maskapai penerbangan satu grup yang sedang bertugas ke Manado diinapkan di hotel tersebut.

Trans Kawanua

Bus Trans Kawanua melintas di Jl. Pierre Tendean, Manado
Selama di Manado, saya jarang sekali melihat bus Trans Kawanua berseliweran di jalanan kota. Halte-haltenya pun tampak tak terawat padahal terkesan lebih megah dan kokoh dibandingkan dengan halte-halte Trans Sarbagita. Bus Trans Kawanua berukuran sama dengan bus Trans Jogja dan bus Trans Sarbagita trayek 1.

Berdasarkan hasil pencarian di Google, saya menemukan bahwa sejauh ini Trans Kawanua hanya memiliki dua trayek. Proyek ini juga terkesan mati suri. Entah mengapa bisa mati suri. Beruntung Manado memiliki banyak angkot untuk mereka yang hanya ingin bepergian di dalam kota.

Sama seperti Trans Sarbagita, Trans Kawanua juga memiliki rencana jangka panjang untuk menggunakan sistem pembayaran elektronik tapi berhubung mati suri, entahlah bagaimana jadinya. Ngomong-ngomong, saya yakin semua proyek bus rapid transit di Indonesia berambisi meluncurkan sistem pembayaran elektronik. Nah, mungkinkah sistem pembayaran elektronik antar daerah ini dipadukan supaya jika saya jalan-jalan ke kota lain saya dapat membayar menggunakan kartu pembayaran yang sama?

10/08/2014

Trans Jogja

Halte Trans Jogja di dekat Benteng Vredeburg
Trans Jogja mungkin dapat dikatakan sebagai salah satu moda transportasi milik pemda yang paling berhasil. Tingkat keterisian yang tinggi (atau mungkin ukuran bus yang terlalu kecil?), halte yang ramah terhadap penyandang cacat (walaupun trotoar pendukung belum tentu), karcis seharga Rp 3.000 sekali jalan (lebih murah dibandingkan karcis Trans Sarbagita) bahkan Anda bisa membayar dengan kartu debit sentuh yang dikeluarkan oleh salah satu bank swasta terbesar negeri ini. Delapan trayek sudah terlaksana dengan jam operasi yang cukup memadai.

Ada apa gerangan sehingga saya kembali membahas Yogyakarta setelah sebelumnya membahas Sulawesi Utara?

N.B.: Agak keluar dari topik pembahasan tapi berdasarkan usulan yang saya ajukan kepada Pemkot Denpasar di situs PRO Denpasar, ada bocoran bahwa tahun depan Dishub Bali akan meluncurkan trayek 8 Trans Sarbagita (Mengwi-Pelabuhan Benoa via Kota). Agak terlambat karena seharusnya trayek 3, 4, 5, 6, 7, dan 8 seharusnya sudah terlaksana selambat-lambatnya akhir tahun ini.

Kawangkoan

Salah satu jalan utama di Kawangkoan
Kawangkoan, 4 Oktober 2014 - Senja menyapa Sulawesi Utara. Matahari terbenam sekitar 30 hingga 45 menit lebih awal di belahan Indonesia ini dibandingkan dengan Bali. Beberapa warga berkumpul di rumah makan menikmati secangkir kopi, bakpau maupun sajian lainnya. Rumah makan tersebut dilengkapi dengan televisi LCD serta saluran berbayar. Stiker-stiker caleg untuk pemilu April lalu masih terpasang walaupun warnanya memburam.

Trotoar masih layak digunakan walaupun belum tentu ramah terhadap pengguna kursi roda. Angkot dan dokar (entah apa namanya dalam istilah setempat) pun tersedia, tidak seperti di Bali yang semakin memudar.

Jalan di kota kecamatan ini sungguh aneh - banyak yang satu arah walaupun lalu lintas tidaklah padat. Manado masih sejauh sekitar dua jam perjalanan dengan kendaraan bermotor. Jalannya berliuk-liuk mengikuti topografi daerah yang berbukit-bukit. Sulawesi sungguhlah besar. Pulau ini juga berhak memiliki sistem perkeretaapian terpadu yang menghubungkan daerah-daerah, baik dalam provinsi maupun antar provinsi.

Ada apa gerangan sehingga saya bisa berada di sana? Yakin mau tahu?

10/07/2014

Nomor Polisi Kelipatan

Suatu senja di Surabaya, sebuah mobil bernomor polisi Jakarta berlalu-lalang di tengah kemacetan kota. Terasa ganjil melihat mobil bernomor polisi lima digit angka dan dua digit angka yang berukuran lebih kecil (kelipatan?). Mungkin ibukota negara sudah terlampau padat sampai-sampai tiga huruf pada nomor polisi sudah tak memadai.

Kerang

Saya bukan penghuni kota metropolis namun saya tahu beberapa kota di Indonesia berkesempatan memiliki SPBU-SPBU oleh perusahaan-perusahaan asing.

Dalam sebuah perjalanan ke salah satu kota terbesar di Indonesia (bukan ibukota negara), saya menemukan bahwa SPBU milik asing ini sudah tutup. Apa gerangan?

Terserah Anda pro atau kontra dengan keterlibatan asing dalam pengerukan sumber daya alam negeri ini tapi tidak ada kaitannya dengan kisah SPBU ini.

N.B.: Entah siapa yang membuat spanduk tersebut namun tampaknya dia tidak mengerti bahasa Indonesia. 'Terima kasih' harus ditulis terpisah!

10/01/2014

Akhir Dinas

Oleh-oleh diletakkan di lantai dan karcis kelas eksekutif
Yogyakarta, 30 September 2014 - Tiga orang PNS dari Disperindag Jawa Timur mengakhiri dinasnya di Yogyakarta kemarin. Berdasarkan pembicaraan di antara mereka, mereka memiliki karcis kelas eksekutif untuk kereta Sancaka Sore. Tidak diketahui di stasiun mana mereka turun. Mereka juga membawa beberapa oleh-oleh entah untuk siapa.

Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa kelas eksekutif? Apakah kelas bisnis tidak cukup baik? Saya saja berhasil mendapatkan karcis seharga Rp 100.000 jurusan Yogyakarta-Surabaya dan saya cukup puas dengan pelayanan KAI. PNS di Singapura saja jika harus dinas diwajibkan untuk mendapatkan biaya perjalanan terendah. Memang perbedaan harga karcis kelas eksekutif dan bisnis cukup tipis, maksimal hanya Rp 100.000 tapi ini baru tiga orang PNS. Berapa banyak PNS yang melakukan dinas dalam setahun dan berapa anggaran yang digelontorkan pemerintah untuk mendanai perjalanan mereka jika mereka semua tidak memilih biaya perjalanan terendah? Jika mereka diinapkan di penginapan murah tapi memadai* dan menggunakan kereta kelas bisnis, saya bisa menghitung potensi penghematan anggaran minimal Rp 1.000.000**.

Apakah agenda dinas mereka lebih diisi dengan acara membeli oleh-oleh ataukah rapat dan pembahasan masalah dengan pihak-pihak terkait di Yogyakarta? Tidak tahu. Mengapa memilih kereta sore dan bukannya kereta terakhir sehingga kerja mereka di Yogyakarta bisa dimaksimalkan, mereka bisa istirahat selama perjalanan lalu kembali bekerja keesokan harinya? Ataukah mau berdalih bahwa perjalanan yang kebanyakan diisi dengan acara duduk dan sesekali mengunyah kudapan meletihkan? Entah. Tidur selama empat jam saja kadang terasa cukup dan saya bisa segera melanjutkan pekerjaan saya (tugas kantoran juga).

Salah satu di antara mereka sempat membeli salak pondoh dari salah satu pedagang di stasiun. Kalau mereka mau menggunakan jasa pedagang yang mungkin tidak tahu banyak mengenai seluk-beluk birokrasi membuka usaha, mungkinkah mereka menginap di penginapan yang tidak begitu dikenal namun memadai dan harganya cukup murah? Jika ya, saya rela mereka menggunakan kelas eksekutif.

Saya tidak menuduh sesuatu terhadap mereka tapi saya hanya mempertanyakan efisiensi kerja mereka.

*Saya tidak tahu di mana mereka menginap tapi saya sangat yakin mereka tidak menginap di losmen. Bagus kalau mereka mendapatkan potongan harga di sebuah penginapan biasa dengan harga sesuai, bukan hotel minimal berbintang 4 nan mahal.
**Sekali lagi, kalkulasikan dengan jumlah PNS di negeri ini dan berapa banyak di antara mereka yang melakukan pemborosan saat dinas baik di dalam maupun di luar negeri.