9/13/2015

Program Ekstensi dan Kengawuran Pihak Fakultas & Panitia (2)

11 Agustus 2015 (lanjutan)
Usai pelecehan verbal yang saya alami, pria itu menyuruh saya berhadapan dengan rekan kerjanya yang akan mewawancarai saya di ruangan yang berbeda. Saya dipersilakan masuk ke ruang kerja rekan kerjanya. Saya tidak akan menilai kerapian ruang kerja tersebut karena beberapa ruang kerja dosen di alma mater saya ada yang jauh lebih berantakan.

Agak keluar dari topik bahasan tapi jika Anda melihat bahwa ruang kerja dosen yang Anda hadapi rapi, berhati-hatilah! Dia mungkin saja berusaha menyembunyikan kelemahannya agar tidak dinilai oleh lawan bicaranya melalui berkas-berkas yang bertebaran di ruangannya. Bukan tentang apakah dia orang yang rapi atau tidak tapi penilaian dari muatan berkas-berkas yang bertebaran tersebut.

Setelah beberapa menit menunggu, rekan kerjanya akhirnya masuk ke ruangan dan melihat ijazah saya. Dia lalu baru merapikan mejanya. Hal ini membuat saya bertanya-tanya apakah calon mahasiswa pertama yang diperiksa berkas-berkasnya dan diwawancara tidak berhadapan dengan orang yang saya hadapi ini? Dari hasil small talk antara para calon mahasiswa non-reguler ber-SKS dan pelecehan verbal sebelum saya masuk ke ruangan tersebut diketahui bahwa calon mahasiswa pertama dan pelaku pelecehan verbal sama-sama berasal dari Karangasem.

Tak lama berselang, saya disuruh keluar ruangan karena orang kedua yang harus saya hadapi ini kehadiran tamu pegawai pemerintahan. Saya disuruh menunggu di ruang tempat pelecehan verbal terjadi. Kesan yang saya tangkap? Sungguh tidak profesional. "Tunggu sebentar," kata pria pelaku pelecehan verbal pada saya sembari memeriksa berkas-berkas calon mahasiswa berikutnya. Kali ini dia mengatakannya dengan nada yang manusiawi.

Beberapa menit menunggu orang kedua kembali dan orang pertama mengungkapkan kebingungannya kepada rekan kerjanya yang baru kembali akan ijazah calon mahasiswa ketiga yang tidak memiliki latar belakang  perkuliahan. Dengan kata lain calon mahasiswa ketiga ini seharusnya mendaftar program non-reguler dan bukan non-reguler ber-SKS. Semakin banyak red flag yang saya dapatkan. Mereka sama sekali tidak memeriksa berkas-berkas pindaian para calon mahasiswa dan pria pelaku pelecehan verbal ini adalah orang oportunis yang menggunakan kesempatannya berhadapan dengan saya untuk melakukan pelecehan verbal, mungkin untuk menutupi kurangnya kepercayaan dirinya.

Saya kembali masuk ke ruang kerja berantakan tersebut dan walaupun orang kedua ini jauh lebih baik daripada rekan kerjanya, dia juga memiliki sisi buruknya. Dia menilai seseorang dari nilai-nilai pada transkrip. Jujur saja, perguruan tinggi Swiss di mana saya mengikuti program pertukaran selama satu semester sama sekali tidak menilai saya dari nilai-nilai saya di alma mater saya. Begitu pula ketika saya kembali, pihak fakultas alma mater saya tidak menilai saya dari nilai-nilai yang saya dapatkan di perguruan tinggi Swiss tersebut. Kedua perguruan tinggi juga memperlakukan saya layaknya orang dewasa, bukan anak kecil yang masih memerlukan tuntunan. Baik perguruan tinggi Swiss dan alma mater saya berada di daftar 200 perguruan tinggi terbaik di dunia - hal yang juga sengaja tidak saya sebutkan saat berhadapan dengan mereka karena ini bisa saja semakin menyulut kebencian mereka pada saya dan mengejawantahkan saya sebagai orang yang sombong.

Pria ini lalu meminta saya untuk datang satu jam lebih awal ke tempat ujian keesokan harinya dari apa yang tertera pada jadwal. Dia juga menyuruh saya untuk mencetak tanda bukti pendaftaran saya dengan warna karena tanda bukti pendaftaran saya hitam putih. Dia lalu pergi ke aula di mana para calon mahasiswa non-reguler berkumpul didampingi salah satu orang tua mereka.

Sekitar pukul 11.30 saya kembali ke gedung fakultas untuk menyerahkan salinan berkas-berkas kepada orang kedua ini yang katanya "jika tidak diserahkan saya dianggap tidak hadir" sekalipun saya sudah menandatangani dua berkas bukti kehadiran saat berhadapan dengan rekan kerjanya si pelaku pelecehan verbal. Dan bukankah berkas-berkas yang diperlukan sudah dipindai melalui platform daring saat pendaftaran? Apakah panitia menghapus semua berkas-berkas para calon mahasiswa sebelum pertemuan?

Orang kedua ini tidak berada di ruangannya dan saya harus menunggu. Tamu-tamu pegawai pemerintahannya juga masih menunggu. Saat dia menunjukkan batang hidungnya di dekat ruang kerjanya, saya bergegas memberikan salinan berkas-berkas yang dia perlukan. Saat saya melangkah meninggalkan gedung fakultas, saya memperhatikan lima dari enam calon mahasiswa non-reguler ber-SKS berkumpul. Salah satu rekannya masih berhadapan dengan pelaku pelecehan verbal. Mereka berenam berasal dari Yogyakarta dan sudah mengenyam gelar D3 dari salah satu PTN Yogyakarta di jurusan yang sama dengan program yang hendak mereka masuki ini. Dari raut muka salah satu dari mereka, saya menduga dia juga mengalami pelecehan verbal.

Saya mempercepat langkah saya karena harus menghadiri rapat di Ubud.

Bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar