11/08/2015

German Cinema 2015

A photo posted by Bram (@bramwas) on
Ini adalah tulisan yang terlambat karena acara berlangsung dua bulan yang lalu. Goethe Institut kembali mengadakan festival filmnya di Bali dari tanggal 17 hingga 19 September dan tahun ini pindah lokasi pemutaran film ke Beachwalk XXI walaupun masih dipanitiai oleh tim Bentara Budaya Bali layaknya tahun lalu.

Saya sempat mengalamai masalah saat mendaftarkan diri untuk mendapatkan karcis. Ada tujuh pemutaran yang dapat saya hadiri namun setelah mendapat tahu via email slot untuk dua pemutaran sudah habis. Alhasil, saya hanya mendaftarkan diri untuk lima pemutaran yang masih ada namun saya hanya mendapatkan konfirmasi via SMS untuk dua pemutaran (dua-duanya ialah pemutaran pada hari terakhir). Saya go-show pada dua pemutaran hari pertama dan berhasil mendapatkan karcis. Hari kedua saya tidak hadir karena slot yang masih ada hanya untuk pemutaran pukul 21.00 pada hari Jumat. Saya malas berurusan dengan lalu lintas sore Kuta menjelang akhir pekan dan rumah saya memang jauh dari Kuta.

Kabar dari mahasiswi Jerman yang magang di kantor saya, dia berhasil mendapatkan karcis untuk pemutaran Jumat pukul 19.00 yang katanya habis hanya dengan go show. Saya tidak menelusuri klaimnya lebih lanjut.

Berikut ringkasan film yang saya tonton.

Auf das Leben!
Drama dengan pesan sosial yang agak dipaksakan

Phoenix
Wanita naif yang akhirnya menyadari kebusukan mantan suaminya - film terbaik yang saya tonton selama perhelatan acara ini di Bali

Die Böhms
Saya rasa judul film ini dalam bahasa Inggris adalah yang paling mengena - keluarga arsitek pecinta beton. Sayangnya, saya kurang menyukai arsitektur brutalis oleh karena itu tidak begitu mengapresiasiasi 'keindahan-keindahan' yang disuguhkan kepada para penonton.

Mungkin sebagian dari pembaca sudah tahu bahwa saya menempuh pendidikan tinggi di Brisbane, Australia - kota yang estetikanya hancur akibat arsitektur brutalis (contoh: Cultural Centre precinct dan beberapa bangunan pencakar langit milik pemerintah negara bagian dekat Parliament House) dan mungkin dari sanalah saya belajar untuk membenci brutalisme.

Saya menonton film ini dengan beberapa kolega saya dan mereka tidak terlihat tergugah pula.

Der Bunker
Rocky Horror Picture Show ala Jerman

Ada satu ucapan menarik dari perwakilan Goether Institut yang memberikan kata sambutan sebelum penayangan - "... tampang pas-pasan." Saya rasa keindahan itu relatif di mata setiap orang dan  saya agak kurang senang dengan ucapan tersebut. Orang yang saya anggap biasa-biasa saja bisa saja dipandang orang lain sebagai orang tampan dan begitu pula sebaliknya. Walaupun saya mendeteksi ada upaya untuk membuat ucapan yang agak politically correct dari wanita tersebut dan itu patut diapresiasi.

Catatan: Pos-pos baru di blog ini tidak akan diberikan label lagi.

10/10/2015

Kelanjutan

Empat pos terakhir saya dibingkai dalam satu tema yang sama dan menjadi sebuah seri. Namun rasa penasaran akan kejadian (yang tak mengenakkan dan terkesan surreal) tersebut tak berakhir begitu saja. Apalagi kalau itu menyangkut lembaga publik yang mendapatkan dana dari uang pajak yang saya bayar.

Saya melakukan penelitian melalui Google (yang juga pemilik dari platform ini). Hasil penelitian saya menunjukkan bahwa orang pertama yang saya temui pada sesi "wawancara" (cum pelecehan) adalah rektor dari perguruan tinggi tersebut. Saya menduga dia seharusnya memberikan beberapa patah kata pada calon mahasiswa dari jalur non-reguler (non-SKS alias baru lulus SMA). Andai kata benar dia adalah si rektor yang memiliki gelar berderet-deret, sungguh hina dan munafik sekali dirinya.

Kalau dia benar-benar serius atas tuduhan yang dia lontarkan pada saya, dia seharusnya sudah menuliskan beberapa artikel di surat kabar atau jejaring sosialnya tentang isu-isu yang dia tuduhkan (contoh: nasionalisme di kalangan muda). Dia cukup aktif di jejaring sosialnya dan jejaring sosialnya bersifat umum tapi tidak ada satu patah kata pun selama bulan Agustus hingga kini yang mengangkat tentang isu-isu yang dia lontarkan (tak harus mengenai saya tapi dengan cara-cara yang mungkin lebih sublim). Apakah dia sebetulnya menekan saya agar memberikan uang sumbangan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kelanjutannya?

Ucapan-ucapannya di media pun terkesan terlalu berhati-hati. Dalam isu korupsi yang melibatkan fakultasnya, dia hanya memberikan pernyataan bahwa dia sudah mendengar kabar bahwa terduga telah dipanggil KPK dan pihak perguruan tinggi akan memberikan bantuan hukum. Tidak ada satu patah kata pun mengenai pemberantasan korupsi dan bahaya korupsi terhadap bangsa (atau perguruan tinggi). Begitu pula dengan isu reklamasi yang mana dia sebenarnya tidak menambahkan informasi yang berarti. Saya tidak akan membahas mengenai sengketa lahan yang dihadapi perguruan tingginya.

Kata sambutannya di web perguruan tingginya pun memiliki beberapa kesalahan. Sementara web fakultas yang hendak saya masuki sebetulnya disusupi bahasa asing dan dia tidak mengomel mengenai hal tersebut. Justru mengomeli saya yang dianggapnya berbahasa Indonesia buruk. Gajah di depan mata tak tampak, kuman di seberang lautan tampak.

Saya berharap dugaan saya salah tapi saya skeptis.

9/26/2015

Program Ekstensi dan Kengawuran Pihak Fakultas & Panitia (4)

16 Agustus 2015-seterusnya
Pengumuman penerimaan mahasiswa baru untuk program non-reguler (alias ekstensi). Pihak perguruan tinggi menggunakan metode daring. Saya tidak diterima. A blessing in disguise perhaps. Dari sembilan orang yang mendaftar melalui jalur non-reguler ber-SKS, hanya satu yang diterima. 286 diterima melalui jalur non-reguler. Entah berapa yang benar-benar menjadi mahasiswa. Entah pula bagaimana caranya pihak fakultas mengetahui bahwa ke-286 calon mahasiswa terpilih itu benar-benar berminat pada jurusan tersebut. Tentu menyeleksi ratusan orang adalah logistical nightmare. Opini saya akan perguruan tinggi ini sudah terbentuk dan akan amat susah untuk menggantinya.

Apakah saya kecewa? Ya, saya kecewa akan buruknya pengelolaan pendidikan tinggi di negeri ini. Saya sadar kebobrokan satu perguruan tinggi tidak bisa digunakan sebagai tolok ukur yang pasti. Di sisi lain, saya memendam kekhawatiran. Apakah keburukan ini akan diteruskan ke generasi berikutnya? Mungkin saja. Halo, lingkaran setan!

Saya sudah mengenyam gelar sarjana dan dari salah satu perguruan tinggi terbaik dunia (masuk 50 besar berdasarkan pemeringkatan QS). Lebih baik saya lanjutkan S2 saja. Di tempat kerja saya, beberapa rekan kerja berusaha menghibur saya dengan pernyataan-pernyataan bahwa perguruan tinggi ini memang bobrok. Namun saya tidak akan menyebarkan confirmation bias di dunia maya.

Agak keluar topik, rekan kerja-rekan kerja saya berkata bahwa kita harus bangga akan alma mater masing-masing. Saya bangga berkesempatan menempuh pendidikan tinggi di luar negeri tapi saya tetap tidak bangga akan skandal-skandal (nepotisme, pemilu bodong, penelitian yang ditekan agar menjadi tidak sah, dsb.) yang terus merundung alma mater saya.

Program Ekstensi dan Kengawuran Pihak Fakultas & Panitia (3)

12 Agustus 2015
Saya tiba di kampus perguruan tinggi sekitar pukul 08.00. Pada bukti pendaftaran tertera bahwa Tes Potensi Akademik seharusnya baru dimulai pada pukul 08.30. Saya sempat mengalami kebingungan karena kampus tidak dilengkapi dengan peta sehingga saya harus bertanya pada petugas pengaturan lalu lintas perguruan tinggi.

Saat saya tiba di gedung yang tepat saya segera mencari ruang ujian saya yang tidak tertera di bukti pendaftaran. Saya akhirnya menemukan ruang tes saya. Informasinya tertera di beberapa lembar kertas yang ditempel di jendela dekat pintu masuk gedung. Belum pukul 08.30 dan peserta lain sudah terduduk mengerjakan soal tes. Mungkinkah ini yang dimaksud oleh pria yang mewawancarai saya sehari sebelumnya - hadir satu jam lebih awal dari apa yang tertera pada bukti pendaftaran?

Saya langsung duduk dan mulai mengisi lembar jawaban dengan informasi pribadi. Saat saya mengerjakan soal, saya merasa banyak pertanyaan yang aneh.

Soal kedua memiliki kesalahan pengejaan. Subyek pada kalimat kedua soal tersebut juga rancu. Soal kelima saya rasa lebih parah. Sebuah perguruan tinggi masih membanding-bandingkan siapa yang lebih pandai ketika makna pandai sendiri agak rancu, apalagi jika konteksnya tak diketahui.

Begitu pula dengan soal 21 dan 25 yang pilihan jawabannya tertukar. Dan soal 44 yang tidak memiliki jawaban yang benar sama sekali. Bagaimana mungkin hasil kuadrat dari (275+65) tidak 112.600 yang merupakan hasil kuadrat dari bilangan 340? Yang ada justru 4.500 yang merupakan hasil dari 275+65x65 - hanya bilangan 65 yang dikuadratkan.

Saya sempat mengangkat masalah tertukarnya pilihan jawaban soal 21 dan 25 kepada pengawas. Setelah menghilang bermenit-menit pengawas kembali dan mengatakan bahwa pilihan jawaban tak mungkin ditukar dan kunci jawaban pihak panitia akan tetap menjadi acuan pemeriksaan soal-soal tes.

Apakah perguruan tinggi ini lebih menilai hasil daripada proses? Bukankah inilah salah satu masalah terbesar yang dihadapi dunia pendidikan di Indonesia? Perguruan tinggi berarti merupakan bagian dari masalah, bukan penyelesaian.

Dan tahukah Anda bahwa naskah soal uijan ini seharusnya dikembalikan kepada pengawas? Namun peserta diizinkan membawa pulang sehingga saya bisa memotret soal-soal yang bermasalah.

Tes pertama selesai pada pukul 10.00 disusul dengan rehat 30 menit sebelum dilanjutkan dengan Tes Kemampuan Dasar berdurasi satu jam. Keganjilan semakin terasa. Tes kedua ini terdiri atas soal-soal matematika yang lebih rumit, soal-soal bahasa Indonesia (yang juga banyak terjadi kesalahan pengejaan), dan soal-soal bahasa Inggris (berbentuk substitusi kata yang jika disubstitusi beberapa kalimat memiliki makna berbeda dari kalimat asli). Lebih dari 50 soal dalam satu jam? Bahkan seorang pengawas berkomentar bahwa ada kemungkinan terjadi kesalahan penjadwalan yang mana Tes Kemampuan Dasar seharusnya berdurasi lebih lama karena hitungan matematika pada tes tersebut harus menggunakan rumus kompleks.

Usai tes saya menemukan selebaran mempromosikan salah satu lembaga pendidikan di helm saya. Siangnya saya kembali bekerja.

Bersambung...



Berikut beberapa soal bermasalah yang saya sebutkan di atas (klik pada gambar untuk memperbesar):


9/13/2015

Program Ekstensi dan Kengawuran Pihak Fakultas & Panitia (2)

11 Agustus 2015 (lanjutan)
Usai pelecehan verbal yang saya alami, pria itu menyuruh saya berhadapan dengan rekan kerjanya yang akan mewawancarai saya di ruangan yang berbeda. Saya dipersilakan masuk ke ruang kerja rekan kerjanya. Saya tidak akan menilai kerapian ruang kerja tersebut karena beberapa ruang kerja dosen di alma mater saya ada yang jauh lebih berantakan.

Agak keluar dari topik bahasan tapi jika Anda melihat bahwa ruang kerja dosen yang Anda hadapi rapi, berhati-hatilah! Dia mungkin saja berusaha menyembunyikan kelemahannya agar tidak dinilai oleh lawan bicaranya melalui berkas-berkas yang bertebaran di ruangannya. Bukan tentang apakah dia orang yang rapi atau tidak tapi penilaian dari muatan berkas-berkas yang bertebaran tersebut.

Setelah beberapa menit menunggu, rekan kerjanya akhirnya masuk ke ruangan dan melihat ijazah saya. Dia lalu baru merapikan mejanya. Hal ini membuat saya bertanya-tanya apakah calon mahasiswa pertama yang diperiksa berkas-berkasnya dan diwawancara tidak berhadapan dengan orang yang saya hadapi ini? Dari hasil small talk antara para calon mahasiswa non-reguler ber-SKS dan pelecehan verbal sebelum saya masuk ke ruangan tersebut diketahui bahwa calon mahasiswa pertama dan pelaku pelecehan verbal sama-sama berasal dari Karangasem.

Tak lama berselang, saya disuruh keluar ruangan karena orang kedua yang harus saya hadapi ini kehadiran tamu pegawai pemerintahan. Saya disuruh menunggu di ruang tempat pelecehan verbal terjadi. Kesan yang saya tangkap? Sungguh tidak profesional. "Tunggu sebentar," kata pria pelaku pelecehan verbal pada saya sembari memeriksa berkas-berkas calon mahasiswa berikutnya. Kali ini dia mengatakannya dengan nada yang manusiawi.

Beberapa menit menunggu orang kedua kembali dan orang pertama mengungkapkan kebingungannya kepada rekan kerjanya yang baru kembali akan ijazah calon mahasiswa ketiga yang tidak memiliki latar belakang  perkuliahan. Dengan kata lain calon mahasiswa ketiga ini seharusnya mendaftar program non-reguler dan bukan non-reguler ber-SKS. Semakin banyak red flag yang saya dapatkan. Mereka sama sekali tidak memeriksa berkas-berkas pindaian para calon mahasiswa dan pria pelaku pelecehan verbal ini adalah orang oportunis yang menggunakan kesempatannya berhadapan dengan saya untuk melakukan pelecehan verbal, mungkin untuk menutupi kurangnya kepercayaan dirinya.

Saya kembali masuk ke ruang kerja berantakan tersebut dan walaupun orang kedua ini jauh lebih baik daripada rekan kerjanya, dia juga memiliki sisi buruknya. Dia menilai seseorang dari nilai-nilai pada transkrip. Jujur saja, perguruan tinggi Swiss di mana saya mengikuti program pertukaran selama satu semester sama sekali tidak menilai saya dari nilai-nilai saya di alma mater saya. Begitu pula ketika saya kembali, pihak fakultas alma mater saya tidak menilai saya dari nilai-nilai yang saya dapatkan di perguruan tinggi Swiss tersebut. Kedua perguruan tinggi juga memperlakukan saya layaknya orang dewasa, bukan anak kecil yang masih memerlukan tuntunan. Baik perguruan tinggi Swiss dan alma mater saya berada di daftar 200 perguruan tinggi terbaik di dunia - hal yang juga sengaja tidak saya sebutkan saat berhadapan dengan mereka karena ini bisa saja semakin menyulut kebencian mereka pada saya dan mengejawantahkan saya sebagai orang yang sombong.

Pria ini lalu meminta saya untuk datang satu jam lebih awal ke tempat ujian keesokan harinya dari apa yang tertera pada jadwal. Dia juga menyuruh saya untuk mencetak tanda bukti pendaftaran saya dengan warna karena tanda bukti pendaftaran saya hitam putih. Dia lalu pergi ke aula di mana para calon mahasiswa non-reguler berkumpul didampingi salah satu orang tua mereka.

Sekitar pukul 11.30 saya kembali ke gedung fakultas untuk menyerahkan salinan berkas-berkas kepada orang kedua ini yang katanya "jika tidak diserahkan saya dianggap tidak hadir" sekalipun saya sudah menandatangani dua berkas bukti kehadiran saat berhadapan dengan rekan kerjanya si pelaku pelecehan verbal. Dan bukankah berkas-berkas yang diperlukan sudah dipindai melalui platform daring saat pendaftaran? Apakah panitia menghapus semua berkas-berkas para calon mahasiswa sebelum pertemuan?

Orang kedua ini tidak berada di ruangannya dan saya harus menunggu. Tamu-tamu pegawai pemerintahannya juga masih menunggu. Saat dia menunjukkan batang hidungnya di dekat ruang kerjanya, saya bergegas memberikan salinan berkas-berkas yang dia perlukan. Saat saya melangkah meninggalkan gedung fakultas, saya memperhatikan lima dari enam calon mahasiswa non-reguler ber-SKS berkumpul. Salah satu rekannya masih berhadapan dengan pelaku pelecehan verbal. Mereka berenam berasal dari Yogyakarta dan sudah mengenyam gelar D3 dari salah satu PTN Yogyakarta di jurusan yang sama dengan program yang hendak mereka masuki ini. Dari raut muka salah satu dari mereka, saya menduga dia juga mengalami pelecehan verbal.

Saya mempercepat langkah saya karena harus menghadiri rapat di Ubud.

Bersambung...

9/12/2015

Program Ekstensi dan Kengawuran Pihak Fakultas & Panitia (1)

Tulisan ini sengaja tidak saya tulis sesegera mungkin karena saya perlu menenangkan diri dan pikiran setelah pelecehan yang saya alami berikut.

Beberapa waktu lalu saya mendaftar untuk menjadi calon mahasiswa ekstensi di sebuah perguruan tinggi negeri di provinsi saya. Saya tidak akan menyebut nama PTN tersebut tapi berhubung hanya ada satu PTN di tempat ini yang menawarkan program ini, mungkin Anda sudah dapat menebaknya.

Bulan lalu para calon mahasiswa pun dikumpulkan dan mereka terbagi menjadi dua - non-reguler dan non-reguler ber-SKS. Berhubung saya sudah mengenyam gelar sarjana dan saya merasa tidak ada perlunya bagi pihak universitas untuk mengetahui bahwa saya sudah tak menempuh pendidikan di Indonesia sejak SMP maka saya pun mendaftar ke jalur non-reguler ber-SKS.

11 Agustus 2015
Saya dijadwalkan untuk menghadiri sesi wawancara pada pukul 09.00 WITA yang diadakan di gedung fakultas yang hendak saya masuki. Saya mengambil cuti setengah hari dari tempat kerja saya dan saya sempat khawatir karena saya dijadwalkan untuk menghadiri rapat terbatas tim pemasaran & komunikasi perusahaan saya di Ubud pada siang harinya. Hingga pukul 09.30 tidak ada kejelasan apakah wawancara akan berjalan atau tidak. Kemudian diketahui bahwa salah satu pegawai administratif fakultas (yang saya yakin juga merangkap sebagai dosen) mengira bahwa wawancara seharusnya diadakan pada tanggal 12 Agustus. Pria itu kemudian menenangkan sembilan calon mahasiswa non-reguler ber-SKS yang telah menanti setelah pembicaraannya dengan pegawai resepsionis terdengar kami. Dia bahkan belum melihat berkas-berkas yang mengandung data pribadi para calon mahasiswa.

Di saat yang bersamaan, para calon mahasiswa non-reguler juga berkumpul di aula fakultas. Mereka didampingi salah satu orang tua mereka. Saya bertanya-tanya. Mengapa mereka harus didampingi salah satu orang tua mereka? Mereka hendak masuk sebuah perguruan tinggi, bukankah seharusnya mereka dianggap sebagai orang dewasa? Toh hak pilih WNI didapatkan saat dia menginjak usia 17 tahun. Mereka lulusan SMA berarti (kebanyakan dari) mereka setidaknya berusia 18 tahun - satu tahun setelah usia minimal untuk memilih dalam pemilu. Ini bukan sesi open house.

Setelah keterlambatan di atas 60 menit, akhirnya sesi wawancara pun dimulai. Saya mendapat urutan kedua. Seorang pria yang saya duga asisten dekan terduduk di ruangan. Dia tak memperkenalkan dirinya dan melihat ijazah asli saya lalu menyimpulkan bahwa saya tidak serius dalam mengikuti program ekstensi karena alasan saya adalah "menyenangkan orang tua" dan "karier saya di jurusan yang saya tekuni belum berkembang" (dengan kata lain jurusan yang hendak saya masuki ini hanyalah back up saya).

Sepanjang percakapan dia mengalihkan konteks semua hal yang keluar dari mulut saya. Dia juga tidak menghargai perbedaan pandangan. Saya memutuskan untuk diam selama kurang lebih setengah percakapan yang digunakannya untuk memberikan ceramah yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan dunia perkuliahan. Dia menyombongkan dirinya dengan mengatakan bahwa keponakannya sudah berkarier di bidang yang saya tekuni dan ada saudaranya yang sudah memiliki anak dan tinggal di negara di mana saya pernah menempuh pendidikan tinggi. Hal-hal yang sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dan ini bukanlah small talk. Saya dicap tidak nasionalis karena kemampuan berbahasa nasional saya yang "gelagapan". Entah dia tidak bisa membedakan orang yang gugup atau gelagapan, atau mungkin saja dia juga mendiskriminasi mereka yang menanggung beban bernama disleksia.

Dia hanya menilai saya dari kemampuan finansial orang tua saya (yang mana tidak sepenuhnya betul karena saya bekerja untuk dan digaji oleh orang lain, orang yang bukan kenalan orang tua saya) serta latar belakang sosial dan pendidikan saya. Saya sengaja tidak menyebutkan bahwa saya sudah tidak mengenyam pendidikan di Indonesia sejak SMP. Saya juga tidak mengatakan bahwa saya sering bersepeda ke tempat kerja saya demi pertimbangan ekologis (kecuali saat saya ditugaskan ke Ubud atau saya ada acara setelah jam kerja yang mana saya akan menggunakan sepeda motor). Pemahamannya akan jurusan yang saya ambil nyaris nihil dan dia hanya melakukan jenderalisir, namun kata-kata yang semakin menunjukkan kepicikannya terus keluar dari mulutnya. Jauh dari peribahasa "seperti ilmu padi, kian berisi kian merunduk".

Surat keterangan bekerja saya yang merupakan salah satu berkas untuk pemeriksaan tidak disentuhnya dan hanya dilihat sepintas. Sekali lagi dia melakukan jenderalisir, kali ini akan industri dan perusahaan tempat saya bekerja. Sementara transkrip semester pertukaran dan jurusan lain saya tidak dibahasnya sama sekali. Dia hanya terfokus pada salah satu jurusan kuliah saya, penyerangan terhadap watak saya, dan perusahaan tempat saya bekerja.

Tidak hanya itu, yang bersangkutan bahkan menyebutkan bahwa "pihak universitas tidak peduli pada halangan pekerjaan yang dihadapi mahasiswa" dan "kehadiran 75 persen adalah mutlak". Lalu untuk apa meminta beberapa calon mahasiswa untuk membawa surat keterangan bekerja? Dengan kata lain dia mengamini bahwa program ekstensi memang ditujukan untuk mereka yang gagal masuk program reguler dibandingkan mereka yang sudah punya pekerjaan dan ingin beralih bidang.

Sungguh sebuah keangkuhan dalam pelayanan publik yang tidak optimal.

Bersambung...

7/05/2015

Tayangan Rasis?

Beberapa pekan belakangan masyarakat disuguhi musim terbaru dari tayangan realitas yang dilisensikan kepada salah satu saluran televisi swasta terkemuka. Saya tidak akan menyebutkan nama dari tayangan tersebut dan berharap Anda bisa menebak tayangan apakah itu. Saya tidak menonton tayangan tersebut namun orang-orang di rumah saya menontonnya sehingga saya sedikit terekspos.

Saya memperhatikan bahwa apabila salah satu peserta tayangan tersebut harus mempersembahkan hasil kreasinya, ada musik bernada etnis dimasukkan ke dalam klip suntingan yang disuguhkan kepada penonton. Tak hanya itu, peserta tersebut pun diberikan nama panggilan yang terkesan etnis (yang biasanya hanya anggota keluarga dan kerabat dekat akan menyebutnya) ketimbang nama panggilan yang lebih netral.

Yang menjadi pertanyaan adalah apakah dimasukkannya musik etnis itu pantas? Jika ya, mengapa? Mengapa harus mengumbar etnisitas peserta tersebut? Apakah tayangan tersebut tidak memiliki nilai jual lain?

Mengenai nama panggilan, sah-sah saja jika nama panggilan si peserta agak etnis jika memang yang bersangkutan setuju atas penggunaan nama tersebut (dan bukan karena paksaan oleh pihak saluran televisi untuk mengumbar eksotisme) dan memang dipanggil demikian oleh hampir semua orang yang pernah berkomunikasi dengannya. Hanya saja, saya menduga ada kesalahan pengejaan nama panggilan peserta yang terkesan dibiarkan.

Di Amerika Serikat, tayangan animasi lawas macam Tom & Jerry sudah disunting agar lebih layak sesuai dengan konteks yang berlaku. Ada beberapa episode Tom & Jerry (dan juga Droopy) yang membuat lelucon terhadap etnis dan warna kulit tertentu.

N.B.: Saya tidak akan membahas mengenai drama berlebihan dan terkesan dibuat-buat dari tayangan realitas tersebut yang sebetulnya membuat saya menjauhinya. Ada kata yang sengaja saya tebalkan pada kalimat sebelumnya.

5/25/2015

Eurovision Song Contest 2015

Eurovision Song Contest kembali digelar pekan lalu dan kota penyelenggara Wina pun berbenah. Ruang terbuka digunakan untuk mengadakan acara nobar, beberapa trem-trem kota pun bertemakan Eurovision. Swedia menang lagi setelah sebelumnya menang pada tahun 2012. Lalu, apa pertunjukan favorit saya?

Huit points pour l'Australie
Saat pertama kali saya mendengar lagu ini, saya merasa biasa saja. Tidak ada sesuatu yang wah sekalipun saya sudah mendengarkan lagu-lagu dari Guy Sebastian sejak 2007. Namun penampilannya pada Grand Final benar-benar spektakuler sekalipun saya kurang menyukai gimmick lampu jalanan.

Ya, Australia bukanlah bagian dari Eropa tapi mereka tamu dalam hajatan tahunan ini mengingat beberapa penyanyi Australia pernah mewakili negara lain dan acara ini sudah tayang selama lebih dari 30 tahun serta adanya basis penggemar yang cukup besar di sana.

Dix points pour la Norvege
Lagu ini bukan lagu yang dapat digemari semua orang. Liriknya tidak begitu mudah dimengerti, begitupun MV-nya. Justru misteri dari lagu itulah yang membuat saya terpikat. Adakah istilah arthouse song?

Et enfin les douze points vont pour l'Estonie
Sekilas lagu ini mengingatkan saya pada Calm After The Storm yang dipersembahkan oleh The Common Linnets di Kopenhagen tahun lalu. Lagu ini sungguh sederhana walaupun saya amat yakin lirik lagu ini tidak sesuai untuk budaya Indonesia.

Rata-rata lagu-lagu tahun ini memang lebih sederhana dibandingkan beberapa tahun lalu (dengan pengecualian teramat sangat kepada Still In Love with You-nya Electro Velvet). Koreografi gila yang sangat identik pada acara ini juga nyaris tak ada. Tentu amat disayangkan bahwa Austria dan Jerman mendapatkan nul points. Di sisi lain, saya cukup senang Ceko kembali berpartisipasi walaupun lagu yang mereka bawakan bukan selera saya.

5/06/2015

Tur Q! Film Festival di Bali


Antara tanggal 26-30 April 2015, Q! Film Festival mengadakan pemutaran film di dua tempat di Bali yakni Bentara Budaya Bali dan ISI Denpasar. Karena berhalangan dengan jadwal kerja maka pemutaran-pemutaran yang memungkinkan untuk saya kunjungi adalah pemutaran pada tanggal 26 dan 27 di Bentara Budaya Bali.

Pada tanggal 26 April, film yang diputar adalah Selamat Pagi Malam. Namun saya tidak hadir karena cuaca wilayah Bali selatan saat itu sangat tidak menentu selama musim pancaroba ini. Yang membuat saya heran adalah pada hari yang sama Bali Emerging Writers Festival mengadakan beberapa pemutaran film di Danes Art Veranda yang mana salah satu filmnya adalah Selamat Pagi Malam. Hanya saja pemutaran film BEWF mengundang sutradara film tersebut sementara pemutaran di Bentara Budaya Bali mengundang salah satu pemerannya yakni Marissa Anita.

Barulah pada tanggal 27 April saya menyaksikan pemutaran film Laurence Anyways di Bentara Budaya Bali. Festival film ini memang khusus mengangkat film-film yang membahas isu-isu LGBTIQ dan Laurence Anyways berfokus pada kisah transgender (dengan sedikit skandal gay). Film ini cukup panjang namun alur ceritanya tidak mudah ditebak sehingga saya merasa puas pada akhir film. Ya, saya tidak terlalu suka film dengan alur cerita yang mudah ditebak.

Cukup disayangkan bahwa penonton yang hadir pada tanggal 27 April tidak terlalu banyak namun saya dapat memakluminya: promosi baru digencarkan beberapa hari sebelum pemutaran film pertama, film mengangkat isu dewasa sehingga peminatnya sangatlah niche, dan pemutaran film pada malam hari dan sebelum hari kerja. Walaupun blog Bentara Budaya Bali memberitakan agenda bulanan mereka pada awal bulan, sama sekali tidak ada bahasan mengenai tur Q! Film Festival. Tidak ada promosi di Facebook maupun Twitter mereka. Bahkan kalau bukan karena sebuah pos di grup Facebook Denpasar Film Festival mungkin saya tidak tahu bahwa acara ini berlangsung.

4/28/2015

Kesibukan Baru

Di halaman Tentang Saya tertulis bahwa saya adalah pengangguran. Tidak lagi. Semenjak awal bulan ini saya sudah mendapat pekerjaan penuh waktu dan waktu saya benar-benar terkuras. Bukan karena tugas saya yang banyak atau waktu yang diperlukan sangat banyak. Hanya saja semenjak saya mulai bekerja, waktu saya di rumah jadi lebih banyak digunakan untuk menonton tayangan-tayangan televisi yang tertumpuk di komputer jinjing saya. Waktu yang saya luangkan untuk pergi berkegiatan sosial juga bertambah.

Oleh karena itu saya minta maaf jika blog ini jadi jarang diperbarui.

4/19/2015

Ayah Masao

Belakangan ini saya jarang menonton televisi karena banyak acaranya yang tidak menggugah saya namun pagi tadi saya menonton Shinchan di RCTI. Tumben-tumbennya ada kisah yang mengangkat ayah Masao.

Jika Anda mengoleksi komik Shinchan, mungkin Anda sudah pernah membaca kisah tentang identitas ibu Bo yang tidak jelas. Dia tampil namun wajahnya tidak diberikan. Hal yang sama terjadi pada ayah Masao di versi animasinya. Hingga akhir kisah, kita tidak tahu persis bagaimana wajah ayah Masao.

4/18/2015

Jangan Diikuti

Do Not Track adalah dokuweb yang diproduksi atas kerja sama antara saluran TV Prancis-Jerman Arte, Badan Film Nasional Kanada (NFB/ONF), lembaga penyiaran publik negara bagian Bavaria, Jerman serta beberapa mitra lain seperti AJ+. Dokuweb ini menelusuri seberapa banyak perusahaan-perusahaan seperti Google dan Facebook mengetahui informasi tentang kita untuk kemudian dilelang kepada pihak ketiga.

Tahukah Anda bahwa untuk setiap harinya kita menggunakan Facebook perusahaan itu meraup keuntungan senilai 9 dolar (entah dolar Kanada atau Amerika Serikat)? Bayangkan 9 dolar per orang per hari! Ingat janji Facebook yang mengatakan bahwa Facebook akan gratis selamanya? There's no such thing as free lunch. Begitu pula dengan Google yang meraup 45 dolar per orang per hari.

Cookies mengizinkan berbagai pihak mengetahui situs-situs lain apakah yang kita buka di tab-tab lain. Sayangnya aturan Uni Eropa mengharuskan situs-situs untuk memberitahu pengguna mereka namun belum ada tawaran agar kita sebagai pengguna dapat menolak cookies tersebut.

Dokuweb ini terdiri atas tujuh episode dan satu episode baru akan diluncurkan setiap dua minggu. Namun untuk peresmian dokuweb ini, dua episode sudah tersedia yang terdiri atas dua video semi-interaktif sepanjang 5 hingga 7 menit. Pada peluncuran episode ketujuh nanti kita akan diberi tahu seberapa banyak internet mengetahui diri kita.

Beberapa tahun terakhir saya memang menggemari dokuweb-dokuweb produksi NFB/ONF seperti Fort McMoney yang menurut saya benar-benar luar biasa baik dari segi isi maupun narasi dan genre-bending. Saya juga cukup menyukai beberapa film pendek dan animasi yang tersedia secara umum tanpa batasan geografis yang tersedia di situs NFB/ONF.  Yang saya sayangkan adalah negara di mana saya pernah menempuh pendidikan tinggi, Australia, tidaklah seproaktif Kanada dalam menyampaikan narasi-narasi dengan metode kreatif.

Catatan kecil: Pernah suatu kali saya mempromosikan foto Instagram saya di Twitter dan langsung mendapat balasan bernada:

"Ternyata kamu yang memiliki akun ... Kamu sudah jadi bahan tertawaan di [tautan]"

Bodohnya saya mengklik tautan tersebut. Sebuah aplikasi pihak ketiga telah saya aktifkan yang mengizinkan salah satu situs berita terkemuka Indonesia (yang pemberitaannya terkenal asal dan sensasional serta memiliki layout situs yang cukup buruk) untuk memantau foto-foto yang saya unggah.

Beruntung saya dapat segera mematikan aplikasi tersebut. Akun Twitter yang memberikan cuitan di atas lantas saya blokir. Saya berharap keadaan dapat kembali seperti sediakala (walaupun saya agak ragu karena saya tidak memercayai situs berita tersebut dan tidak pernah membaca berita dari sana). Benarkah saya tidak dikuntit?

4/13/2015

Tantangan Ekonomi

Kali ini saya akan mengangkat satu artikel koran dan satu iklan yang mana dua-duanya diterbitkan oleh salah satu koran ternama Asia.

Straits Times 23/03/2015
Timor Leste terancam resesi jika pemerintah negara tersebut gagal melakukan diversifikasi ekonomi. Saat ini, negeri tersebut terlalu mengandalkan devisa minyak. Anjloknya harga minyak mengancam keuangan negara tersebut.

Ada hal penting yang bisa dipelajari Bali dari berita tersebut. Bali juga perlu melakukan diversifikasi ekonomi. Ekonomi Bali sudah lama bergantung pada sektor pariwisata. Sudah saatnya sektor-sektor lain turut dikembangkan seperti sektor TI dan ekonomi kreatif.

Beralih ke hal lain.

Investasi properti adalah hal yang menggiurkan terutama di bagi kebanyakan masyarakat Asia. Properti dianggap sebagai jaminan di kala kondisi tak menentu. Apalagi di banyak negara Asia, investasi non-properti masih dianggap terlalu riskan.

Saya tidak berlatar belakang ekonomi ataupun keuangan. Membeli properti di salah satu negara yang sedang booming merupakan tawaran investasi yang menggiurkan.

Hal ini mungkin berdampak baik pada negara tersebut dalam jangka pendek namun bisa mengalami komplikasi dalam jangka panjang. Ketika hanya sebagian penduduk Kamboja yang taraf hidupnya meningkat selama boom ekonomi, harus disadari bahwa kemiskinan masih merajalela dan berdampak pada melebarnya kesenjangan sosial.

Apa jadinya jika kesenjangan sosial menjadi terlalu lebar? Revolusi Prancis? Afrika Selatan? Entahlah. Saya harap regulasi dan pelaksanaan regulasi di negara-negara berkembang diperketat. Kerancuan dalam undang-undang juga harus dikurangi, andai kata regulasi menjadi basi baiknya direvisi.

Semoga apa yang akan dihadapi Timor Leste dan Kamboja dapat menjadi pelajaran bagi kita. Jika Anda merasa bahwa tulisan saya terlalu ngalor-ngidul, tanyakanlah pada saya sehingga saya dapat menjelaskan maksud saya dengan lebih jelas.

Pembaruan:

Seorang staf bidang ekonomi dan perdagangan di Kedutaan Besar Timor Leste di Singapura mem-follow up laporan Straits Times. Ibu Chua menulis bahwa pemerintah Timor Leste berusaha keras untuk melakukan diversifikasi ekonomi dan berharap negara tersebut dapat bernasib seperti Singapura dalam beberapa dasawarsa ke depan.

4/03/2015

Sandera

 
Bnei aruba (בני ערובה) atau Hostages adalah seri televisi Israel. Seri ini adalah seri televisi Israel pertama yang mendapat hak remake asing dan tayang terlebih dahulu di negara lain sebelum versi aslinya tayang di negara asalnya. Bahkan sebetulnya saat seri ini selesai disunting, belum ada satu saluran televisi pun yang membeli hak siarnya. Seri ini terdiri atas sepuluh episode yang berdurasi antara 30 hingga 45 menit.

Yael Danon adalah seorang ahli bedah mapan dan suaminya, Eyal Danon, adalah seorang kepala sekolah. Suatu hari Yael mendapat tawaran untuk melakukan operasi terhadap perdana menteri Israel yang mengundang iri hati dari mentornya. Saat pulang ke rumah sehari sebelum operasi paling bergengsi selama karirnya, keluarganya kedatangan tamu tak diundang yang menuntut agar PM Shmuel Netzer mati.

Yael tak mau melakukan hal tersebut namun dia ingin menyelamatkan keluarganya. Drama pun dimulai. Perlahan rahasia-rahasia yang dipendam masing-masing anggota keluarga dan penyandera terbongkar. Keuangan keluarga Danon dalam masalah dan rumah mereka terancam disegel bank. Eyal mencari cara agar bisa terbebas dari lilitan keuangan dengan akibat yang sangat fatal. Anak sulung mereka, Noa, hamil sementara Assaf, si bungsu, menjalankan usaha penjualan soal-soal ulangan berkat hubungannya dengan ayahnya (walaupun si ayah sebenarnya tak tahu).

Kecerdikan Yael pula mengakibatkan kematian PM Netzer tertunda. Di tengah-tengah tekanan waktu, dia juga melakukan investigasinya sendiri terhadap pemimpin penyanderaan - Adam Rubin, salah seorang tokoh penting di kepolisian Israel. Walaupun pada akhirnya Yael berhasil membebaskan keluarganya dari penyandera setelah melakukan penyanderaan balasan terhadap istri Adam, Yael memutuskan untuk "membunuh" PM Netzer setelah mengetahui bahwa sang perdana menteri adalah pemerkosa dan istri Adam sebenarnya adalah anak haram hasil hubungan sang perdana menteri. Sebuah penyanderaan yang hanya bertujuan utama untuk mendapatkan tulang sumsum Netzer.

Tentu ini adalah kisah fiksi yang sangat baik namun ada beberapa hal yang tak mengena. Misalnya Noa yang membukakan pintu rumahnya untuk orang tak dikenal. Mungkinkah pengaruh hormon remaja? Kita tahu Israel adalah negara yang sangat peduli pada isu keamanan karena hubungan antara negara tersebut dengan tetangga-tetangganya. Apakah semudah itu bagi Noa untuk mempercayai "juru operator set-top box televisi berbayar" yang berdalih akan terjadinya gangguan pemancaran? Begitu pula dengan mantan kekasih Noa yang nekad menerobos masuk rumah keluarga Danon untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam setelah kabur dari latihan wajib militer. Apa benar dia laki-laki bajingan tipe "habis manis sepah dibuang" yang pada awalnya ingin Noa menggugurkan kandungannya?

Oh ya, jika Anda tipe orang yang percaya pada teori konspirasi akan orang Yahudi pandai mengatur keuangan mungkin seri ini akan mengguncang kepercayaan Anda. Keluarga Danon terancam gulung tikar akibat tidak mampu membayar KPR. Begitu pula dengan saluran televisi yang menayangkan seri ini, Channel 10. Channel 10 Israel adalah saluran televisi yang mengalami kesulitan keuangan dan kerugian milyaran shekel hingga terancam bangkrut sebelum mendapat suntikan dana pemerintah Israel (dengan alasan mempertahankan keragaman sudut pandang).

Seri ini dapat Anda tonton di YouTube dengan teks bawah dalam bahasa Inggris. Tontonlah segera sebelum adanya gugatan atas pelanggaran hak cipta dan video-video tersebut dihilangkan (yang saya rasa tidak akan terjadi dalam waktu dekat).

3/30/2015

Daging yang Anda Santap

Isu ini mungkin adalah isu yang agak divisif untuk dibahas di Indonesia - kesejahteraan ayam. Mungkin ada yang beranggapan untuk apa mengurus kesejahteraan binatang jika kesejahteraan manusia di negeri ini saja belum maksimal.

Sore tadi saya melihat sebuah kendaraan mengangkut ayam ras. Di ruang yang cukup sempit, mereka tak dapat berdiri sehingga terpaksa duduk. Kesempitan itu sungguh terasa hingga terjadi kekerasan. Lihatlah beberapa ekor dari mereka dengan bulu-bulu yang mulai terkoyak dan mengekspos daging mereka.

Banyak di antara mereka yang melihat keluar dari kurungan penyiksaan mereka. Saya yakin mereka semua belum pernah melihat dunia luar, atau mungkin sekadar mengambil udara menghindari pengapnya kurungan. Bayangkan jika hal itu terjadi pada manusia, pasti banyak yang mengutuk hal tersebut dan mencapnya sebagai genosida.

Sebelum Anda mengatakan saya hipokrit, perlu Anda ketahui bahwa konsumsi daging saya sudah jauh berkurang jika dibandingkan dengan beberapa tahun lalu (terutama sekitar 2011-2013) walaupun tak dapat dikatakan bahwa saya sudah menjadi vegetarian.

Di beberapa negara maju terutama di negara-negara Uni Eropa sudah diterapkan aturan mengenai perlakuan terhadap hewan ternak (terutama jenis unggas) yang lebih layak. Sayangnya, memberikan ruang gerak yang lebih banyak kepada hewan ternak ternyata juga berimbas pada meningkatnya kadar obat-obatan yang harus diberikan kepada hewan-hewan tersebut. Inilah pedang bermata dua yang saya yakin kebanyakan dari kita harus telan setiap hari.

Jadi, apakah Anda lebih memilih untuk menyantap daging dari hewan yang pada masa hidupnya tersiksa ataukah hewan yang hidupnya lebih bahagia namun menenggak obat-obatan? Atau mungkin Anda memelihara hewan ternak di rumah Anda sehingga Anda dapat mengatur tingkat kesejahteraan hewan-hewan Anda? Apa pandangan Anda? Ataukah Anda termasuk dalam pihak yang tidak peduli dan tidak mau tahu?

3/26/2015

Ironi Waffle


Pekan lalu saya mengikuti sebuah perlombaan yang diadakan Kedutaan Besar Swedia untuk Indonesia di Instagram. Mereka menginginkan peserta untuk membuat interpretasi kreatif akan waffle. Saya kebetulan punya stok foto waffle yang saya beli saat saya menghadiri Scandinavian Festival Brisbane pada tahun 2013 lalu.

Foto kiriman Sweden in Indonesia (@swedenjakarta) pada


Namun foto waffle saya tersebut menyimpan sebuah ironi. Waffle itu saya beli dari stan Norwegia.

3/25/2015

Pekan Museum #souvenirsMW

Pekan ini berbagai museum di penjuru dunia merayakan #MuseumWeek, sebuah perayaan kebudayaan di twitter. Saya juga ikut merayakannya. Berikut beberapa cuitan saya kemarin dengan tema #souvenirsMW:




Terdapat agenda pada setiap hari selama pekan ini akan apa yang seharusnya Anda bagikan. Informasi lebih lanjut dapat Anda temukan di sini. Tagar hari ini adalah #architectureMW.

Selamat merayakan museum-museum favorit Anda!

3/24/2015

Akar

Seperempat abad yang lalu, trotoar di samping jalan kompleks pertokoan ini masih layak pakai. Tiang lampu pun masih gagah perkasa dan lampunya menyala. Pohon yang ditanam persis di samping tiang lampu juga masih sangat kecil.

Kini, pohon itu sudah besar. Tingginya melebihi tiang lampu. Akarnya merambat ke mana-mana, menghancurkan batu-batu yang digunakan sebagai permadani di mana kendaraan bermotor diparkirkan. Tiang lampu sudah oleng bagaikan Menara Miring Pisa dan lampunya tak pernah menyala lagi. Sebenarnya lampunya sudah pecah dan tak diganti. Kabel listrik berbaur dengan pohon yang meninggi dan tiang lampu yang sudah wafat. Akankah bencana menanti?

Berjalan kaki pun sudah tak nyaman karena pohon-pohon besar menghalangi langkah pejalan kaki (selain karena pembangunan di negeri ini tak pernah memihak pejalan kaki). Manusia-manusia negeri ini memang tak pandai merancang dan merawat.

Lihatlah trotoar lain yang berada persis di depan ruko di mana dua orang itu berpijak sembari mengobrol. Sebenarnya sudah jebol dan baru-baru ini saja diperbaiki karena pemilik ruko merasa khawatir akan mendapat tuntutan hukum atas ketidaknyamanan yang mungkin menimpa para pelalu-lalang.

Kompleks ini bersejarah karena ruko-rukonya merupakan salah satu yang pertama dibangun saat kota ini mulai dikembangkan walaupun tak setua dengan mereka yang berada di kota tua. Tidak ada yang peduli.

Buku Berbahasa Bali


Tadi malam saya mengunjungi salah satu toko buku di kota Denpasar. Saya tertarik dengan kumpulan buku dalam bahasa Bali yang dipajang. Hanya beberapa judul saja dan semuanya tipis (kira-kira sama tebalnya dengan buku L'analphabète karya Agota Kristof). Bagaimanapun, saya cukup senang tatkala melihat bahwa dua dari pengarang buku-buku tersebut adalah dari generasi muda kelahiran tahun 1970an dan 1990an. Ini menunjukkan bahwa ada upaya untuk mengembangkan sastra kontemporer Bali.

Bahasa Bali mungkin hanya dituturkan oleh sekitar 3 juta orang tapi jika dibandingkan dengan bahasa Slovenia yang dituturkan oleh hanya sekitar 2 juta orang, sastra Bali jauh tertinggal dibandingkan dengan sastra Slovenia. Memang perbandingan ini agak tidak imbang karena Slovenia adalah negara yang relatif maju tapi patut diketahui bahwa sebelum tahun 1991, Slovenia hanyalah sepotong daerah dari negara-negara lain namun masyarakatnya tekun mempertahankan kebudayaan mereka selama beratus-ratus tahun.

Bukankah ironis jika kita mendengar bahwa Bali adalah pulau yang terkenal di seantero dunia berkat kebudayaannya namun tidak dapat melakukan regenerasi pada budaya sastranya?

3/19/2015

Armada Baru Trans Sarbagita


Sore ini saat melintasi Jl. Sudirman, Denpasar saya melihat sebuah armada bus dengan logo Trans Sarbagita. Saya menduga ini adalah armada baru untuk layanan kendaraan umum di kawasan Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan ini. Trans Sarbagita memiliki logo baru. Sayangnya, busnya masih juga memiliki lantai yang agak tinggi sehingga hanya memungkinkan dinaiki oleh penumpang pada tempat-tempat yang disediakan (baca: halte-halte yang desainnya tak ramah pada golongan tertentu).

Sebelumnya, saya juga pernah melihat bus kosong dengan logo Damri melintasi Jl. Diponegoro. Saya sempat mendengar kabar bahwa pengoperasian Trans Sarbagita belum balik modal sehingga ada baiknya beberapa trayek yang belum beroperasi ditenderkan kepada pihak lain, walaupun Dishub Bali enggan memberikan tender kepada pihak swasta. Kabarnya, Damri adalah salah satu pemenang tender sebuah trayek (atau mungkin lebih?).

3/17/2015

Tommy Krångh

Tommy Krångh adalah seorang penafsir bahasa isyarat Swedia (Svenskt teckenspråk). Tahun ini dia kebetulan bertugas menafsirkan lagu-lagu yang ditampilkan pada Melodifestivalen, acara di lembaga penyiaran publik Swedia SVT yang bertujuan untuk memilih lagu apa yang akan mewakili Swedia di Eurovision Song Contest. Dia kemudian menjadi sensasi berkat gerakan-gerakannya selama menafsirkan lagu-lagu. Video di atas menunjukkan aksinya saat menafsirkan lagu "Temui Aku di Kota Tua Stockholm" (terjemahan karangan saya) oleh Magnus Carlsson.

Saya tidak terlalu tertarik pada Melodifestivalen karena saya merasa bahwa acara itu terlalu cheesy untuk selera saya. Saya tertarik pada pemberian layanan penafsiran dalam bahasa isyarat Swedia untuk lagu-lagu yang ditampilkan. Melodifestivalen adalah salah satu acara televisi yang paling banyak ditonton di Swedia dan tidak heran bahwa pihak SVT ingin menggaet sebanyak mungkin penonton tanpa mendiskriminasi mereka berdasarkan kekurangan panca indra mereka.

Sebelumnya saya pernah menulis pos mengenai layanan closed caption di televisi Australia yang bertujuan untuk membantu mereka yang mengalami kesulitan pendengaran. Sebenarnya ada satu bentuk layanan televisi lain yang belum tersedia di Australia yakni audio description (AD) yang bertujuan untuk membantu mereka yang mengalami kesulitan penglihatan mengerti tayangan televisi yang mereka tonton. AD sudah tersedia di Inggris dan Selandia Baru dan sempat diuji coba di Australia pada tahun 2012 namun mendapat banyak keluhan karena dianggap mengganggu.

Tak peduli itu penafsiran ke dalam bahasa isyarat, CC atau AD, mereka semua menyerap tenaga kerja terampil, membantu mereka yang mengalami kesulitan dalam memahami sebuah tayangan televisi, dan mengukuhkan kenyataan bahwa semua penonton dapat duduk sejajar. Lihatlah Tommy Krångh yang sangat menikmati pekerjaannya. Saya ingin layanan seperti ini diberikan di Indonesia. Bagaimana mungkin negara yang hanya berpenduduk 9,5 juta jiwa dapat melakukannya namun negara yang berpenduduk sekitar seperempat milyar jiwa tidak tahu akan teknologi dan layanan ini?

Mengenai penafsiran lagu - saat saya tinggal di Brisbane sempat diadakan konser seperti itu. Bedanya, konsernya berada di dalam ruangan walaupun si penafsir juga sangat menghayati pekerjaannya. Tentu suasana antara menonton konser langsung dan di televisi berbeda. Apakah mereka yang mengalami kesulitan pendengaran merasakan perbedaannya?

3/16/2015

Denpasar, Surabaya?

Pagi ini saya menyalakan televisi. Liputan 6 Pagi masih tayang. Namun saya sempat merasa girang tatkala melihat logo SCTV Denpasar. SCTV akhirnya memproduksi siaran berita lokal?

Layaklah kegirangan saya hanya sejenak. Pembaca berita berdiri di depan video wall. Tak mungkin rasanya kantor SCTV di Denpasar punya video wall sebesar itu. Saya melihat ke bawah layar. Ada logo Liputan 6 Surabaya? Acara apa yang sebenarnya saya tonton?

3/13/2015

Badan Urusan Logistik

Di Jl. Puputan, Denpasar terdapat kantor pusat Bulog untuk kawasan Bali. Lembaga ini kerap mengadakan jualan khusus di luar kantor mereka, persisnya di samping trotoar.

Pada foto di samping, wanita ini memarkir kendaraannya di tepi jalan, membeli kebutuhan pokok yang ditawarkan, dan kembali ke tempat di mana dia memarkir kendaraannya. Saya pernah menyaksikan pengendara sepeda motor yang menaikkan kendaraannya ke atas trotoar lalu melihat-lihat dagangan ini tanpa merasa bersalah.

Pernah seorang pegawai kantoran di Denpasar mendengar ucapan atasannya mengenai penjualan ini lalu datang melihat-lihat. Sekembalinya ke kantor, dia bercurhat bahwa beras dan gulanya berkualitas buruk. Harganya pun tak jauh berbeda dengan harga di pasar swalayan. Katanya lebih baik berbelanja di pasar swalayan karena kualitas dan harganya jauh lebih menarik.

Benarkah? Saya tak tahu.

3/12/2015

RTV Denpasar?

Pagi ini saya menyalakan televisi dan melihat bahwa RTV kembali bersiaran di wilayah Denpasar. Mereka menggunakan frekuensi 51 UHF.

Frekuensi 51 UHF ini sebenarnya sudah lama dirundung kontroversi. Menjelang pilgub 2008, mantan bupati Jembrana yang kala itu mencalonkan diri sebagai cagub menggunakan frekuensi tersebut untuk menyiarkan tayangan-tayangan seputar perkembangan kabupaten yang dinaungi beliau berkedok Jimbarwana TV. KPID Bali mempermasalahkannya karena frekuensi 51 UHF sebenarnya ditujukan untuk tujuan penyiaran di kabupaten Buleleng. Jimbarwana TV pun akhirnya tutup tak lama kemudian.

Di laman web RTV, mereka mengklaim bahwa RTV tersedia di 51 UHF Singaraja. Namun siarannya sempat berkali-kali melimpah ke Denpasar. Jika Anda tinggal di luar Bali dan tidak tahu kondisi geografi Bali, Denpasar dan Singaraja berada di dua ujung berbeda. Denpasar adalah ibu kota provinsi dan terletak di selatan pulau. Sementara Singaraja dulunya adalah ibu kota provinsi Sunda Kecil (kala Bali, NTB, dan NTT masih menjadi satu provinsi) dan terletak di pantai utara Bali.

Berkali-kali pula KPID Bali menghentikan siaran RTV di Denpasar karena izin siar mereka hanya mencakup Singaraja (dan Buleleng) saja. Apakah kali ini RTV sudah memiliki izin siar di Denpasar ataukah hanya main kucing-kucingan lagi dengan KPID Bali yang mungkin lengah akibat hujan yang melanda Denpasar beberapa hari terakhir? Apa kaitannya? Memburamnya gambar siaran televisi akibat cuaca bisa saja membuat pegawai KPID Bali malas memantau tayangan televisi yang disiarkan di Bali. Maksudnya, untuk apa melihat gambar buram?

Saat awal B Channel mulai tayang di Denpasar, saya cukup suka dengan tayangan-tayangan mereka (walaupun belum sampai ke kelas tayangan-tayangan yang saya gemari). Namun seiring berkembangnya kabar mereka tidak punya izin siar di Denpasar, saya jadi malas menonton saluran tersebut. Usai pergantian nama menjadi RTV, mereka sudah tak bersiaran lagi di Denpasar. Bahkan saat saya tinggal beberapa minggu di Surabaya di mana mereka punya izin siar, saya enggan menonton saluran itu.

3/09/2015

Apel Busuk

Buah impor kerap menjadi primadona di pasar swalayan. Sayangnya, pemeriksaan kadang tak ketat sehingga buah tak layak pangan terkadang masuk di dalam keranjang yang mana diberikan kepada pelanggan untuk memilah buah yang ingin mereka beli. Atau mungkin ada konspirasi asing untuk meracuni populasi negeri ini melalui makanan impor?

Kubis Beku

Agak aneh rasanya jika menemukan produk impor di pasar swalayan Indonesia yang semestinya ditujukan untuk konsumen di Albania, Bosnia & Herzegovina, Bulgaria, Ceko, Hongaria, Kazakhstan, Kosovo, Kroasia, Moldova, Polandia, Romania, Rusia, Serbia, Slowakia, dan Ukraina sekalipun pabriknya diklaim berada di Prancis.

Kalau dipikir-pikir, berarti konsumen Slovenia menggunakan produk yang juga ditujukan untuk konsumen Italia dan Austria?

3/08/2015

Iklan di Koran Gratisan

Saluran-saluran televisi Australia. Saya merindukannya. Karena tayangannya jauh lebih layak tonton dan bervariasi. Karena aturan-aturan mengenai apa yang boleh tayang lebih ketat. Karena acara-acara yang saya tonton saat ini saya dapatkan akibat menonton televisi Australia. Sayangnya, kini saya tinggal di Denpasar lagi. Tunggu dulu ... ternyata ada cara untuk menonton saluran-saluran tersebut. Saya duga cara tak resmi yang paling-paling memanfaatkan pemancar yang ada di Kepulauan Cocos (Keeling) atau Pulau Natal. Yang saya perlukan sebetulnya hanya ABC dan SBS tapi saluran-saluran lainnya juga tidak apa-apa.

Masih di koran yang sama, ada pembahasan mengenai ajakan untuk melakukan visa run ke Kuala Lumpur daripada Singapura. Pemerintah Muangthai sudah melakukan razia dan melarang pelaku visa run untuk memasuki negara tersebut. Saya ingin pemerintah negara ini melakukan hal yang sama. Jika seseorang harus melakukan visa run agar dapat melakukan sesuatu (usaha, wisata, kunjungan sosial, dsb.) di Indonesia, bukankah itu sebenarnya mencerminkan buruknya birokrasi di negeri ini yang berbelit-belit dan di sanalah negeri-negeri tetangga memanfaatkan aliran dana yang keluar dari negeri ini? Selain itu, bukankah amat berbahaya jika seorang WNA bolak-balik ke negeri ini? Tujuan mereka keluar masuk menjadi buram. Pengecualian diberikan jika mereka penduduk tetap di daerah perbatasan.

3/07/2015

Buzz Aldrin, di manakah engkau berada saat kebingungan terjadi?

Buzz Aldrin, hvor ble det av deg i alt mylderet? adalah seri televisi Skandinavia yang baru-baru ini selesai saya tonton. Seri ini memang sudah agak lawas, dirilis pada tahun 2011 dan diproduksi oleh lembaga penyiaran publik Norwegia, NRK, dengan bantuan dari LPP-LPP Nordik lainnya (seperti biasa).

Seri televisi ini mengisahkan seorang pria, Mattias, yang lahir pada hari yang sama ketika Neil Armstrong dan Buzz Aldrin menjejakkan kaki mereka di bulan. Mattias patah hati setelah putus hubungan dengan kekasihnya setelah bertahun-tahun menjalin hubungan, sementara itu tempat kerjanya dinyatakan bangkrut. Dia kerap membanding-bandingkan kehidupannya dengan Buzz Aldrin, tak pernah terdengar gaungnya karena kalah pamor dari orang lain yang lebih dulu melakukan hal yang sama.

Mattias lantas mengikuti rekan-rekan bandnya tur ke Kepulauan Faroe. Mattias mabuk di atas kapal, melakukan hal bodoh, dan memutuskan untuk mengasingkan dirinya di Kepulauan Faroe. Di sana, dia diterima tinggal di sebuah panti (yang disebut "pabrik") yang menerima orang-orang dengan kasus yang sama seperti Mattias. Panti itu diasuh oleh Havstein (pemeran Theis Birk Larsen dari Forbrydelsen I) yang sebenarnya juga lari dari Denmark karena suatu hal yang dia saksikan di masa mudanya.

Semua orang di "pabrik" berusaha mengakhiri masa lalu mereka yang kelam. Pada saat Mattias tiba, semuanya berstatus quo. Namun perlahan ada yang berhasil, ada pula yang bernasib naas seperti Sofia - seorang wanita yang pernah menjalin hubungan singkat dengan Mattias. Mattias pada akhirnya berhasil melupakan kepahitannya dan menjalin hubungan dengan Eyddis, seorang wanita setempat (pemeran ibu dari putri yang diculik pada Forbrydelsen III). Tentu saja, hilangnya Mattias tanpa kabar selama berbulan-bulan sempat meresahkan keluarga dan kerabatnya di Norwegia.

Menurut saya, seri ini ada sedikit kemiripan dengan The Secret Life of Walter Mitty, selain dari soundtrack. Walaupun beberapa petik dialognya terasa dangkal dan mengada-ada (tidak dalam artian gombal), saya menilai bahwa seri ini sebetulnya cukup baik dan menyegarkan (terutama jika selama ini Anda terlalu berkutat dengan seri kriminal Skandinavia). Ya, ini adalah salah satu dari sekian seri televisi yang sebetulnya mengangkat nilai seni televisi. Televisi bukanlah saudara tiri film tapi adalah benda seni yang nilainya sejajar dengan film. Seri ini membuktikan bahwa there is no such as thing as too good for television.

Courtesy: NRK
Bahasan off-topic
Desa kecil di Kepulauan Faroe dihubungkan dengan kota Tórshavn berkat adanya layanan kendaraan umum yang memadai yakni bus. Saya berharap hal yang sama dapat diterapkan di negeri ini dan saya tidak peduli dengan pendapat mengenai tingkat kepadatan penduduk yang berbeda.

Jika Anda berkesempatan untuk menonton seri ini, temukanlah easter egg dengan referensi terhadap Bobbysocks.

2/20/2015

Une traduction terrible

Saya tidak mengharapkan 5 ' itu, ia jatuh padaku
Dua hari yang lalu saya menghadiri pemutaran film berbahasa asing di tempat langganan saya. Saya menjadi satu-satunya orang yang hadir hingga akhir film.

Saya tidak akan memberitahu apa judul filmnya dan di mana lokasinya tapi Anda bebas menebak apa dan di mana. Yang ingin saya angkat adalah teks bawah terjemahan dalam bahasa Inggris yang tidak karuan.

Usai pemutaran saya mengunjungi situs Torrent* langganan saya. Penelitian saya menunjukkan bahwa film yang saya saksikan tadi ternyata tidak memiliki berkas terjemahan ke dalam bahasa Inggris yang baik. Berarti saya menonton film unduhan ilegal di tempat umum?

*Torrent memang melanggar hukum tapi saya menggunakannya hanya jika sesuatu yang ingin saya tonton tidak tersedia di tempat saya berada.