10/10/2015

Kelanjutan

Empat pos terakhir saya dibingkai dalam satu tema yang sama dan menjadi sebuah seri. Namun rasa penasaran akan kejadian (yang tak mengenakkan dan terkesan surreal) tersebut tak berakhir begitu saja. Apalagi kalau itu menyangkut lembaga publik yang mendapatkan dana dari uang pajak yang saya bayar.

Saya melakukan penelitian melalui Google (yang juga pemilik dari platform ini). Hasil penelitian saya menunjukkan bahwa orang pertama yang saya temui pada sesi "wawancara" (cum pelecehan) adalah rektor dari perguruan tinggi tersebut. Saya menduga dia seharusnya memberikan beberapa patah kata pada calon mahasiswa dari jalur non-reguler (non-SKS alias baru lulus SMA). Andai kata benar dia adalah si rektor yang memiliki gelar berderet-deret, sungguh hina dan munafik sekali dirinya.

Kalau dia benar-benar serius atas tuduhan yang dia lontarkan pada saya, dia seharusnya sudah menuliskan beberapa artikel di surat kabar atau jejaring sosialnya tentang isu-isu yang dia tuduhkan (contoh: nasionalisme di kalangan muda). Dia cukup aktif di jejaring sosialnya dan jejaring sosialnya bersifat umum tapi tidak ada satu patah kata pun selama bulan Agustus hingga kini yang mengangkat tentang isu-isu yang dia lontarkan (tak harus mengenai saya tapi dengan cara-cara yang mungkin lebih sublim). Apakah dia sebetulnya menekan saya agar memberikan uang sumbangan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kelanjutannya?

Ucapan-ucapannya di media pun terkesan terlalu berhati-hati. Dalam isu korupsi yang melibatkan fakultasnya, dia hanya memberikan pernyataan bahwa dia sudah mendengar kabar bahwa terduga telah dipanggil KPK dan pihak perguruan tinggi akan memberikan bantuan hukum. Tidak ada satu patah kata pun mengenai pemberantasan korupsi dan bahaya korupsi terhadap bangsa (atau perguruan tinggi). Begitu pula dengan isu reklamasi yang mana dia sebenarnya tidak menambahkan informasi yang berarti. Saya tidak akan membahas mengenai sengketa lahan yang dihadapi perguruan tingginya.

Kata sambutannya di web perguruan tingginya pun memiliki beberapa kesalahan. Sementara web fakultas yang hendak saya masuki sebetulnya disusupi bahasa asing dan dia tidak mengomel mengenai hal tersebut. Justru mengomeli saya yang dianggapnya berbahasa Indonesia buruk. Gajah di depan mata tak tampak, kuman di seberang lautan tampak.

Saya berharap dugaan saya salah tapi saya skeptis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar