9/26/2015

Program Ekstensi dan Kengawuran Pihak Fakultas & Panitia (3)

12 Agustus 2015
Saya tiba di kampus perguruan tinggi sekitar pukul 08.00. Pada bukti pendaftaran tertera bahwa Tes Potensi Akademik seharusnya baru dimulai pada pukul 08.30. Saya sempat mengalami kebingungan karena kampus tidak dilengkapi dengan peta sehingga saya harus bertanya pada petugas pengaturan lalu lintas perguruan tinggi.

Saat saya tiba di gedung yang tepat saya segera mencari ruang ujian saya yang tidak tertera di bukti pendaftaran. Saya akhirnya menemukan ruang tes saya. Informasinya tertera di beberapa lembar kertas yang ditempel di jendela dekat pintu masuk gedung. Belum pukul 08.30 dan peserta lain sudah terduduk mengerjakan soal tes. Mungkinkah ini yang dimaksud oleh pria yang mewawancarai saya sehari sebelumnya - hadir satu jam lebih awal dari apa yang tertera pada bukti pendaftaran?

Saya langsung duduk dan mulai mengisi lembar jawaban dengan informasi pribadi. Saat saya mengerjakan soal, saya merasa banyak pertanyaan yang aneh.

Soal kedua memiliki kesalahan pengejaan. Subyek pada kalimat kedua soal tersebut juga rancu. Soal kelima saya rasa lebih parah. Sebuah perguruan tinggi masih membanding-bandingkan siapa yang lebih pandai ketika makna pandai sendiri agak rancu, apalagi jika konteksnya tak diketahui.

Begitu pula dengan soal 21 dan 25 yang pilihan jawabannya tertukar. Dan soal 44 yang tidak memiliki jawaban yang benar sama sekali. Bagaimana mungkin hasil kuadrat dari (275+65) tidak 112.600 yang merupakan hasil kuadrat dari bilangan 340? Yang ada justru 4.500 yang merupakan hasil dari 275+65x65 - hanya bilangan 65 yang dikuadratkan.

Saya sempat mengangkat masalah tertukarnya pilihan jawaban soal 21 dan 25 kepada pengawas. Setelah menghilang bermenit-menit pengawas kembali dan mengatakan bahwa pilihan jawaban tak mungkin ditukar dan kunci jawaban pihak panitia akan tetap menjadi acuan pemeriksaan soal-soal tes.

Apakah perguruan tinggi ini lebih menilai hasil daripada proses? Bukankah inilah salah satu masalah terbesar yang dihadapi dunia pendidikan di Indonesia? Perguruan tinggi berarti merupakan bagian dari masalah, bukan penyelesaian.

Dan tahukah Anda bahwa naskah soal uijan ini seharusnya dikembalikan kepada pengawas? Namun peserta diizinkan membawa pulang sehingga saya bisa memotret soal-soal yang bermasalah.

Tes pertama selesai pada pukul 10.00 disusul dengan rehat 30 menit sebelum dilanjutkan dengan Tes Kemampuan Dasar berdurasi satu jam. Keganjilan semakin terasa. Tes kedua ini terdiri atas soal-soal matematika yang lebih rumit, soal-soal bahasa Indonesia (yang juga banyak terjadi kesalahan pengejaan), dan soal-soal bahasa Inggris (berbentuk substitusi kata yang jika disubstitusi beberapa kalimat memiliki makna berbeda dari kalimat asli). Lebih dari 50 soal dalam satu jam? Bahkan seorang pengawas berkomentar bahwa ada kemungkinan terjadi kesalahan penjadwalan yang mana Tes Kemampuan Dasar seharusnya berdurasi lebih lama karena hitungan matematika pada tes tersebut harus menggunakan rumus kompleks.

Usai tes saya menemukan selebaran mempromosikan salah satu lembaga pendidikan di helm saya. Siangnya saya kembali bekerja.

Bersambung...



Berikut beberapa soal bermasalah yang saya sebutkan di atas (klik pada gambar untuk memperbesar):


Tidak ada komentar:

Posting Komentar