2/20/2015

Une traduction terrible

Saya tidak mengharapkan 5 ' itu, ia jatuh padaku
Dua hari yang lalu saya menghadiri pemutaran film berbahasa asing di tempat langganan saya. Saya menjadi satu-satunya orang yang hadir hingga akhir film.

Saya tidak akan memberitahu apa judul filmnya dan di mana lokasinya tapi Anda bebas menebak apa dan di mana. Yang ingin saya angkat adalah teks bawah terjemahan dalam bahasa Inggris yang tidak karuan.

Usai pemutaran saya mengunjungi situs Torrent* langganan saya. Penelitian saya menunjukkan bahwa film yang saya saksikan tadi ternyata tidak memiliki berkas terjemahan ke dalam bahasa Inggris yang baik. Berarti saya menonton film unduhan ilegal di tempat umum?

*Torrent memang melanggar hukum tapi saya menggunakannya hanya jika sesuatu yang ingin saya tonton tidak tersedia di tempat saya berada.

Medium

Ada beberapa hal yang tidak saya ceritakan di blog ini tapi saya ceritakan di platform lain.

Akhir tahun lalu saya mengabarkan bahwa saya akan melakukan perjalanan akhir tahun. Berikut beberapa penggal kisah yang saya rangkum dalam Beyond Kelimutu.

Ada juga kisah lain mengenai pemutaran film di Taman Baca Kesiman tadi malam yang dibahas pada tulisan Jalan Raya Pos: De Groote Postweg.

Saya masih akan tetap menulis di blog ini dan ini bukan bentuk perselingkuhan saya.

Selamat membaca!

Parkir

Jika Anda mengira bahwa tidak ada yang salah pada foto yang saya ambil kemarin ini, ada yang salah pada pemikiran Anda.

2/13/2015

Kredit

Selama saya berada di Surabaya, saya sempat beberapa kali pergi menonton film bersama sepupu-sepupu saya. Tidak usah tanya film apa, yang jelas jenis-jenis yang jarang saya tonton - Hollywood.

Berdasarkan pengamatan saya, para penonton bergegas keluar ketika kredit film mulai tampil dan lampu ruangan mulai dinyalakan. Walaupun rombongan saya biasanya sering keluar terakhir (karena saya yakin mereka malas berdesak-desakan saat berjalan), saya memperhatikan bahwa tidak ada penonton yang masih terduduk untuk melihat kredit. Kalau ada yang masih duduk, paling-paling orang itu memainkan ponsel sembari menunggu penonton lain keluar.

Dalam pandangan saya, kredit adalah bagian dari film. Mengabaikan kredit sama saja seperti tidak menonton sebuah film sepenuhnya. Bagaimanapun, saya jadi mengerti jika diajak berbicara dengan seseorang mengenai sebuah film lalu lawan bicara saya tidak tahu pemeran siapa yang menjadi watak siapa dalam sebuah film - karena budaya duduk dan tengok kredit film saat diputar belum kuat di negeri ini. Juga, informasi yang tersedia di kredit film biasanya jauh lebih banyak daripada apa yang bisa Anda temukan di IMDb.

Satu hal lagi yang agak keluar dari bahasan saya kali ini - menonton sendirian. Saya hampir tak pernah melihat penonton yang datang untuk menonton film sendirian di bioskop Indonesia (tidak termasuk festival film). Apakah menonton bioskop di Indonesia hanyalah sekadar to see and be seen?

2/11/2015

Serbuan Budaya Asing


































Sebuah artikel di Kompas pekan lalu membahas serbuan budaya asing yang masuk ke Indonesia. Sudut yang diambil koran terkemuka negeri ini sungguh berhati-hati. Tidak terlalu memuja kehadiran asing namun juga tidak terlalu nasionalis. Apa pasal? Salah satu lembaga budaya milik koran tersebut mengadakan pemutaran film asing yang jelas-jelas disebutkan di artikel tersebut. Cross-promotion? Saya ingin menganggapnya ya.

2/10/2015

Halte yang Terbengkalai

Halte di Jl. Merdeka (06/02/2015)
Sebelumnya saya pernah menulis mengenai hilangnya kendaraan trayek pengumpan Trans Sarbagita yang dikelola oleh Pemkot Denpasar. Beberapa hari yang lalu saya melewati salah satu halte yang seharusnya digunakan untuk menaikkan dan menurunkan penumpang bagi moda transportasi tersebut.

Hilangnya angkutan pengumpan berdampak pada terbengkalainya halte-halte yang sudah dibangun. Saya kurang tahu pasti ada berapa banyak halte yang telah dibangun Pemkot Denpasar.

Saya yakin pembangunan halte-halte tersebut mengeluarkan biaya yang tak sedikit. Namun dengan terbengkalainya halte-halte yang ada saat ini menunjukkan minimnya wawasan Pemkot Denpasar dalam mengurus layanan kendaraan umum. Jikalau memang trayek-trayek pengumpan tersebut hanyalah percobaan untuk mengukur pasar, tidakkah lebih baik jika Pemkot Denpasar cukup memasang palang-palang di sepanjang jalur yang dilalui angkutan pengumpan sebagai penanda untuk menaikkan dan menurunkan penumpang? Banyak halte bus di kota Perth dan Brisbane di Australia yang begitu. Selain lebih murah dibandingkan membangun halte, palang-palang tersebut juga mudah dipindahkan jika penduduk setempat berkehendak agar halte dipindahkan ke lokasi yang lebih strategis.

Tentu saya ingin berpikiran positif. Saya berharap penghentian operasi yang dilakukan Pemkot Denpasar hanya bersifat sementara. Saya benar-benar berharap bahwa Pemkot Denpasar saat ini sedang mengkaji ulang trayek-trayek sebelumnya. Kemacetan di kota Denpasar hanya akan semakin memburuk jika kota ini tidak didukung dengan adanya layanan kendaraan umum yang memadai. Pemkot Denpasar harus terlibat secara aktif dalam menanganinya dan bukannya membuang-buang APBD melalui proyek-proyek mercusuar (yang mana saya sangat berharap pembangunan halte bukanlah salah satunya).

Selingan:
Saya rasa masalah utama mengapa angkutan pengumpan kurang laku adalah minimnya promosi. Pemkot Denpasar seharusnya menonjolkan sisi positif dari adanya trayek-trayek pengumpan terutama di bidang lalu lintas kota dan lingkungan. Mungkin dengan slogan seperti yang pernah digunakan Dirjen Pajak: "Masih menggunakan kendaraan pribadi? Apa kata dunia?"

2/09/2015

Bukan Mimpi

Tadi malam saya menonton televisi di kamar saya. Lampu kamar sudah padam. Mata pun mulai tak tahan untuk menutup dirinya.

Saat bergonta-ganti saluran, saya terperanjat. Seorang konglomerat yang kerap mencuri frekuensi publik memberikan pidato di stasiun televisi berjaringan terbesar di negeri ini. Dia meluncurkan partai politiknya sendiri.

Mungkinkah saya bermimpi? 2019 masih jauh.

Pagi menyapa. Saya kembali terkejut. Saya kira apa yang terjadi malam sebelumnya hanyalah mimpi buruk saya. Tidak, kejadian tadi malam bukanlah mimpi buruk. Ia nyata.

Mengapa bisa ada foto ini? Lengkap dengan ticker berberita menyudutkan mantan pemilik salah satu stasiun televisinya. Data exif menunjukkan foto ini diambil tadi malam.

Apa yang harus saya lakukan sekarang? Jangan pernah mengkonsumsi informasi dari berbagai media yang dimiliki si konglomerat? Apalah dosaku sehingga frekuensi publik kini semakin sering disalahgunakan?

2/07/2015

BVN

-Apakah saya dapat melakukan apa yang Anda lakukan? - Tentu saja.
Pekan lalu saya melakukan kunjungan singkat ke Yogyakarta (sebelum akhirnya kembali ke Denpasar) dari Surabaya. Televisi di kamar hotel yang saya inapi ternyata tidak hanya berlangganan TV berbayar (tentu saja saluran-saluran dan paket khusus untuk perhotelan) tapi juga beberapa saluran yang saya duga ditangkap menggunakan parabola.

Salah satu saluran yang agak asing adalah BVN, saluran Belgia (Flandria)-Belanda. Saya tidak mengerti bahasa Belanda tapi saya suka dengan saluran ini. Saya pertama kali mengenal saluran ini akibat iseng menyaksikan tayangan berita dalam bahasa Belanda, bagian dari rangkaian WorldWatch di SBS Australia.

Usut punya usut, mereka adalah satu-satunya saluran internasional dari Benua Biru yang menayangkan Eurovision Song Contest. Satu-satunya? Tidakkah berlebihan? TV5Monde tidak menayangkan. Deutsche Welle juga tidak. RTP hanya menayangkan acara tersebut khusus untuk siaran Eropa mereka, itu juga hanya semi-final di mana Portugal bertanding. Saya rasa saya tidak pernah melihat saluran seperti SVT World atau TVRi ditangkap oleh parabola di Indonesia.

Ketika televisi nasional kita menayangkan acara-acara seperti sinetron dan variety show yang berlebihan (dalam artian hyper-reality) pada jam tayang utama, televisi di negeri "penjajah" justru menayangkan klub buku di mana bintang tamu diajak mendiskusikan buku pilihan mereka dan mengapa buku itu menarik dalam format yang santai. Yang lebih mengejutkan, acara itu sebetulnya tayang di saluran TV swasta Belanda, bukan lembaga penyiaran publik.

2/03/2015

Trayek Pengumpan Menghilang?

Foto diambil 27 November 2014
Selamat bulan Februari. Saya rasa saya seharusnya memberikan tulisan ini terlebih dahulu daripada resensi film Une place sur la terre. Bodoh amatlah.

Setelah berminggu-minggu di Surabaya, saya akhirnya kembali di Denpasar. Melihat jalanan kota Denpasar lagi, saya merasakan kejanggalan. Kendaraan-kendaraan trayek pengumpan Trans Sarbagita untuk wilayah kota Denpasar menghilang.

Kebetulan jalan dekat rumah saya dilalui TP01 namun sudah berhari-hari tidak melihat adanya kendaraan trayek pengumpan yang lewat. Biasanya jika saya berjalan dari Jl. Mohammad Yamin dan berbelok menuju Jl. Raya Puputan, saya akan berpapasan dengan kendaraan trayek pengumpan minimal dua kali (dua kendaraan berbeda).

Saya mencoba mencari tahu informasi melalui Google dan tidak ada berita sama sekali. Trayek pengumpan ini diuji coba gratis selama satu tahun pada tahun lalu dan sepertinya tidak berhasil untuk menjaring pelanggan.

Suatu Tempat di Bumi

AF Bali mengadakan sepuluh pemutaran film pekan ini dan pekan depan sebagai rangkaian dari My French Film Festival, sebuah festival film berbasis daring. Kemarin saya menghadiri pemutaran pertama untuk film Une place sur la terre.

Film ini mengisahkan seorang fotografer yang kariernya biasa-biasa saja. Koleganya menganggap bahwa dia berbakat tapi tidak tekun. Si fotografer juga kerap menjaga anak tetangganya yang mana ibunya sering pulang malam akibat pekerjaannya.

Saat sedang memotret dari apartemennya, si fotografer menyaksikan bahwa obyek fotografinya mengalami kecelakaan. Dia tak segera menghubungi ambulans melainkan memotret-motret wanita yang menjadi korban tersebut sebelum menghubungi ambulans. Sebuah hubungan pun dimulai.

Wanita itu adalah seorang mahasiswi S3 di bidang arkeologi dengan segudang masalah lain selain tesisnya. Masalah-masalah lain itu bukanlah masalah pribadinya melainkan masalah pribadi orang lain.

Ketika sang wanita sudah sembuh dari kecelakaannya dan tesisnya sudah siap disidangkan, si fotografer menunjukkan foto-foto si wanita yang kebanyakan diambilnya tanpa izin dan pengetahuan si wanita. Saya merasa bahwa film ini seharusnya berakhir di sini tapi tidak dan justru diimbuhi klise-klise yang biasanya ada di film-film arthouse.

Film ini memang film Belgia dan lokasi pengambilan gambarnya kebanyakan dilakukan di Brussel. Akan tetapi tidak ada fitur-fitur khas Brussel yang ditonjolkan sehingga kisahnya terasa terlalu universal. Saya merasa bahwa sangat mudah untuk me-remake film ini menggunakan setting lain.