11/08/2015

German Cinema 2015

A photo posted by Bram (@bramwas) on
Ini adalah tulisan yang terlambat karena acara berlangsung dua bulan yang lalu. Goethe Institut kembali mengadakan festival filmnya di Bali dari tanggal 17 hingga 19 September dan tahun ini pindah lokasi pemutaran film ke Beachwalk XXI walaupun masih dipanitiai oleh tim Bentara Budaya Bali layaknya tahun lalu.

Saya sempat mengalamai masalah saat mendaftarkan diri untuk mendapatkan karcis. Ada tujuh pemutaran yang dapat saya hadiri namun setelah mendapat tahu via email slot untuk dua pemutaran sudah habis. Alhasil, saya hanya mendaftarkan diri untuk lima pemutaran yang masih ada namun saya hanya mendapatkan konfirmasi via SMS untuk dua pemutaran (dua-duanya ialah pemutaran pada hari terakhir). Saya go-show pada dua pemutaran hari pertama dan berhasil mendapatkan karcis. Hari kedua saya tidak hadir karena slot yang masih ada hanya untuk pemutaran pukul 21.00 pada hari Jumat. Saya malas berurusan dengan lalu lintas sore Kuta menjelang akhir pekan dan rumah saya memang jauh dari Kuta.

Kabar dari mahasiswi Jerman yang magang di kantor saya, dia berhasil mendapatkan karcis untuk pemutaran Jumat pukul 19.00 yang katanya habis hanya dengan go show. Saya tidak menelusuri klaimnya lebih lanjut.

Berikut ringkasan film yang saya tonton.

Auf das Leben!
Drama dengan pesan sosial yang agak dipaksakan

Phoenix
Wanita naif yang akhirnya menyadari kebusukan mantan suaminya - film terbaik yang saya tonton selama perhelatan acara ini di Bali

Die Böhms
Saya rasa judul film ini dalam bahasa Inggris adalah yang paling mengena - keluarga arsitek pecinta beton. Sayangnya, saya kurang menyukai arsitektur brutalis oleh karena itu tidak begitu mengapresiasiasi 'keindahan-keindahan' yang disuguhkan kepada para penonton.

Mungkin sebagian dari pembaca sudah tahu bahwa saya menempuh pendidikan tinggi di Brisbane, Australia - kota yang estetikanya hancur akibat arsitektur brutalis (contoh: Cultural Centre precinct dan beberapa bangunan pencakar langit milik pemerintah negara bagian dekat Parliament House) dan mungkin dari sanalah saya belajar untuk membenci brutalisme.

Saya menonton film ini dengan beberapa kolega saya dan mereka tidak terlihat tergugah pula.

Der Bunker
Rocky Horror Picture Show ala Jerman

Ada satu ucapan menarik dari perwakilan Goether Institut yang memberikan kata sambutan sebelum penayangan - "... tampang pas-pasan." Saya rasa keindahan itu relatif di mata setiap orang dan  saya agak kurang senang dengan ucapan tersebut. Orang yang saya anggap biasa-biasa saja bisa saja dipandang orang lain sebagai orang tampan dan begitu pula sebaliknya. Walaupun saya mendeteksi ada upaya untuk membuat ucapan yang agak politically correct dari wanita tersebut dan itu patut diapresiasi.

Catatan: Pos-pos baru di blog ini tidak akan diberikan label lagi.