9/26/2015

Program Ekstensi dan Kengawuran Pihak Fakultas & Panitia (4)

16 Agustus 2015-seterusnya
Pengumuman penerimaan mahasiswa baru untuk program non-reguler (alias ekstensi). Pihak perguruan tinggi menggunakan metode daring. Saya tidak diterima. A blessing in disguise perhaps. Dari sembilan orang yang mendaftar melalui jalur non-reguler ber-SKS, hanya satu yang diterima. 286 diterima melalui jalur non-reguler. Entah berapa yang benar-benar menjadi mahasiswa. Entah pula bagaimana caranya pihak fakultas mengetahui bahwa ke-286 calon mahasiswa terpilih itu benar-benar berminat pada jurusan tersebut. Tentu menyeleksi ratusan orang adalah logistical nightmare. Opini saya akan perguruan tinggi ini sudah terbentuk dan akan amat susah untuk menggantinya.

Apakah saya kecewa? Ya, saya kecewa akan buruknya pengelolaan pendidikan tinggi di negeri ini. Saya sadar kebobrokan satu perguruan tinggi tidak bisa digunakan sebagai tolok ukur yang pasti. Di sisi lain, saya memendam kekhawatiran. Apakah keburukan ini akan diteruskan ke generasi berikutnya? Mungkin saja. Halo, lingkaran setan!

Saya sudah mengenyam gelar sarjana dan dari salah satu perguruan tinggi terbaik dunia (masuk 50 besar berdasarkan pemeringkatan QS). Lebih baik saya lanjutkan S2 saja. Di tempat kerja saya, beberapa rekan kerja berusaha menghibur saya dengan pernyataan-pernyataan bahwa perguruan tinggi ini memang bobrok. Namun saya tidak akan menyebarkan confirmation bias di dunia maya.

Agak keluar topik, rekan kerja-rekan kerja saya berkata bahwa kita harus bangga akan alma mater masing-masing. Saya bangga berkesempatan menempuh pendidikan tinggi di luar negeri tapi saya tetap tidak bangga akan skandal-skandal (nepotisme, pemilu bodong, penelitian yang ditekan agar menjadi tidak sah, dsb.) yang terus merundung alma mater saya.

Program Ekstensi dan Kengawuran Pihak Fakultas & Panitia (3)

12 Agustus 2015
Saya tiba di kampus perguruan tinggi sekitar pukul 08.00. Pada bukti pendaftaran tertera bahwa Tes Potensi Akademik seharusnya baru dimulai pada pukul 08.30. Saya sempat mengalami kebingungan karena kampus tidak dilengkapi dengan peta sehingga saya harus bertanya pada petugas pengaturan lalu lintas perguruan tinggi.

Saat saya tiba di gedung yang tepat saya segera mencari ruang ujian saya yang tidak tertera di bukti pendaftaran. Saya akhirnya menemukan ruang tes saya. Informasinya tertera di beberapa lembar kertas yang ditempel di jendela dekat pintu masuk gedung. Belum pukul 08.30 dan peserta lain sudah terduduk mengerjakan soal tes. Mungkinkah ini yang dimaksud oleh pria yang mewawancarai saya sehari sebelumnya - hadir satu jam lebih awal dari apa yang tertera pada bukti pendaftaran?

Saya langsung duduk dan mulai mengisi lembar jawaban dengan informasi pribadi. Saat saya mengerjakan soal, saya merasa banyak pertanyaan yang aneh.

Soal kedua memiliki kesalahan pengejaan. Subyek pada kalimat kedua soal tersebut juga rancu. Soal kelima saya rasa lebih parah. Sebuah perguruan tinggi masih membanding-bandingkan siapa yang lebih pandai ketika makna pandai sendiri agak rancu, apalagi jika konteksnya tak diketahui.

Begitu pula dengan soal 21 dan 25 yang pilihan jawabannya tertukar. Dan soal 44 yang tidak memiliki jawaban yang benar sama sekali. Bagaimana mungkin hasil kuadrat dari (275+65) tidak 112.600 yang merupakan hasil kuadrat dari bilangan 340? Yang ada justru 4.500 yang merupakan hasil dari 275+65x65 - hanya bilangan 65 yang dikuadratkan.

Saya sempat mengangkat masalah tertukarnya pilihan jawaban soal 21 dan 25 kepada pengawas. Setelah menghilang bermenit-menit pengawas kembali dan mengatakan bahwa pilihan jawaban tak mungkin ditukar dan kunci jawaban pihak panitia akan tetap menjadi acuan pemeriksaan soal-soal tes.

Apakah perguruan tinggi ini lebih menilai hasil daripada proses? Bukankah inilah salah satu masalah terbesar yang dihadapi dunia pendidikan di Indonesia? Perguruan tinggi berarti merupakan bagian dari masalah, bukan penyelesaian.

Dan tahukah Anda bahwa naskah soal uijan ini seharusnya dikembalikan kepada pengawas? Namun peserta diizinkan membawa pulang sehingga saya bisa memotret soal-soal yang bermasalah.

Tes pertama selesai pada pukul 10.00 disusul dengan rehat 30 menit sebelum dilanjutkan dengan Tes Kemampuan Dasar berdurasi satu jam. Keganjilan semakin terasa. Tes kedua ini terdiri atas soal-soal matematika yang lebih rumit, soal-soal bahasa Indonesia (yang juga banyak terjadi kesalahan pengejaan), dan soal-soal bahasa Inggris (berbentuk substitusi kata yang jika disubstitusi beberapa kalimat memiliki makna berbeda dari kalimat asli). Lebih dari 50 soal dalam satu jam? Bahkan seorang pengawas berkomentar bahwa ada kemungkinan terjadi kesalahan penjadwalan yang mana Tes Kemampuan Dasar seharusnya berdurasi lebih lama karena hitungan matematika pada tes tersebut harus menggunakan rumus kompleks.

Usai tes saya menemukan selebaran mempromosikan salah satu lembaga pendidikan di helm saya. Siangnya saya kembali bekerja.

Bersambung...



Berikut beberapa soal bermasalah yang saya sebutkan di atas (klik pada gambar untuk memperbesar):


9/13/2015

Program Ekstensi dan Kengawuran Pihak Fakultas & Panitia (2)

11 Agustus 2015 (lanjutan)
Usai pelecehan verbal yang saya alami, pria itu menyuruh saya berhadapan dengan rekan kerjanya yang akan mewawancarai saya di ruangan yang berbeda. Saya dipersilakan masuk ke ruang kerja rekan kerjanya. Saya tidak akan menilai kerapian ruang kerja tersebut karena beberapa ruang kerja dosen di alma mater saya ada yang jauh lebih berantakan.

Agak keluar dari topik bahasan tapi jika Anda melihat bahwa ruang kerja dosen yang Anda hadapi rapi, berhati-hatilah! Dia mungkin saja berusaha menyembunyikan kelemahannya agar tidak dinilai oleh lawan bicaranya melalui berkas-berkas yang bertebaran di ruangannya. Bukan tentang apakah dia orang yang rapi atau tidak tapi penilaian dari muatan berkas-berkas yang bertebaran tersebut.

Setelah beberapa menit menunggu, rekan kerjanya akhirnya masuk ke ruangan dan melihat ijazah saya. Dia lalu baru merapikan mejanya. Hal ini membuat saya bertanya-tanya apakah calon mahasiswa pertama yang diperiksa berkas-berkasnya dan diwawancara tidak berhadapan dengan orang yang saya hadapi ini? Dari hasil small talk antara para calon mahasiswa non-reguler ber-SKS dan pelecehan verbal sebelum saya masuk ke ruangan tersebut diketahui bahwa calon mahasiswa pertama dan pelaku pelecehan verbal sama-sama berasal dari Karangasem.

Tak lama berselang, saya disuruh keluar ruangan karena orang kedua yang harus saya hadapi ini kehadiran tamu pegawai pemerintahan. Saya disuruh menunggu di ruang tempat pelecehan verbal terjadi. Kesan yang saya tangkap? Sungguh tidak profesional. "Tunggu sebentar," kata pria pelaku pelecehan verbal pada saya sembari memeriksa berkas-berkas calon mahasiswa berikutnya. Kali ini dia mengatakannya dengan nada yang manusiawi.

Beberapa menit menunggu orang kedua kembali dan orang pertama mengungkapkan kebingungannya kepada rekan kerjanya yang baru kembali akan ijazah calon mahasiswa ketiga yang tidak memiliki latar belakang  perkuliahan. Dengan kata lain calon mahasiswa ketiga ini seharusnya mendaftar program non-reguler dan bukan non-reguler ber-SKS. Semakin banyak red flag yang saya dapatkan. Mereka sama sekali tidak memeriksa berkas-berkas pindaian para calon mahasiswa dan pria pelaku pelecehan verbal ini adalah orang oportunis yang menggunakan kesempatannya berhadapan dengan saya untuk melakukan pelecehan verbal, mungkin untuk menutupi kurangnya kepercayaan dirinya.

Saya kembali masuk ke ruang kerja berantakan tersebut dan walaupun orang kedua ini jauh lebih baik daripada rekan kerjanya, dia juga memiliki sisi buruknya. Dia menilai seseorang dari nilai-nilai pada transkrip. Jujur saja, perguruan tinggi Swiss di mana saya mengikuti program pertukaran selama satu semester sama sekali tidak menilai saya dari nilai-nilai saya di alma mater saya. Begitu pula ketika saya kembali, pihak fakultas alma mater saya tidak menilai saya dari nilai-nilai yang saya dapatkan di perguruan tinggi Swiss tersebut. Kedua perguruan tinggi juga memperlakukan saya layaknya orang dewasa, bukan anak kecil yang masih memerlukan tuntunan. Baik perguruan tinggi Swiss dan alma mater saya berada di daftar 200 perguruan tinggi terbaik di dunia - hal yang juga sengaja tidak saya sebutkan saat berhadapan dengan mereka karena ini bisa saja semakin menyulut kebencian mereka pada saya dan mengejawantahkan saya sebagai orang yang sombong.

Pria ini lalu meminta saya untuk datang satu jam lebih awal ke tempat ujian keesokan harinya dari apa yang tertera pada jadwal. Dia juga menyuruh saya untuk mencetak tanda bukti pendaftaran saya dengan warna karena tanda bukti pendaftaran saya hitam putih. Dia lalu pergi ke aula di mana para calon mahasiswa non-reguler berkumpul didampingi salah satu orang tua mereka.

Sekitar pukul 11.30 saya kembali ke gedung fakultas untuk menyerahkan salinan berkas-berkas kepada orang kedua ini yang katanya "jika tidak diserahkan saya dianggap tidak hadir" sekalipun saya sudah menandatangani dua berkas bukti kehadiran saat berhadapan dengan rekan kerjanya si pelaku pelecehan verbal. Dan bukankah berkas-berkas yang diperlukan sudah dipindai melalui platform daring saat pendaftaran? Apakah panitia menghapus semua berkas-berkas para calon mahasiswa sebelum pertemuan?

Orang kedua ini tidak berada di ruangannya dan saya harus menunggu. Tamu-tamu pegawai pemerintahannya juga masih menunggu. Saat dia menunjukkan batang hidungnya di dekat ruang kerjanya, saya bergegas memberikan salinan berkas-berkas yang dia perlukan. Saat saya melangkah meninggalkan gedung fakultas, saya memperhatikan lima dari enam calon mahasiswa non-reguler ber-SKS berkumpul. Salah satu rekannya masih berhadapan dengan pelaku pelecehan verbal. Mereka berenam berasal dari Yogyakarta dan sudah mengenyam gelar D3 dari salah satu PTN Yogyakarta di jurusan yang sama dengan program yang hendak mereka masuki ini. Dari raut muka salah satu dari mereka, saya menduga dia juga mengalami pelecehan verbal.

Saya mempercepat langkah saya karena harus menghadiri rapat di Ubud.

Bersambung...

9/12/2015

Program Ekstensi dan Kengawuran Pihak Fakultas & Panitia (1)

Tulisan ini sengaja tidak saya tulis sesegera mungkin karena saya perlu menenangkan diri dan pikiran setelah pelecehan yang saya alami berikut.

Beberapa waktu lalu saya mendaftar untuk menjadi calon mahasiswa ekstensi di sebuah perguruan tinggi negeri di provinsi saya. Saya tidak akan menyebut nama PTN tersebut tapi berhubung hanya ada satu PTN di tempat ini yang menawarkan program ini, mungkin Anda sudah dapat menebaknya.

Bulan lalu para calon mahasiswa pun dikumpulkan dan mereka terbagi menjadi dua - non-reguler dan non-reguler ber-SKS. Berhubung saya sudah mengenyam gelar sarjana dan saya merasa tidak ada perlunya bagi pihak universitas untuk mengetahui bahwa saya sudah tak menempuh pendidikan di Indonesia sejak SMP maka saya pun mendaftar ke jalur non-reguler ber-SKS.

11 Agustus 2015
Saya dijadwalkan untuk menghadiri sesi wawancara pada pukul 09.00 WITA yang diadakan di gedung fakultas yang hendak saya masuki. Saya mengambil cuti setengah hari dari tempat kerja saya dan saya sempat khawatir karena saya dijadwalkan untuk menghadiri rapat terbatas tim pemasaran & komunikasi perusahaan saya di Ubud pada siang harinya. Hingga pukul 09.30 tidak ada kejelasan apakah wawancara akan berjalan atau tidak. Kemudian diketahui bahwa salah satu pegawai administratif fakultas (yang saya yakin juga merangkap sebagai dosen) mengira bahwa wawancara seharusnya diadakan pada tanggal 12 Agustus. Pria itu kemudian menenangkan sembilan calon mahasiswa non-reguler ber-SKS yang telah menanti setelah pembicaraannya dengan pegawai resepsionis terdengar kami. Dia bahkan belum melihat berkas-berkas yang mengandung data pribadi para calon mahasiswa.

Di saat yang bersamaan, para calon mahasiswa non-reguler juga berkumpul di aula fakultas. Mereka didampingi salah satu orang tua mereka. Saya bertanya-tanya. Mengapa mereka harus didampingi salah satu orang tua mereka? Mereka hendak masuk sebuah perguruan tinggi, bukankah seharusnya mereka dianggap sebagai orang dewasa? Toh hak pilih WNI didapatkan saat dia menginjak usia 17 tahun. Mereka lulusan SMA berarti (kebanyakan dari) mereka setidaknya berusia 18 tahun - satu tahun setelah usia minimal untuk memilih dalam pemilu. Ini bukan sesi open house.

Setelah keterlambatan di atas 60 menit, akhirnya sesi wawancara pun dimulai. Saya mendapat urutan kedua. Seorang pria yang saya duga asisten dekan terduduk di ruangan. Dia tak memperkenalkan dirinya dan melihat ijazah asli saya lalu menyimpulkan bahwa saya tidak serius dalam mengikuti program ekstensi karena alasan saya adalah "menyenangkan orang tua" dan "karier saya di jurusan yang saya tekuni belum berkembang" (dengan kata lain jurusan yang hendak saya masuki ini hanyalah back up saya).

Sepanjang percakapan dia mengalihkan konteks semua hal yang keluar dari mulut saya. Dia juga tidak menghargai perbedaan pandangan. Saya memutuskan untuk diam selama kurang lebih setengah percakapan yang digunakannya untuk memberikan ceramah yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan dunia perkuliahan. Dia menyombongkan dirinya dengan mengatakan bahwa keponakannya sudah berkarier di bidang yang saya tekuni dan ada saudaranya yang sudah memiliki anak dan tinggal di negara di mana saya pernah menempuh pendidikan tinggi. Hal-hal yang sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dan ini bukanlah small talk. Saya dicap tidak nasionalis karena kemampuan berbahasa nasional saya yang "gelagapan". Entah dia tidak bisa membedakan orang yang gugup atau gelagapan, atau mungkin saja dia juga mendiskriminasi mereka yang menanggung beban bernama disleksia.

Dia hanya menilai saya dari kemampuan finansial orang tua saya (yang mana tidak sepenuhnya betul karena saya bekerja untuk dan digaji oleh orang lain, orang yang bukan kenalan orang tua saya) serta latar belakang sosial dan pendidikan saya. Saya sengaja tidak menyebutkan bahwa saya sudah tidak mengenyam pendidikan di Indonesia sejak SMP. Saya juga tidak mengatakan bahwa saya sering bersepeda ke tempat kerja saya demi pertimbangan ekologis (kecuali saat saya ditugaskan ke Ubud atau saya ada acara setelah jam kerja yang mana saya akan menggunakan sepeda motor). Pemahamannya akan jurusan yang saya ambil nyaris nihil dan dia hanya melakukan jenderalisir, namun kata-kata yang semakin menunjukkan kepicikannya terus keluar dari mulutnya. Jauh dari peribahasa "seperti ilmu padi, kian berisi kian merunduk".

Surat keterangan bekerja saya yang merupakan salah satu berkas untuk pemeriksaan tidak disentuhnya dan hanya dilihat sepintas. Sekali lagi dia melakukan jenderalisir, kali ini akan industri dan perusahaan tempat saya bekerja. Sementara transkrip semester pertukaran dan jurusan lain saya tidak dibahasnya sama sekali. Dia hanya terfokus pada salah satu jurusan kuliah saya, penyerangan terhadap watak saya, dan perusahaan tempat saya bekerja.

Tidak hanya itu, yang bersangkutan bahkan menyebutkan bahwa "pihak universitas tidak peduli pada halangan pekerjaan yang dihadapi mahasiswa" dan "kehadiran 75 persen adalah mutlak". Lalu untuk apa meminta beberapa calon mahasiswa untuk membawa surat keterangan bekerja? Dengan kata lain dia mengamini bahwa program ekstensi memang ditujukan untuk mereka yang gagal masuk program reguler dibandingkan mereka yang sudah punya pekerjaan dan ingin beralih bidang.

Sungguh sebuah keangkuhan dalam pelayanan publik yang tidak optimal.

Bersambung...