5/25/2015

Eurovision Song Contest 2015

Eurovision Song Contest kembali digelar pekan lalu dan kota penyelenggara Wina pun berbenah. Ruang terbuka digunakan untuk mengadakan acara nobar, beberapa trem-trem kota pun bertemakan Eurovision. Swedia menang lagi setelah sebelumnya menang pada tahun 2012. Lalu, apa pertunjukan favorit saya?

Huit points pour l'Australie
Saat pertama kali saya mendengar lagu ini, saya merasa biasa saja. Tidak ada sesuatu yang wah sekalipun saya sudah mendengarkan lagu-lagu dari Guy Sebastian sejak 2007. Namun penampilannya pada Grand Final benar-benar spektakuler sekalipun saya kurang menyukai gimmick lampu jalanan.

Ya, Australia bukanlah bagian dari Eropa tapi mereka tamu dalam hajatan tahunan ini mengingat beberapa penyanyi Australia pernah mewakili negara lain dan acara ini sudah tayang selama lebih dari 30 tahun serta adanya basis penggemar yang cukup besar di sana.

Dix points pour la Norvege
Lagu ini bukan lagu yang dapat digemari semua orang. Liriknya tidak begitu mudah dimengerti, begitupun MV-nya. Justru misteri dari lagu itulah yang membuat saya terpikat. Adakah istilah arthouse song?

Et enfin les douze points vont pour l'Estonie
Sekilas lagu ini mengingatkan saya pada Calm After The Storm yang dipersembahkan oleh The Common Linnets di Kopenhagen tahun lalu. Lagu ini sungguh sederhana walaupun saya amat yakin lirik lagu ini tidak sesuai untuk budaya Indonesia.

Rata-rata lagu-lagu tahun ini memang lebih sederhana dibandingkan beberapa tahun lalu (dengan pengecualian teramat sangat kepada Still In Love with You-nya Electro Velvet). Koreografi gila yang sangat identik pada acara ini juga nyaris tak ada. Tentu amat disayangkan bahwa Austria dan Jerman mendapatkan nul points. Di sisi lain, saya cukup senang Ceko kembali berpartisipasi walaupun lagu yang mereka bawakan bukan selera saya.

5/06/2015

Tur Q! Film Festival di Bali


Antara tanggal 26-30 April 2015, Q! Film Festival mengadakan pemutaran film di dua tempat di Bali yakni Bentara Budaya Bali dan ISI Denpasar. Karena berhalangan dengan jadwal kerja maka pemutaran-pemutaran yang memungkinkan untuk saya kunjungi adalah pemutaran pada tanggal 26 dan 27 di Bentara Budaya Bali.

Pada tanggal 26 April, film yang diputar adalah Selamat Pagi Malam. Namun saya tidak hadir karena cuaca wilayah Bali selatan saat itu sangat tidak menentu selama musim pancaroba ini. Yang membuat saya heran adalah pada hari yang sama Bali Emerging Writers Festival mengadakan beberapa pemutaran film di Danes Art Veranda yang mana salah satu filmnya adalah Selamat Pagi Malam. Hanya saja pemutaran film BEWF mengundang sutradara film tersebut sementara pemutaran di Bentara Budaya Bali mengundang salah satu pemerannya yakni Marissa Anita.

Barulah pada tanggal 27 April saya menyaksikan pemutaran film Laurence Anyways di Bentara Budaya Bali. Festival film ini memang khusus mengangkat film-film yang membahas isu-isu LGBTIQ dan Laurence Anyways berfokus pada kisah transgender (dengan sedikit skandal gay). Film ini cukup panjang namun alur ceritanya tidak mudah ditebak sehingga saya merasa puas pada akhir film. Ya, saya tidak terlalu suka film dengan alur cerita yang mudah ditebak.

Cukup disayangkan bahwa penonton yang hadir pada tanggal 27 April tidak terlalu banyak namun saya dapat memakluminya: promosi baru digencarkan beberapa hari sebelum pemutaran film pertama, film mengangkat isu dewasa sehingga peminatnya sangatlah niche, dan pemutaran film pada malam hari dan sebelum hari kerja. Walaupun blog Bentara Budaya Bali memberitakan agenda bulanan mereka pada awal bulan, sama sekali tidak ada bahasan mengenai tur Q! Film Festival. Tidak ada promosi di Facebook maupun Twitter mereka. Bahkan kalau bukan karena sebuah pos di grup Facebook Denpasar Film Festival mungkin saya tidak tahu bahwa acara ini berlangsung.