3/30/2015

Daging yang Anda Santap

Isu ini mungkin adalah isu yang agak divisif untuk dibahas di Indonesia - kesejahteraan ayam. Mungkin ada yang beranggapan untuk apa mengurus kesejahteraan binatang jika kesejahteraan manusia di negeri ini saja belum maksimal.

Sore tadi saya melihat sebuah kendaraan mengangkut ayam ras. Di ruang yang cukup sempit, mereka tak dapat berdiri sehingga terpaksa duduk. Kesempitan itu sungguh terasa hingga terjadi kekerasan. Lihatlah beberapa ekor dari mereka dengan bulu-bulu yang mulai terkoyak dan mengekspos daging mereka.

Banyak di antara mereka yang melihat keluar dari kurungan penyiksaan mereka. Saya yakin mereka semua belum pernah melihat dunia luar, atau mungkin sekadar mengambil udara menghindari pengapnya kurungan. Bayangkan jika hal itu terjadi pada manusia, pasti banyak yang mengutuk hal tersebut dan mencapnya sebagai genosida.

Sebelum Anda mengatakan saya hipokrit, perlu Anda ketahui bahwa konsumsi daging saya sudah jauh berkurang jika dibandingkan dengan beberapa tahun lalu (terutama sekitar 2011-2013) walaupun tak dapat dikatakan bahwa saya sudah menjadi vegetarian.

Di beberapa negara maju terutama di negara-negara Uni Eropa sudah diterapkan aturan mengenai perlakuan terhadap hewan ternak (terutama jenis unggas) yang lebih layak. Sayangnya, memberikan ruang gerak yang lebih banyak kepada hewan ternak ternyata juga berimbas pada meningkatnya kadar obat-obatan yang harus diberikan kepada hewan-hewan tersebut. Inilah pedang bermata dua yang saya yakin kebanyakan dari kita harus telan setiap hari.

Jadi, apakah Anda lebih memilih untuk menyantap daging dari hewan yang pada masa hidupnya tersiksa ataukah hewan yang hidupnya lebih bahagia namun menenggak obat-obatan? Atau mungkin Anda memelihara hewan ternak di rumah Anda sehingga Anda dapat mengatur tingkat kesejahteraan hewan-hewan Anda? Apa pandangan Anda? Ataukah Anda termasuk dalam pihak yang tidak peduli dan tidak mau tahu?

3/26/2015

Ironi Waffle


Pekan lalu saya mengikuti sebuah perlombaan yang diadakan Kedutaan Besar Swedia untuk Indonesia di Instagram. Mereka menginginkan peserta untuk membuat interpretasi kreatif akan waffle. Saya kebetulan punya stok foto waffle yang saya beli saat saya menghadiri Scandinavian Festival Brisbane pada tahun 2013 lalu.

Foto kiriman Sweden in Indonesia (@swedenjakarta) pada


Namun foto waffle saya tersebut menyimpan sebuah ironi. Waffle itu saya beli dari stan Norwegia.

3/25/2015

Pekan Museum #souvenirsMW

Pekan ini berbagai museum di penjuru dunia merayakan #MuseumWeek, sebuah perayaan kebudayaan di twitter. Saya juga ikut merayakannya. Berikut beberapa cuitan saya kemarin dengan tema #souvenirsMW:




Terdapat agenda pada setiap hari selama pekan ini akan apa yang seharusnya Anda bagikan. Informasi lebih lanjut dapat Anda temukan di sini. Tagar hari ini adalah #architectureMW.

Selamat merayakan museum-museum favorit Anda!

3/24/2015

Akar

Seperempat abad yang lalu, trotoar di samping jalan kompleks pertokoan ini masih layak pakai. Tiang lampu pun masih gagah perkasa dan lampunya menyala. Pohon yang ditanam persis di samping tiang lampu juga masih sangat kecil.

Kini, pohon itu sudah besar. Tingginya melebihi tiang lampu. Akarnya merambat ke mana-mana, menghancurkan batu-batu yang digunakan sebagai permadani di mana kendaraan bermotor diparkirkan. Tiang lampu sudah oleng bagaikan Menara Miring Pisa dan lampunya tak pernah menyala lagi. Sebenarnya lampunya sudah pecah dan tak diganti. Kabel listrik berbaur dengan pohon yang meninggi dan tiang lampu yang sudah wafat. Akankah bencana menanti?

Berjalan kaki pun sudah tak nyaman karena pohon-pohon besar menghalangi langkah pejalan kaki (selain karena pembangunan di negeri ini tak pernah memihak pejalan kaki). Manusia-manusia negeri ini memang tak pandai merancang dan merawat.

Lihatlah trotoar lain yang berada persis di depan ruko di mana dua orang itu berpijak sembari mengobrol. Sebenarnya sudah jebol dan baru-baru ini saja diperbaiki karena pemilik ruko merasa khawatir akan mendapat tuntutan hukum atas ketidaknyamanan yang mungkin menimpa para pelalu-lalang.

Kompleks ini bersejarah karena ruko-rukonya merupakan salah satu yang pertama dibangun saat kota ini mulai dikembangkan walaupun tak setua dengan mereka yang berada di kota tua. Tidak ada yang peduli.

Buku Berbahasa Bali


Tadi malam saya mengunjungi salah satu toko buku di kota Denpasar. Saya tertarik dengan kumpulan buku dalam bahasa Bali yang dipajang. Hanya beberapa judul saja dan semuanya tipis (kira-kira sama tebalnya dengan buku L'analphabète karya Agota Kristof). Bagaimanapun, saya cukup senang tatkala melihat bahwa dua dari pengarang buku-buku tersebut adalah dari generasi muda kelahiran tahun 1970an dan 1990an. Ini menunjukkan bahwa ada upaya untuk mengembangkan sastra kontemporer Bali.

Bahasa Bali mungkin hanya dituturkan oleh sekitar 3 juta orang tapi jika dibandingkan dengan bahasa Slovenia yang dituturkan oleh hanya sekitar 2 juta orang, sastra Bali jauh tertinggal dibandingkan dengan sastra Slovenia. Memang perbandingan ini agak tidak imbang karena Slovenia adalah negara yang relatif maju tapi patut diketahui bahwa sebelum tahun 1991, Slovenia hanyalah sepotong daerah dari negara-negara lain namun masyarakatnya tekun mempertahankan kebudayaan mereka selama beratus-ratus tahun.

Bukankah ironis jika kita mendengar bahwa Bali adalah pulau yang terkenal di seantero dunia berkat kebudayaannya namun tidak dapat melakukan regenerasi pada budaya sastranya?

3/19/2015

Armada Baru Trans Sarbagita


Sore ini saat melintasi Jl. Sudirman, Denpasar saya melihat sebuah armada bus dengan logo Trans Sarbagita. Saya menduga ini adalah armada baru untuk layanan kendaraan umum di kawasan Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan ini. Trans Sarbagita memiliki logo baru. Sayangnya, busnya masih juga memiliki lantai yang agak tinggi sehingga hanya memungkinkan dinaiki oleh penumpang pada tempat-tempat yang disediakan (baca: halte-halte yang desainnya tak ramah pada golongan tertentu).

Sebelumnya, saya juga pernah melihat bus kosong dengan logo Damri melintasi Jl. Diponegoro. Saya sempat mendengar kabar bahwa pengoperasian Trans Sarbagita belum balik modal sehingga ada baiknya beberapa trayek yang belum beroperasi ditenderkan kepada pihak lain, walaupun Dishub Bali enggan memberikan tender kepada pihak swasta. Kabarnya, Damri adalah salah satu pemenang tender sebuah trayek (atau mungkin lebih?).

3/17/2015

Tommy Krångh

Tommy Krångh adalah seorang penafsir bahasa isyarat Swedia (Svenskt teckenspråk). Tahun ini dia kebetulan bertugas menafsirkan lagu-lagu yang ditampilkan pada Melodifestivalen, acara di lembaga penyiaran publik Swedia SVT yang bertujuan untuk memilih lagu apa yang akan mewakili Swedia di Eurovision Song Contest. Dia kemudian menjadi sensasi berkat gerakan-gerakannya selama menafsirkan lagu-lagu. Video di atas menunjukkan aksinya saat menafsirkan lagu "Temui Aku di Kota Tua Stockholm" (terjemahan karangan saya) oleh Magnus Carlsson.

Saya tidak terlalu tertarik pada Melodifestivalen karena saya merasa bahwa acara itu terlalu cheesy untuk selera saya. Saya tertarik pada pemberian layanan penafsiran dalam bahasa isyarat Swedia untuk lagu-lagu yang ditampilkan. Melodifestivalen adalah salah satu acara televisi yang paling banyak ditonton di Swedia dan tidak heran bahwa pihak SVT ingin menggaet sebanyak mungkin penonton tanpa mendiskriminasi mereka berdasarkan kekurangan panca indra mereka.

Sebelumnya saya pernah menulis pos mengenai layanan closed caption di televisi Australia yang bertujuan untuk membantu mereka yang mengalami kesulitan pendengaran. Sebenarnya ada satu bentuk layanan televisi lain yang belum tersedia di Australia yakni audio description (AD) yang bertujuan untuk membantu mereka yang mengalami kesulitan penglihatan mengerti tayangan televisi yang mereka tonton. AD sudah tersedia di Inggris dan Selandia Baru dan sempat diuji coba di Australia pada tahun 2012 namun mendapat banyak keluhan karena dianggap mengganggu.

Tak peduli itu penafsiran ke dalam bahasa isyarat, CC atau AD, mereka semua menyerap tenaga kerja terampil, membantu mereka yang mengalami kesulitan dalam memahami sebuah tayangan televisi, dan mengukuhkan kenyataan bahwa semua penonton dapat duduk sejajar. Lihatlah Tommy Krångh yang sangat menikmati pekerjaannya. Saya ingin layanan seperti ini diberikan di Indonesia. Bagaimana mungkin negara yang hanya berpenduduk 9,5 juta jiwa dapat melakukannya namun negara yang berpenduduk sekitar seperempat milyar jiwa tidak tahu akan teknologi dan layanan ini?

Mengenai penafsiran lagu - saat saya tinggal di Brisbane sempat diadakan konser seperti itu. Bedanya, konsernya berada di dalam ruangan walaupun si penafsir juga sangat menghayati pekerjaannya. Tentu suasana antara menonton konser langsung dan di televisi berbeda. Apakah mereka yang mengalami kesulitan pendengaran merasakan perbedaannya?

3/16/2015

Denpasar, Surabaya?

Pagi ini saya menyalakan televisi. Liputan 6 Pagi masih tayang. Namun saya sempat merasa girang tatkala melihat logo SCTV Denpasar. SCTV akhirnya memproduksi siaran berita lokal?

Layaklah kegirangan saya hanya sejenak. Pembaca berita berdiri di depan video wall. Tak mungkin rasanya kantor SCTV di Denpasar punya video wall sebesar itu. Saya melihat ke bawah layar. Ada logo Liputan 6 Surabaya? Acara apa yang sebenarnya saya tonton?

3/13/2015

Badan Urusan Logistik

Di Jl. Puputan, Denpasar terdapat kantor pusat Bulog untuk kawasan Bali. Lembaga ini kerap mengadakan jualan khusus di luar kantor mereka, persisnya di samping trotoar.

Pada foto di samping, wanita ini memarkir kendaraannya di tepi jalan, membeli kebutuhan pokok yang ditawarkan, dan kembali ke tempat di mana dia memarkir kendaraannya. Saya pernah menyaksikan pengendara sepeda motor yang menaikkan kendaraannya ke atas trotoar lalu melihat-lihat dagangan ini tanpa merasa bersalah.

Pernah seorang pegawai kantoran di Denpasar mendengar ucapan atasannya mengenai penjualan ini lalu datang melihat-lihat. Sekembalinya ke kantor, dia bercurhat bahwa beras dan gulanya berkualitas buruk. Harganya pun tak jauh berbeda dengan harga di pasar swalayan. Katanya lebih baik berbelanja di pasar swalayan karena kualitas dan harganya jauh lebih menarik.

Benarkah? Saya tak tahu.

3/12/2015

RTV Denpasar?

Pagi ini saya menyalakan televisi dan melihat bahwa RTV kembali bersiaran di wilayah Denpasar. Mereka menggunakan frekuensi 51 UHF.

Frekuensi 51 UHF ini sebenarnya sudah lama dirundung kontroversi. Menjelang pilgub 2008, mantan bupati Jembrana yang kala itu mencalonkan diri sebagai cagub menggunakan frekuensi tersebut untuk menyiarkan tayangan-tayangan seputar perkembangan kabupaten yang dinaungi beliau berkedok Jimbarwana TV. KPID Bali mempermasalahkannya karena frekuensi 51 UHF sebenarnya ditujukan untuk tujuan penyiaran di kabupaten Buleleng. Jimbarwana TV pun akhirnya tutup tak lama kemudian.

Di laman web RTV, mereka mengklaim bahwa RTV tersedia di 51 UHF Singaraja. Namun siarannya sempat berkali-kali melimpah ke Denpasar. Jika Anda tinggal di luar Bali dan tidak tahu kondisi geografi Bali, Denpasar dan Singaraja berada di dua ujung berbeda. Denpasar adalah ibu kota provinsi dan terletak di selatan pulau. Sementara Singaraja dulunya adalah ibu kota provinsi Sunda Kecil (kala Bali, NTB, dan NTT masih menjadi satu provinsi) dan terletak di pantai utara Bali.

Berkali-kali pula KPID Bali menghentikan siaran RTV di Denpasar karena izin siar mereka hanya mencakup Singaraja (dan Buleleng) saja. Apakah kali ini RTV sudah memiliki izin siar di Denpasar ataukah hanya main kucing-kucingan lagi dengan KPID Bali yang mungkin lengah akibat hujan yang melanda Denpasar beberapa hari terakhir? Apa kaitannya? Memburamnya gambar siaran televisi akibat cuaca bisa saja membuat pegawai KPID Bali malas memantau tayangan televisi yang disiarkan di Bali. Maksudnya, untuk apa melihat gambar buram?

Saat awal B Channel mulai tayang di Denpasar, saya cukup suka dengan tayangan-tayangan mereka (walaupun belum sampai ke kelas tayangan-tayangan yang saya gemari). Namun seiring berkembangnya kabar mereka tidak punya izin siar di Denpasar, saya jadi malas menonton saluran tersebut. Usai pergantian nama menjadi RTV, mereka sudah tak bersiaran lagi di Denpasar. Bahkan saat saya tinggal beberapa minggu di Surabaya di mana mereka punya izin siar, saya enggan menonton saluran itu.

3/09/2015

Apel Busuk

Buah impor kerap menjadi primadona di pasar swalayan. Sayangnya, pemeriksaan kadang tak ketat sehingga buah tak layak pangan terkadang masuk di dalam keranjang yang mana diberikan kepada pelanggan untuk memilah buah yang ingin mereka beli. Atau mungkin ada konspirasi asing untuk meracuni populasi negeri ini melalui makanan impor?

Kubis Beku

Agak aneh rasanya jika menemukan produk impor di pasar swalayan Indonesia yang semestinya ditujukan untuk konsumen di Albania, Bosnia & Herzegovina, Bulgaria, Ceko, Hongaria, Kazakhstan, Kosovo, Kroasia, Moldova, Polandia, Romania, Rusia, Serbia, Slowakia, dan Ukraina sekalipun pabriknya diklaim berada di Prancis.

Kalau dipikir-pikir, berarti konsumen Slovenia menggunakan produk yang juga ditujukan untuk konsumen Italia dan Austria?

3/08/2015

Iklan di Koran Gratisan

Saluran-saluran televisi Australia. Saya merindukannya. Karena tayangannya jauh lebih layak tonton dan bervariasi. Karena aturan-aturan mengenai apa yang boleh tayang lebih ketat. Karena acara-acara yang saya tonton saat ini saya dapatkan akibat menonton televisi Australia. Sayangnya, kini saya tinggal di Denpasar lagi. Tunggu dulu ... ternyata ada cara untuk menonton saluran-saluran tersebut. Saya duga cara tak resmi yang paling-paling memanfaatkan pemancar yang ada di Kepulauan Cocos (Keeling) atau Pulau Natal. Yang saya perlukan sebetulnya hanya ABC dan SBS tapi saluran-saluran lainnya juga tidak apa-apa.

Masih di koran yang sama, ada pembahasan mengenai ajakan untuk melakukan visa run ke Kuala Lumpur daripada Singapura. Pemerintah Muangthai sudah melakukan razia dan melarang pelaku visa run untuk memasuki negara tersebut. Saya ingin pemerintah negara ini melakukan hal yang sama. Jika seseorang harus melakukan visa run agar dapat melakukan sesuatu (usaha, wisata, kunjungan sosial, dsb.) di Indonesia, bukankah itu sebenarnya mencerminkan buruknya birokrasi di negeri ini yang berbelit-belit dan di sanalah negeri-negeri tetangga memanfaatkan aliran dana yang keluar dari negeri ini? Selain itu, bukankah amat berbahaya jika seorang WNA bolak-balik ke negeri ini? Tujuan mereka keluar masuk menjadi buram. Pengecualian diberikan jika mereka penduduk tetap di daerah perbatasan.

3/07/2015

Buzz Aldrin, di manakah engkau berada saat kebingungan terjadi?

Buzz Aldrin, hvor ble det av deg i alt mylderet? adalah seri televisi Skandinavia yang baru-baru ini selesai saya tonton. Seri ini memang sudah agak lawas, dirilis pada tahun 2011 dan diproduksi oleh lembaga penyiaran publik Norwegia, NRK, dengan bantuan dari LPP-LPP Nordik lainnya (seperti biasa).

Seri televisi ini mengisahkan seorang pria, Mattias, yang lahir pada hari yang sama ketika Neil Armstrong dan Buzz Aldrin menjejakkan kaki mereka di bulan. Mattias patah hati setelah putus hubungan dengan kekasihnya setelah bertahun-tahun menjalin hubungan, sementara itu tempat kerjanya dinyatakan bangkrut. Dia kerap membanding-bandingkan kehidupannya dengan Buzz Aldrin, tak pernah terdengar gaungnya karena kalah pamor dari orang lain yang lebih dulu melakukan hal yang sama.

Mattias lantas mengikuti rekan-rekan bandnya tur ke Kepulauan Faroe. Mattias mabuk di atas kapal, melakukan hal bodoh, dan memutuskan untuk mengasingkan dirinya di Kepulauan Faroe. Di sana, dia diterima tinggal di sebuah panti (yang disebut "pabrik") yang menerima orang-orang dengan kasus yang sama seperti Mattias. Panti itu diasuh oleh Havstein (pemeran Theis Birk Larsen dari Forbrydelsen I) yang sebenarnya juga lari dari Denmark karena suatu hal yang dia saksikan di masa mudanya.

Semua orang di "pabrik" berusaha mengakhiri masa lalu mereka yang kelam. Pada saat Mattias tiba, semuanya berstatus quo. Namun perlahan ada yang berhasil, ada pula yang bernasib naas seperti Sofia - seorang wanita yang pernah menjalin hubungan singkat dengan Mattias. Mattias pada akhirnya berhasil melupakan kepahitannya dan menjalin hubungan dengan Eyddis, seorang wanita setempat (pemeran ibu dari putri yang diculik pada Forbrydelsen III). Tentu saja, hilangnya Mattias tanpa kabar selama berbulan-bulan sempat meresahkan keluarga dan kerabatnya di Norwegia.

Menurut saya, seri ini ada sedikit kemiripan dengan The Secret Life of Walter Mitty, selain dari soundtrack. Walaupun beberapa petik dialognya terasa dangkal dan mengada-ada (tidak dalam artian gombal), saya menilai bahwa seri ini sebetulnya cukup baik dan menyegarkan (terutama jika selama ini Anda terlalu berkutat dengan seri kriminal Skandinavia). Ya, ini adalah salah satu dari sekian seri televisi yang sebetulnya mengangkat nilai seni televisi. Televisi bukanlah saudara tiri film tapi adalah benda seni yang nilainya sejajar dengan film. Seri ini membuktikan bahwa there is no such as thing as too good for television.

Courtesy: NRK
Bahasan off-topic
Desa kecil di Kepulauan Faroe dihubungkan dengan kota Tórshavn berkat adanya layanan kendaraan umum yang memadai yakni bus. Saya berharap hal yang sama dapat diterapkan di negeri ini dan saya tidak peduli dengan pendapat mengenai tingkat kepadatan penduduk yang berbeda.

Jika Anda berkesempatan untuk menonton seri ini, temukanlah easter egg dengan referensi terhadap Bobbysocks.