12/30/2014

Sils Maria

Seperti yang sudah saya janjikan sebelumnya, inilah resensi film Sils Maria yang saya tonton saat Festival Sinema Prancis 2014 di Beachwalk XXI.

Film ini mengisahkan aktris kawakan Maria Enders yang mendapatkan peran dalam sebuah pementasan teater - kisah yang sama yang mengangkat namanya dulu, hanya saja kini dia mendapatkan peran yang berbeda. Film ini juga mengisahkan bumbu-bumbu dalam kehidupannya - perceraian, hubungannya dengan sang asisten Valentine, perkumpulan antara sesama kaum seniman, dll. - berlatarbelakangkan pegunungan Swiss.

Anehnya, walaupun film ini mendapatkan pendanaan dari lembaga-lembaga di Swiss frankofon (alias Swiss barat) tidak satu pun lokasi di Swiss frankofon digunakan untuk pengambilan gambar. Justru kita diajak bertualang melihat Graubünden yang terletak di ujung timur negeri dengan 26 kanton itu. Mungkin kenihilan itu disubstitusi dengan dialog minim dalam bahasa Prancis?

Dialog-dialog dalam film ini juga kebanyakannya menggunakan bahasa Inggris. Ini dan keikutsertaan bintang-bintang tenar* macam Kristen Stewart dan Chloe Grace Moretz sebenarnya adalah taktik perfilman Eropa dalam membendung pengaruh Hollywood di benua tersebut. Dengan menggunakan bahasa Inggris, terjadi pemburaman identitas kebangsaan oleh para pemerannya. Hal serupa juga dilakukan oleh Night Train to Lisbon dan La migliore offerta yang dua-duanya juga sudah pernah saya tonton. Saya sendiri kecewa bahwa perfilman Eropa harus menggunakan siasat-siasat seperti ini.

Saya merasa bahwa para seniman dalam film ini seolah-olah hidup dalam gelembung mereka sendiri. Seolah-olah tak ada dunia lain selain dunia mereka. Mereka membuat sensasi hanya untuk kaum mereka sendiri. Seolah-olah publik dilupakan, tidak ada dinding keempat.

Saya juga merasa adegan dalam kereta dalam film ini (dan juga dalam Night Train to Lisbon) terasa janggal. Saya tidak mengatakan bahwa naskah yang ditulis buruk, hanya saja detil keretanya terasa janggal. Gerbong siapa yang digunakan dalam film ini? Jelas bukan SBB, SNCF atau Trenitalia. Lalu DB ataukah ÖBB? Dari stasiun manakah mereka melakukan perjalanan? Liberalisasi perkeretaapian masih dua tahun lagi, bukan? Begitu pula dengan adegan dalam taksi di Zurich. Kota-kota besar Swiss relatif kecil jika dibandingkan dengan kota-kota besar Eropa lainnya tapi perjalanan dalam taksi terasa lama.

Mungkin pengalaman tinggal di Swiss membuat saya lebih waspada akan hal-hal kecil seperti ini. Jujur, berjalan kaki menyusuri kota-kota utama Swiss terkadang bisa lebih cepat daripada menggunakan kendaraan umum atau kendaraan pribadi.

Film yang sangat kontemporer Eropa. Saya kurang tahu apakah ada penempatan produk dalam film ini, namun yang pasti produk-produk Migros dan Co-op, dua pasar swalayan utama Swiss, dapat saya lihat dengan sangat jelas.

Saya memberikan film ini 7 bintang di IMDb.

*Status para pemeran yang saya masukkan dalam kategori ini dapat diperdebatkan

Perkotaan dan Pejalan Kaki (1)

Pengerjaan trotoar di Surabaya
Negeri ini bukanlah negeri yang ramah terhadap pejalan kaki. Trotoar yang ada di kebanyakan kota-kota di Indonesia adalah sisa-sisa pembangunan Orde Baru. Banyak yang rusak dan tak diperbarui. Mungkin ada pemikiran untuk apa diperbaiki toh penggunanya nyaris tidak ada?

Jika Anda membaca blog ini dengan saksama, Anda mungkin tahu bahwa beberapa saat yang lalu saya menghabiskan waktu di Surabaya. Selama di kota tersebut saya memperhatikan pengerjaan trotoar, baik itu perbaikan trotoar yang sudah rusak maupun pembuatan trotoar baru (alias penutupan selokan).

Masyarakat urban Indonesia bukanlah masyarakat pejalan kaki. Mereka adalah masyarakat pengguna kendaraan pribadi. Trotoar rusak hanya diangkat melalui surat pembaca di surat kabar. Tidak ada demonstrasi menuntut perbaikan trotoar dan mungkin pemanusiawian trotoar (dalam artian dibuat ramah terhadap kaum difabel, mereka yang memiliki kesulitan berjalan akibat faktor penyakit maupun usia, dsb.). Trotoar selama ini hanya dianggap sebagai hiasan tanpa kegunaan.

Pernah saya berjalan di atas trotoar Jalan Hang Tuah, Denpasar. Trotoar tersebut sudah tak layak pakai dan rawan jebol. Sering saya berjalan di atas batu pembatas yang fondasinya lebih kokoh. Di jalan yang sama pula, ada penyalahgunaan trotoar oleh perajin kayu (yang saya sangat yakin usahanya tak terdaftar di Perpajakan dan pemiliknya tak punya NPWP) untuk pengerjaan pesanannya sehingga menghalangi trotoar. Tolonglah, ketidakmampuan Anda untuk mencari lokasi bengkel yang lebih layak lalu pejalan kaki dijadikan tumbal?

Masih di jalan yang sama, pernah seorang bule berjalan keluar dari sebuah gang. Sepeda motor dengan seorang penumpang berhenti. Mereka hendak menawarkan jasa ojek terhadap si bule. Apakah berjalan kaki adalah tindakan yang salah sehingga ianya dianggap sebagai kegiatan yang aneh dan pelakunya perlu diusik? Hal ini juga pernah saya alami sebelumnya saat meninggalkan Bentara Budaya Bali menuju By Pass Ngurah Rai dengan berjalan kaki (dan tidak hanya terjadi sekali).

Persimpangan antara Jalan Hang Tuah dan By Pass Ngurah Rai juga kerap dilewati wisatawan mancanegara dengan berjalan kaki. Saya yakin banyak dari mereka yang terkesima melihat betapa bobroknya trotoar di kawasan wisata utama negeri ini dan di saat bersamaan negeri ini mengalami pertumbuhan ekonomi. Negeri yang kelimpahan uang tak mampu memberikan trotoar yang layak? Di mana logikanya? Jelaskan pada saya.

Pengerjaan trotoar yang sudah selesai di Surabaya
Jika Anda perhatikan tata kota Anda (tentunya jika Anda berdomisili di Indonesia), Anda pasti sadar bahwa kebanyakan bangunan-bangunan di Indonesia sebenarnya sangat mempedulikan tempat parkir bagi pengunjungnya namun mengabaikan pintu masuk yang layak bagi pejalan kaki. Kalau ada trotoar, biasanya hanya sebagai hiasan tanpa ada pintu masuk khusus pejalan kaki untuk masuk bangunan tersebut (contohnya pusat perbelanjaan). Bangunan-bangunan yang mengutamakan pejalan kaki biasanya dibangun pada masa kolonial.

Mungkin tidak berkaitan langsung tapi apakah Anda merasa puas dengan kinerja para atlet kita dalam pentas-pentas semacam SEA Games, Asian Games, dan Olimpiade? Trotoar yang layak mengizinkan penggunanya untuk lebih leluasa berolahraga (terutama jogging dan lari). Sayangnya fasilitas yang layak saja tak ada. Olahraga pun terpaksa harus dilakukan di lapangan kota dan fasilitas-fasilitas olahraga (yang saya yakin berbayar). Ketika berolahraga saja harus dipaksa untuk membayar, bagaimana kita bisa mencetak atlet-atlet yang dapat mengharumkan nama bangsa?

Lalu jika suatu senja Anda tersadar bahwa makanan di rumah Anda habis atau camilan untuk waktu keluarga kosong dan Anda hendak pergi ke pasar swalayan mini terdekat yang mungkin saja jaraknya hanya 200 meter, apakah Anda ke sana dengan a) berjalan kaki, b) naik sepeda atau c) naik sepeda motor? Paling-paling jawaban Anda adalah c). Dua ribu rupiah melayang untuk membayar tukang parkir yang pastinya tidak memberikan karcis parkir. Jangan anggap dua ribu rupiah sepele. Akumulasikan! Jika dalam seminggu Anda pergi ke pasar swalayan di dekat rumah Anda 2-3 kali, kalikan 52 (dengan asumsi Anda tidak pergi keluar kota sama sekali dalam setahun). Belum lagi kemungkinan uang Anda tidak masuk kas daerah. Bagaimana dengan uang bensin? Masih mau protes atas kenaikan harga BBM jika gaya hidup Anda sendiri yang amburadul? Dengan berjalan kaki, Anda justru melatih otot kaki Anda, berpeluh, dan mungkin menghilangkan lemak dalam tubuh. Ataukah Anda tinggal di daerah dengan tingkat kriminalitas yang sangat tinggi sehingga Anda akan dirampok saat berjalan kaki? Itu berarti sistem ronda di daerah Anda yang buruk.

Tulisan ini belum selesai ...

12/22/2014

Bioskop

Beachwalk XXI bermenit-menit sebelum pemutaran Sils Maria
Jika Anda membaca blog ini secara keseluruhan, Anda mungkin tahu bahwa saya pernah menjadi sukarelawan pada Brisbane International Film Festival (BIFF) saat saya masih tinggal di sana. Tugas saya hanyalah memeriksa karcis dan mengantar penonton ke ruang teater yang tepat, memberikan formulir penilaian penonton (atas film yang hendak ditonton), menonton film saat film sudah dimulai, mengambil kembali formulir dan menghitung skor yang diberikan, serta membersihkan ruangan yang baru saja dipakai untuk menonton. Sesekali para sukarelawan akan terlibat bincang-bincang kecil (yang terkadang diharapkan bisa berubah menjadi perbincangan besar yang dapat mengubah alur kehidupan si sukarelawan). Terkadang pula menawarkan segelas sampanye kepada tetamu pemutaran film khusus. Saya tidak menuangkan sampanye ke dalam gelas si tetamu karena pemberian alkohol di tempat-tempat umum di Australia sangat diregulasi. Kelihatannya banyak tugas tapi sebetulnya sangat santai dan saya sangat menikmati kegiatan-kegiatan tersebut (walaupun hanya dibayar karcis untuk pemutaran film lain).

Jika Anda membaca blog ini secara keseluruhan, Anda mungkin juga tahu bahwa saya mendapatkan karcis gratis untuk menonton pemutaran film Sils Maria sebagai rangkaian dari Festival Sinema Prancis 2014 di Beachwalk XXI. Bioskop di Bali tergolong kecil dan sedikit. Hanya ada dua bioskop utama yakni Galeria dan Beachwalk yang mana keduanya dikelola oleh XXI. Masing-masing tempat hanya memiliki dua teater. Alhasil, pilihan film untuk ditonton oleh masyarakat Bali (selatan) pun terbatas mengingat terbatasnya tempat dan waktu. Oleh karena itulah jika ada kesempatan menonton film-film yang agak non-mainstream di Bali, saya selalu berusaha untuk hadir.

Saya pecinta world movies. Saya sudah pernah menonton film-film yang dilahirkan oleh para sineas yang berasal dari lebih dari 60 negara dan terus bertambah. Mengapa saya mencintainya? Karena saya haus akan cerita dan sudut pandang. Cinta saya mengalami masa keemasan saat saya masih berada di Brisbane dan saat ini mengalami pasang surut akibat keterbatasan yang ada. Sumber-sumber tak resmi semacam Torrent bisa saja saya gunakan namun kepuasan menonton itu tak sama. Saya justru membuat dosa akibat mengunduh secara haram - kecuali tiba-tiba ada pembentukan Partai Pembajakan yang mendukung kelonggaran penggunaan hak cipta di negeri ini (frase ini tidak serta-merta menyatakan bahwa saya mendukung aliran politik tersebut).

Kembali ke akar pembahasan, bioskop. Saat saya hendak masuk ke dalam ruang teater untuk menonton film Sils Maria, saya memperhatikan ada tiga orang mengawasi pintu masuk ruangan. Hanya seorang yang memeriksa karcis. Usai pemutaran pun, saya perhatikan tiga orang tadi mengucapkan terima kasih kepada para hadirin. Lima orang pegawai lain yang belum pernah saya lihat sebelumnya berada di dalam ruangan bersiap-siap membersihkan. Yang menjadi pertanyaan saya, apakah multitasking begitu susah untuk dilakukan sehingga perlu pegawai yang berbeda untuk memeriksa karcis dan membersihkan ruang teater usai pemutaran. Saya masih hidup dan tidak mati walaupun sudah pernah menjadi sukarelawan BIFF yang saya yakin tugasnya lebih banyak dalam satu jam kerja dibandingkan pegawai bioskop di tempat saya menonton Sils Maria malam itu.

Sungguh ajaib (orang-orang) negeri ini.

Resensi film menyusul.

12/15/2014

Hiatus

Selama sepekan terakhir saya berada di Surabaya karena urusan keluarga. Sebenarnya saya punya akses internet terbatas selama di sana sehingga saya tak menulis pos baru. Saya baru saja kembali di Denpasar dan besok saya akan pergi untuk liburan akhir tahun selama seminggu. Dengan ini saya ingin mengumumkan bahwa blog ini akan berada dalam hiatus selama beberapa waktu ke depan.

Saya pastikan saya akan kembali sesegera mungkin dan menulis resensi film Sils Maria serta beberapa pos lain yang saya harap dapat memutar otak Anda sehingga Anda benar-benar berpikir (dan bukan berpikir secara dangkal).

Selain itu, ...


























... saya telah resmi menyelesaikan empat MOOC - Film & Televisi Skandinavia (pasca-revisi), Perencanaan & Perancangan Sistem & Teknologi Sanitasi (dari EPFL - kampus mereka hanya bersebelahan dengan UNIL, universitas di mana saya mengikuti program pertukaran selama satu semester), Buku Komik & Novel Grafik (dari Universitas Colorado - Boulder dan System), dan Membayangkan Tokyo Pasca Perang Bagian I (dari Universitas Tokyo) - dengan nilai memuaskan dalam beberapa pekan terakhir. MOOC dari Universitas Tokyo ini adalah MOOC pertama yang berhasil saya selesaikan melalui platform edX.

Saat ini saya juga tengah bingung bagaimana saya bisa menyelesaikan MOOC lainnya dengan keterbatasan internet dan waktu selama beberapa hari ke depan. Ya, internet di kediaman saya rusak lagi.

Jujur saja, saya rasa saya tidak berhak mendapatkan liburan yang terlalu banyak selama 2014 - it's been a staycation year for me. Terlalu banyak berlibur tidaklah bagus untuk kesehatan saya. Semua kesempatan berpelesir selama tahun ini hanyalah aji mumpung (tapi saya tidak akan menjelaskan konteksnya lebih dalam lagi).

Nevertheless, ... bonne vacance.

12/04/2014

Tenggat: 14 Oktober

Courtesy: VTM
Saat ini saya sedang menyaksikan seri televisi Belgia Deadline 14/10 yang saya dapatkan melalui sumber tak resmi akibat buruknya pilihan hiburan yang tersedia di negeri ini.

Deadline 14/10 terdiri atas delapan episode x 45 menit dan disiarkan secara perdana pada tahun 2012. Seri ini mengisahkan seorang wartawan yang baru saja memulai karier barunya di Antwerp. Pada hari pertamanya bekerja, seorang gadis berusia 14 tahun hilang dan pihak kepolisian tak serius menangani kasus tersebut. Di saat yang bersamaan, kota Antwerp sedang berada dalam masa kampanye pemilu. Isu hilangnya gadis tersebut pun menjadi komoditas politik. Entah mengapa jalan cerita ini mengingatkan saya pada musim pertama dari seri televisi Denmark Forbrydelsen.

Deadline 14/10 juga menggambarkan kehidupan modern dengan sangat realistis - perceraian, kriminalitas kota besar, pengaturan waktu antara kehidupan pribadi dan kerja, persaingan kerja, fanatisme remaja, jurnalisme sensasional, dll.

Seri ini diproduksi atas kerja sama antara stasiun TV kabel Belgia VTM dan stasiun TV lokal Antwerp ATV beserta koran Gazet van Antwerpen. Lihatlah betapa stasiun TV lokal sukses membuat seri televisi sekaliber begini dan kita di Indonesia gagal akibat pola siaran yang terlalu sentris pada apa yang ada di Jakarta.

Deadline 25/5 adalah kesinambungan dari Deadline 14/10 namun berhubung saya belum selesai menonton 14/10, 25/5 masih jauh api dari panggang.

Utara

Pagi ini saya membaca sebuah artikel opini yang dimuat oleh harian Straits Times Singapura melalui PressDisplay. Artikel ini membahas potensi pertumbuhan ekonomi Asia Tenggara dan bagaimana mengakalinya.

Sayangnya, saya kurang suka dengan pemilihan kata si penulis.

north of 7 per cent next year

Sekilas tidak ada yang kelihatan salah? Saya benci penggunaan kata utara untuk mengkonotasikan hal positif dan selatan untuk hal negatif. Ini semua tergantung perspektif. Kebanyakan orang dibesarkan dengan melihat sisi utara pada peta di bagian atas sehingga kita terbuai bahwa utara adalah kebaikan. Pernahkah kita diajari bahwa Pulau Rote berada di bagian atas peta sementara Pulau Sebatik di bagian bawah walaupun sebenarnya tidak ada yang salah jika peta itu dibalik?